6 dari 9 (kerja praktek)
Sudah minggu ke enam dari Senin pertama aku menghabiskan hari-hari di depan meja kerja di sebuah kantor yang berlokasi di jantung Kota Yogyakarta. Kehidupan kantor, ya itu yang aku dapatkan dari setengah lebih perjalanan kerja praktekku. Mengalami rutinitas, dari Senin sampai Jumat, delapan jam dalam ruangan ber-AC, dikurangi sekitar 30 menit menghirup udara di luar ruangan, untuk sekedar mencari makan siang. Rasanya hari-hari bisa berlalu sangat cepat, tapi terkadang waktu melambat, dan satu minggu rasanya enggan sekali untuk berlalu.
Apakah ini yang dinamakan kerja?
Datang pukul 8 tepat, menyeduh segelas teh, kopi, atau susu dari pantry kantor, menyeruputnya pelan, lalu menuju meja kerja. Rutinitas kemudian berlanjut dengan duduk di depan sebuah meja, memandangi layar laptop untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan, dan sesekali mencari hiburan dengan menenggelamkan diri di dunia maya, mencuri-curi obrolan santai di media sosial, atau sekedar membaca berita-berita picisan yang entahlah bagaimana kebenarannya. Jam hampir menunjukkan pukul setengah 12, tinggalkan pekerjaan sejenak, menghirup udara di luar sana sambil mencari makan siang, lalu kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan, yang terkadang sisa hari itu dihabiskan dengan terkantuk-kantuk kebosanan, atau karena kekenyangan habis makan siang. Lalu jam menunjukkan pukul 4 sore, jam kerja habis. Akhirnya, kaki ini bisa melangkah keluar ruangan ber-AC dan mata ini bisa lepas dari cengkraman radiasi sinar laptop yang telah memboikot selama hampir 8 jam.
Monoton, ya?
Tidak juga. Kantor tempat kerja praktekku ini selalu mengadakan rapat rutin seminggu dua kali. Dua hari dalam seminggu inilah yang menjadikan rutinitas tadi sedikit memiliki irama. Dua hari inilah akhirnya membebaskan aku dari jerat kemonotonan yang ada. Rapat koordinasi bla bla bla, rapat penanganan bla bla bla, rapat….ya pada intinya rapat bisa menjadi sesuatu membelakkan mata dan menunjukkan bagaimana dunia nyata sebenarnya berjalan. Ada saja hal baru yang dapat ditemukan dalam rapat yang selalu ngaret satu jam lantaran pihak-pihak yang diundang rapat telat hadir, dan berakhir biasanya ketika jam kerja sudah habis. Meskipun hanya menjadi penonton sepanjang rapat berlangsung, banyak hal yang dapat dipetik dari sebuah rapat.
Hari ini rapat ke-sekian-kalinya semenjak jadi mahasiswa magang kerja praktek, dan aku melihat bagaimana jadinya ketika pemerintah, swasta, dan masyarakat duduk bersama untuk membahas suatu permasalahan. Ditambah dengan koordinasi antar wilayah, yang memang menjadi jiwa dari seluruh pekerjaan dalam kantor ini. Menarik! Mendudukkan mereka semua dalam satu ruangan, sementara aku menjadi penonton. Bagaimana kemudian ketiga pihak ini bersikap, masyarakat yang menuntut, pemerintah yang masih perlu berkoordinasi, dan swasta yang pandai berkelit. Hari ini aku belajar, ya, inilah dunia nyata, yang bukan sekedar tulisan-tulisan serta diagram yang selalu kulihat setiap harinya di kelas.
Setidaknya, dalam jerat kemonotonan yang ada, masih ada hal baru yang dapat dipelajari. Setidaknya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, meskipun terkadang terlalu membosankan 8 jam sehari berada di depan layar laptop. Setidaknya, aku masih dapat bersyukur, takdir akhirnya menempatkan aku di tempat ini, dengan hal-hal yang membuka mata dan pikiran, tentang bagaimana teori-teori di kelas berjalan dalam dunia nyata.
Masih ada tiga minggu sebelum semuanya berakhir. Masih ada hari-hari yang akan diisi dengan mencoret tangal demi tanggal di kalender sampai akhirnya aku kembali ke Bandung. Masih ada setumpuk peta Yogyakarta, Bantul, dan Sleman yang perlu diolah. Masih ada analisis yang perlu dikerjakan. Dan masih ada presentasi di hadapan pemerintah nanti saat kerja praktek ini berakhir.
Senin sampai Jumat, 8 jam sehari.
Semoga aku bisa merindukan rutinitas ini kelak.










