Curug Cileat is a beautiful waterfall located in Subang, West Java,

seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Chile

seen from Austria
seen from Germany
seen from Argentina

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Australia
seen from Türkiye
Curug Cileat is a beautiful waterfall located in Subang, West Java,
Curug Cileat Waterfall, a beautiful waterfall in Subang, West Java,
Curug tinggi di subang (cileat)
Curug Cileat,Surga Kecil di Subang Selatan
12 Juni 2017
Edisi : #Exploresubang
Halo bray, kali ini saya bersama 5 orang rekan saya akan menceritkan pengalaman berpetualang ke curug cileat yang berada di kawasan Subang, Jawa Barat. Kalo berbicara mengenai tempat wisata di Indonesia pastinya banyak bray. Nah karena saya kebetulan tinggal dan lahir di Bandung yang lumayan dekat dengan Kota Subang banyak sekali tempat wisata yang harus diexplore salah satunya Curug Cileat yang berada di Subang. Jarak Subang-Bandung tidak teralu jauh. Oleh karena itu kami memutuskan kesana.
Rabu, 7 Juni 2017
Petualangan ini sudah direncanakan beberepa minggu sebelum keberangkatan. Beberapa diantara kami pun sudah ada yang pernah kesana jadi sudah terbayang estimasi perjalanannya,tempat camping dan informasi-informasi lainnya. Pada saat kami merencanakan keberangkatan bertepatan dengan bulan Ramadhan yang berarti kami harus berpetualang sambil melaksanakan ibadah puasa. No Problem hehe
Rencana kami adalah bermalam 1 hari dan berbuka serta sahur di saung Paniisan Abah Danu kemudian melanjutkan perjalanan esok hari untuk mengejar pelangi di curug cileat. Setelah saya pulang kuliah,kami pun berkumpul dan bersiap untuk packing. Singkat cerita kami berangkat pukul 14.00 dari Bandung menuju Subang. Sekedar informasi,lokasi tepat Curug Cileat ini berada di Desa Cibago Kecamatan Cisalak, Subang kurang lebih 40 km dari rumah saya di Bandung menurut Google Maps hehe. Jika dari arah Bandung kalian tinggal berkendara ke arah Ciater. Kemudian belok kanan di jalan cagak subang dan lurus hingga menuju pertigaan yang terdapat patung nanas. Dari pertigaan patung nanas pilih jalan ke arah Sumedang. Nanti kalian akan melewati pabrik aqua,dari sini desa cibago sudah dekat. Setelah melewati pabrik aqua lurus terus mengikuti jalan pelan-pelan. Di sebelah kanan jalan terdapat plang “astronaut” yang menandakan arah ke curug cileat. Nah kemudian belok kanan dan ikuti jalan menuju ke Desa Cibago. Perjalanan hingga ke pintu gerbang curug cileat berjarak 6 km dari jalan raya dengan jalan bervariasi. Mulai dari aspal,jalan berbatu,hingga jalan tanah. Namun di sepanjang perjalanan terdapat sawah-sawah warga yang memanjakan mata. Dinikmati saja perjalanaannya hehe
Setelah kurang lebih 2,5 jam berkendara karena sempat salah belok dan kesasar karena lupa jalan akhirnya kami tiba di pintu gerbang Curug Cileat. Disini kami memarkikan kendaraan kami dan membayar uang parkir Rp. 15.000/motor (blm termasuk tiket masuk). Tiket masuk curug yaitu Rp. 10.000 (untuk wisata) dan camping ditambah Rp. 10.000. Sehingga biaya yang dikeluarkan yaitu Rp. 35.000. Menurut saya ini cukup mahal karena tidak sebanding dengan akses jalan menuju curug yang kurang baik. Seharusnya harga Rp. 25.000 cukup manusiawi untuk explore curug,parkir dan camping. Dari pintu gerbang sekitar pukul 5 sore, kami mulai melangkahkan kaki kami menuju Paniisan Abah Danu. Lama perjalanan kurang lebih 2 jam jika langsung ke curug. Jika menuju Paniisan Abah Danu dibutuhkan kurang lebih 1 jam. Perjalanan dimulai dengan melewati persawahan warga dan aliran aliran sungai kecil. Kemudian masuk ke hutan belantara dengan jalan menanjak yang menguras tenaga di kaki Gunung Canggah Subang. Hutan ini masih alami. Jalur setapak yang kami lalui pun kadang tertutup rimbunnya tumbuhan. Menurut warga sekitar,bahkan masih terdapat banyak “maung” dan ular yang besarnya sagede awi gombong (kira kira sebesar paha orang dewasa). Oleh karena itu kami mempercepat perjalanan agar segera sampai ke saung. Karena hari sudah terlalu sore kami pun berbuka puasa di jalan setapak menuju curug. Sepanjang perjalanan kalian akan menemukan 3 curug sebelum ke curug Cileat menurut mbah google. Namun yang kami lewati rasanya ada 2 mungkin karena hari sudah menjelang malam sehingga curugnya tidak begitu terlihat.
Curug yang pertama yaitu Curug Citorok. Curug ini tidak terlalu tinggi namun cukup lumayan untuk sekedar beristirahat dan merasakan kesegarannya.Setengah jam dari base camp. Kedua adalah curug Cimuncang. Jika sudah sampai sini artinya sudah dekat dengan saung Paniisan Abah Danu tujuan kami. Kami pun menambah kecepatan jalan kami dengan penuh semangat dan sampailah di saung.
*Saung Paniisan Abah Danu
Singkat cerita kami pun bermalam,beristirahat,memasak dan sahur di sana kemudian bersiap menuju Curug Cileat esok pagi.
Kamis,8 Juni 2017
Setalah sahur dengan nikmat ditemani coklat panas dan dinginnya shubuh,kami pun solat shubuh lalu tidur sejenak. Sekitar pukul 07.00 kami bergegas packing dan bersiap menuju tujuan utama kami. Carrier kami tinggalkan di saung dan kami titipkan ke Abah Lili berhubung jika membawa carrier akan menguras banyak tenaga. Dengan berbekal baju ganti langsung dicawkeun menyusuri hutan. Jalan yang dilewati sangat sangat ekstrim. Sebelah kiri kami merupakan jurang yang dalam kira2 40 m ke bawah. Lamun tisoledat tamatlah riwayat. *asli teu bohong .Sebelah kanan merupakan tebing yang tinggi diselingi pohon pohon yang rimbun. Intinya kita harus selalu berhati-hati dalam melangkah dan penuh perhitungan. Setelah menempuh kurang lebih 45 menit akhirnya kami tiba di surga kecil ini.
DAAAAN TARAAA !
Dan setelah puas mengexplore Curug Cileat kami pun kembali ke Paniisan Abah Danu,mengobrol panjang lebar bersama Abah Lili mengenai sejarah dan pengelolaan wisata curug lalu kemudian bergegas pulang kembali ke Bandung.
Bagi saya,semakin kita sering berkunjung ke alam baik itu naik gunung,ke pantai,air terjun atau masuk hutan maka rasa cinta saya terhadap alam akan semakin bertambah. Kalau sudah cinta mah bagaimanapun pastinya akan selalu kita jaga dan rawat. Karena bersama alam kita akan menemukan kedamaian. Banyak hal-hal yang lebih berharga dari sekedar jepretan kamera 20 MP atau rekaman video kualitas 1080p,yaitu kedamaian dan ketenangan. Karena hanya sukma kita yang dapat merasakannya meninggalkan serpihan rindu-rindu yang tersisa memanggil untuk cepat kembali bersua.
Terima Kasih,Alamku
A post shared by 5 Dzul Hijjah 1416 H. (@fikriabidin23) on Jun 7, 2017 at 7:06am PDT