Di kampung kami, baju seragam sekolah berwarna putih terang hanya untuk adik kelas satu.
Selebihnya baju kami berkamuflase menjadi warna putih tulang atau sedikit kebiruan.
Berkat "blue" (dibaca : blau), warna putih tulang itu naik ke putih kebiruan.
Kami juga dengan senang hati membawa bekal makanan walau berkotak bekas es krim ternama. Yang bawahannya putih bening, atasnya merah. Mirip warna baju sekolah.
Bekal itu berbalut kresek hitam, melindungi buku yang akan berdampingan dengannya di dalam tas.
Masa-masa dimana menjadi apa adanya adalah bawaan lahir.
Hidup bebas menjadi diri sendiri, semesta mendukung.
Kami juga belum mengenal "geng" kala itu.
Hanya saja kami secara alami lebih suka memisahkan diri antara perempuan dan laki-laki.
Kami bermain tali, boneka atau tamagochi, mereka dengan truk kayu atau tamiya-nya.
Mungkin hari itu jendela dunia tanpa filter belum ada.
Kami belum terkontaminasi.
Sekarang semua bebas akses tanpa ada usaha preventif sebelumnya.
Lalu "kesalahan" merebak.
Mereka mulai menjawab enteng kata orang tua, seperti "dia" di chanel favoritnya.
Pun juga mulai sinis tak menghargai, seperti tokoh dewasa di sebuah drama.
Mulai tak bersyukur, setelah melihat dunia palsu seleb di HPnya.
Juga tak malu mesra menjalin kasih saat belia, karena mereka punya "couple goals".
Mungkin jika hari ini mereka berbekal bekas kotak es krim. Anak sekolah dasar itu akan merengek pada orang tuanya.
Kawan, mungkin dunia sudah mengira ceroboh adalah bagian dari kebebasan, keliru besar.
Semua hal tidak ada yang boleh overdosis. Ada porsi dan kala waktu. Ada dosis anak, pun juga dewasa, tak sama.
Apa jadinya jika porsinya sama?
Kita akan kehilangan satu generasi.