" Ma, dimana lu? " terdengar ucapan Diandra dari kejauhan.
" Assalamualaikum ibu Diandra. Gimana kabar hari ini?" balas Rama.
" Eh, orang nanya itu dijawab Ma. " sahut Diandra sedikit kesal. Baru hari ini ia masuk kerja dan kubikel Rama kosong. Barang-barangnya tidak ada.
" Mbok ya dijawab waalaikumsalam dulu gitu lho. Inimaaih pagi nelpon udah sewot aje. Udah sarapan apa belom nih? "
" Waalaykumsalam bapak Rama yang terhormat. Udah ah cepetan. Lu lagi dimana? Kenapa tempat lu kosong? "
" Gw.. " belum selesai Rama ingin menjelaskan sudah dipotong oleh Diandra.
" Ah parah banget lu. Udah ketemuan aja deh ya pagi ini sekalian sarapan bareng. "
" Ih, anak ajaib bernama Diandra ini jalan pikirannya sulit ditebak sekali. Lu baru cuti kan? Dapet izin pak bos keluar? "
" Udeh. Cincai lah itu. Gw nambah cuti hari ini. Cuma ya emang lagi mau ke kantor sebentar aja. Perasaan gw ngga enak. Lu ngga ada kabar kabar selama gw cuti. "
" Hehe. " hanya itu yang bisa Rama jawab. Di luar dugaan dirinya. Diandra mengajak ketemu duluan dan lebih cepat. Padahalia sudah berencana untuk menghubungi Diandra lebih dahulu.
" Di tempat biasa ye Ma. Jam delapan. Gw tunggu. Awas lu sampe ngga dateng. Gw samperin ke kostan lu. " ancam Diandra
" Yang bener aja jam delapan di tempat biasanya sih ok ya. Mon maap ni ibu sekarang jam berapa? Dipikirnya gw punya pintu doraemon kali. "
" Nah itu gw juga mau. Dah cepet lu siap-siap sekarang ya. Gw udah di jalan."
" Iye yee. Kalo gw balesin lu mulu kapan gw siap-siapnya."
" Oya bener juga. Tiati ye Ma. See you. "
" You too 😊. " pesan terakhir Rama dengan emotikon senyum. Ketika Diandra membaca balas chat terakhir perasaan kurang enak itu semakin menguat. Anak ini ngga biasa-biasanya manis dan romantis gini, segala ada emotikon senyum pula.
Baru saja duduk di kursi tempat janjian dengan Rama, Diandra mendapat telpon dari nomor tak dikenal. Siapa lagi ini, batinnya.
" Hallo, dengan ibu Diandra. " sahut penelpon dengan suara tegas.
" Iya betul pak. Maaf ada keperluan apa ya? jawab Diandra ragu.
" Kami ingin mengabarkan teman ibu bernama Rama Permana mengalami kecelakaan. Tertabrak mobil ketika hendak menyebrang jalan. "
" Baik pak. Posisinya di rumah sakit mana ya? " jawab Diandra seolah tegar.
" Posisi rumah sakit tidak jauh dari cafe seruni bu. Mohon untuk kedatangannya segera ya bu. Terima kasih dan hati-hati di jalan." balas penelpon.
" Baik pak. Terima kasih. Saya segera ke rumah sakit sekarang. "
Diandra hampir pingsan mendengar berita kecelakaan Rama. Berarti kecelakan yang tadi ia lihat sebelum masuk cafe itu adalah Rama. Ia tidak berpikir korban itu adalah Rama, temannya. Posisi lampu orang menyebrang sudah hijau tapi ia melihat ada mobil nelaju dengan kecepatan tinggi melintas dan menabrak para pejalan kaki, yang ternyata salah satu korbannya adalah Rama.
Diandra masuk ke dalam ruang ICU rumah sakit tempat Rama masih berbaring tak berdaya. Ada banyak peralatan medis yang menempel di tubuhnya guna mendapatkan perawatan terbaik. Diandra duduk di sampinya, berdoa dan sambil memegang tangannya. Berharap ia segera pulih dan bisa bercerita tentang alasan pengunduran dirinya.
" Ma, inget ngga sih pertama kali kita ketemu itu di tempat wawancara di perusahaan tempat gw kerja sekarang. Iya udah bukan kita lagi Ma, karna lu udah resign. Resign mendadak ngga bilang bilang lagi alesannya kenapa ke gw. Ma, dari awal kita ketemu sebenernya gw udah bisa ngerasain ada hal yang berbeda dari lu dan kebanyakan cowo di luar sana. Lutampak dingin tapi sebenernya menyimpan misteri. Ada sesuatu yang lu tutupi dan lu jago banget nutupinnya. Lu selalu ceria dari awal kita ketemu. Ma, plis bangun ma. Gw mau dengerin cerita lu. Gw mau kita main bareng lagi. Gw mau denger suara ketawa lu. Gw mau lu nemenin gw kemana pun gw pergi. Ya walaupun gw ngga pandai baca maps, salah belok atau kelewatan dikit ngga papa ya Ma. Cuma lu orang paling sabar jalan sama gw, mba-mba golonga dua belas persen ngga bisa baca maps dengan bener. Ma, plis yaa. Gw ngga tau kalo ngga ada lu harus cerita sama siapa lagi. Ma, bangun yaa plis. Gw berharap banget lu bisa segera pulih dan sembuh Ma. " tanpa sadar Diandra mengucapkan itu dan meneteskan air mata mengenai telapak tangan Rama.
Menjelang subuh tangan Rama bergerak sedikit dan matanya meneteskan air mata mengenai rambut Diandra yang ternyata sudah terlelap karna letih bercerita sendiri di sampingnya. Sedikit saja gerakan tangan mengusap rambut Diandra. Ia berkata lirih " Maaf ya Ndra. "
Diandra terbangun karna suara alat detak jantung berbunyi nyaring. Nit panjang sekali disertain garis lurus di layar alat detak jantung Rama. Ia panik dan segera menekan tombol panggilan perawat. Perawat dan dokter jaga datang dengan segera dan menghampiri. Mencoba untuk melakukan pertolongan yang terbaik. Diandra diminta untuk menunggu di ruang tunggu. Apapun hasilnya gw ikhlas Ma, batin Diandra di saat yang bersamaan melepas tangan Rama.
Sesampainya di kota tujuan, ia langsung menuju masjid terdekat untuk melaksanakan solat Jumat. Ia sampai stasiun sekitar jam sebelas. Masih ada waktu menuju masjid karna adzan dzuhur saat itu pukul 12.09. Cahaya matahari siang ini cukup terik sekali.
" Sak, udah sampe? " chat masuk ke dalam telpon genggamnya lalu segera ia balas.
" Iya nih udah. Di Tugu ya. Di pintu keluar. " balas Sakti
" Tugu? Kamu baru bilang e. "
" Lho, memang kamu dimana? "
" Aku udah standby tiga puluh menit yang lalu di Lempuyangan. "
" Owalah, maaf. Aku ngga ngeh liat tiketnya. "
" Sek yo tunggu aku tak ke situ. Diem aja ya. Jangan kemana- mana! "
" Iyo, tiati. Ku tunggu. "
Seketika Sakti terbangun dari mimpinya dan tersadar sudah sampai di stasiun tempat ia akan melakukan perjalan bisnis dari kantornya. Bersyukur bahwa apa yang ia alami tadi itu hanyalah bunga tidur semata. Ia menyadari bahwa mimpinya kali ini sangat rumit sekali. Ia seperti masuk ke dalam mesin waktu yang membawa ke masa depan dan masa lalu. Alurnya maju mundur seperti cerita novel yang sedang ia baca. Banyak pula menguras emosi di dalamnya. Ada luka batin dan bagaimana cara untuk berdamai serta menerima luka tersebut. Sampai ia berpikir rasanya menyenangkan sekali menjadi seekor ikan mas saja. Ikan mas merupakan hewan paling beruntung karna hanya menyimpan memori kenangan dalam waktu sepuluh detik saja. Ia mau jadi ikan mas untuk melupakan hal - hal kurang mengenak saja dalam hidupnya. Untuk hal baik ia mau selalu mengenangnya.