Catatan Seorang Demonstran
Akhir-akhir ini, segenap mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia baru saja melakukan aksi demonstrasi. Di Yogyakarta sendiri, aksi demonstrasi dilakukan pada Kamis, 20 Februari 2025. Massa yang hadir terdiri dari para mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Yogyakarta. Mereka memulai aksi dari Parkiran Abu Bakar Ali hingga Gedung Agung Yogyakarta dengan melantangkan lagu-lagu mars serta orasi-orasi yang menyulut api semangat. Mereka dengan tegas menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan efisiensi yang, saya rasa, tidak disetujui oleh banyak orang—baik ibu dan bapak, maupun tua dan muda—yang tentu saja tidak sepakat dengan kebijakan yang dicanangkan oleh rezim Prabowo-Gibran. Saya mendukung penuh aksi yang dilakukan rekan-rekan mahasiswa, karena kalau bukan mereka, siapa lagi? Kita sebagai mahasiswa harus berani berkata tidak, jika tidak ingin menjadi budak bagi kepentingan tikus-tikus berdasi yang hanya mementingkan diri sendiri. Dan yakinlah, di saat mahasiswa sedang melakukan aksi, pasti mereka sedang asyik ngorok di singgasana-nya masing-masing. Bukankah aneh, jika mahasiswa justru adem ayem ketika pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan yang kontroversial? Pasti aneh, kan? Menurut saya, jika mahasiswa atau elemen masyarakat lainnya tidak berani untuk bersuara, itu berarti sudah gawat. Daya kritis mereka sudah tumpul, begitu juga dengan semangat mereka yang terpaksa teredam. Kebenaran pasti akan terancam jika pemerintah dengan sekoyong-konyong mengeluarkan kebijakan yang goblok, dan masyarakat atau mahasiswa malah menerimanya begitu saja tanpa perlawanan. "Wes legowo wae." Namun, di Indonesia, perjuangan itu masih ada. Masih banyak orang yang peduli dengan masa depan bangsa ini. Saya sendiri sih optimis, toh pemerintah yang menyatakan bahwa tahun 2045 akan menjadi tahunnya generasi emas di Indonesia. Bagi yang percaya janji pemerintah, monggo silakan. Tapi saya sendiri percaya, karena pemerintah kita ini sebelas-duabelas dengan pemerintah Jepang. Ups.
Ada begitu banyak aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan aktivis yang tersebar di berbagai penjuru daerah. Namun, pernahkah Anda bertanya, siapa yang memelopori aksi demonstrasi mahasiswa pertama kali? Mungkin banyak dari Anda yang tidak mengenalnya. Maka dari itu, izinkan saya memberi tahunya. Ia adalah Soe Hok Gie.
Anak-anak zaman sekarang, saya rasa, sedikit yang tahu mengenai Soe Hok Gie, lantaran kisah tentang kehidupannya jarang sekali tercantum dalam buku-buku sejarah, atau paling tidak namanya dibahas oleh guru-guru. Namun, sedikit sekali yang melakukannya. Saya tahu ia bukan pahlawan nasional, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa masih ada tokoh-tokoh yang lebih penting untuk dicantumkan dalam pelajaran sejarah. Tetapi, satu hal yang perlu kalian tahu adalah, Soe Hok Gie merupakan napas awal Gerakan Mahasiswa dalam memberontak terhadap pemerintahan yang korup di zaman Orde Lama. Ia adalah seorang aktivis ulung, walaupun perawakannya kecil, tetapi keberanian dalam dirinya teramat besar. Ia sungguh menjelma menjadi predator yang siap menerkam pihak mana saja yang merugikan rakyat Indonesia, termasuk Soekarno.
Jujur, kalau ditanya idola saya siapa, saya akan menjawab dua nama, yakni Munir dan Soe Hok Gie. Munir terkenal akan aksi pemberontakan yang ia lakukan di masa Orde Baru, sedangkan Soe Hok Gie terkenal akan aksi pemberontakannya di Orde Lama. Kedua-duanya merupakan pemberani. Kedua-duanya merupakan wakil suara atas mereka yang dipaksa bungkam.
Baik, saya akan menceritakan secara singkat kehidupan Soe Hok Gie dan sedikit dari banyaknya bentuk perlawanan yang ia lakukan.
Soe Hok Gie merupakan pemuda keturunan Tionghoa yang lahir pada tanggal 17 Desember 1942. Perlu kita ketahui, latar belakang kehidupan Soe Hok Gie sangat keras. Di saat ia baru lahir, kekuasaan Belanda atas Indonesia baru saja berpindah tangan ke Jepang. Setelah Jepang pergi, Indonesia kembali diduduki oleh Belanda dan Inggris. Tak lama kemudian, setelah para kolonialis pergi meninggalkan ibu pertiwi dan Indonesia sepenuhnya merdeka, malah Indonesia mendapat ancaman dari dalam negeri, yakni oleh rakyatnya sendiri. Seperti pemberontakan di Madiun, Permesta, DI/TII, RMS, dan masih banyak lagi. Hayo... setahu saya, materi tentang ancaman disintegrasi bangsa ada di kelas 12 SMA semester 2. Saya ingin agar kamu mengingatnya kembali. Singkatnya, tumbuh kembang Soe Hok Gie dari kecil hingga dewasa diiringi oleh peliknya situasi di dalam negeri. Baik susunan pemerintahan yang masih amburadul maupun rakyatnya yang masih gampang dipengaruhi oleh pihak luar untuk segera memberontak. Istilahnya, masih banyak yang bandel. Saya sendiri tidak heran, ya namanya negara baru merdeka, lur, yakali terbebas dari segala bentuk cobaan. Tinggal kita yang pilih, apa cobaan-cobaan tersebut mau dicobain semua? Yo ndak, toh?
Baik, mari kita lanjut. Soe Hok Gie, sejauh yang saya baca, tidak seperti anak-anak keturunan Tionghoa yang lain. Sesuai pengamatan saya, mereka (anak-anak keturunan Tionghoa) sangat gemar dengan hitung-hitungan seperti matematika dan ilmu pasti lainnya. Tetapi, Soe Hok Gie yang kerap disapa ‘Gie’ justru sangat suka terhadap pelajaran seperti sejarah, politik, filsafat, dan ilmu humaniora lainnya. Sejak kecil, ia sudah melahap banyak sekali buku-buku Marx, Aristoteles, Hobbes, Hegel, dan lain-lain. Bayangkan saja, dari kecil ia sudah membaca buku filsafat Yunani klasik yang bahasanya cenderung berat. Bagaimana tidak kritis coba? Di samping itu, kesukaannya membaca karya sastra juga memengaruhi tulisan-tulisannya dan pekerjaannya sebagai jurnalis.
Satu hal yang bikin saya kagum, yakni ketika ia memutuskan untuk kuliah di Fakultas Sastra, program studi Sejarah di Universitas Indonesia. Gila... ia bisa saja masuk Fakultas Ekonomi, Teknik, dan lain-lain. Tetapi, ia malah memutuskan untuk masuk ke Fakultas Sastra. Memang, saya sudah tak heran, musabab kecintaannya akan sastra dan sejarah sudah mengakar begitu dalam. Di jurusan inilah ia kemudian mempertajam daya kritis dan intelektual yang sedari dulu sudah ia asah. Di UI, setahu saya, Soe Hok Gie kerap melakukan perdebatan intelektual bersama mahasiswa-mahasiswa lainnya. Mereka mempertaruhkan idealisme masing-masing dengan cara menyusun argumentasi bak sekokoh Gunung Fuji. Sangat menarik apabila membayangkannya, di mana kampus menjelma menjadi Colosseum khusus para petarung yang bergulat di bidang pemikiran secara akademis.
Dulu, mahasiswa terbagi menjadi dua kutub. Ada yang pro-Soekarno dan ada yang kontra. Semuanya memiliki pandangannya masing-masing. Tapi, saya rasa, Soe Hok Gie mengambil kutub kontra, yakni menentang kepemimpinan Soekarno. Bagaimana tidak? Sosok Soekarno merupakan orang yang harus bertanggung jawab atas hiperinflasi yang terjadi di masa pemerintahannya. Gie dengan tegas menentang Soekarno. Bahkan, ia berani mengatakan bahwa di saat semua harga kebutuhan pokok naik, rakyat sengsara, Soekarno pasti sedang asyik menari-nari bersama istri-istrinya yang cantik nan rupawan. Melihat pejabat joget di saat rakyat sedang sengsara, saya rasa saya baru melihatnya akhir-akhir ini di reels Instagram. Ya, kamu betul, yang saya maksud adalah Bahlul dan kawan-kawan menteri. Kembali ke topik. Gie terang-terangan memberontak lewat tulisan-tulisan yang ia buat, yang terpampang dengan anggun di Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, dan membuat para penguasa seolah gerah, padahal mereka berada di ruangan yang sudah pasti dilengkapi dengan pendingin. Gimana?
Soe Hok Gie mengatakan ia menyukai Soekarno hanya sebagai orang biasa. Kalau pemimpin? Soekarno jauh dari kata 'baik' menurut kacamata Gie. Gie merupakan orang yang image-nya sangat baik di kalangan mahasiswa. Ia merupakan salah satu arsitek yang mengambil peran vital dalam aksi long-march dan demonstrasi besar-besaran tahun 1966, setahun setelah Soekarno lengser. Ia mendapatkan julukan the angry young man karena sikapnya yang terus gelisah melihat keadaan di Indonesia, di mana banyak tersebar orang-orang munafik, terutama mereka yang sedang duduk dalam jamuan makan malam serba mewah di Istana Negara. Dirinya berapi-api ketika mendapati ada seorang yang kelaparan sedang mengais-ngais tong sampah, padahal dua kilometer dari lokasi tersebut, tepat di Istana Negara, ‘Bung Besar’, yakni Soekarno, sedang sibuk menjamu tamu dari negara sana-sini, sementara rakyatnya hampir mati kelaparan. Soekarno tidak sebaik yang kita kira.
Ia merupakan tongkat estafet pertama yang menjadi awal kebangkitan Gerakan Mahasiswa secara nasional, serempak dan menyeluruh. Dan warisan itu, syukurnya, masih ada sampai sekarang. Mahasiswa-mahasiswa masih lantang menyerukan, enggan terpaku diam, melainkan memporak-porandakan rezim yang dianggap zalim. Selama ia kuliah, Gie tidak bergabung sama sekali dengan organisasi berbau politik di kampus. Ia mengatakan bahwa kampus adalah tempat paling suci, di mana tonggak pemikiran segar bermunculan tanpa adanya intervensi dari kepentingan politik. Arus pemikiran di kampus harus murni demi kedaulatan bangsa, lurus, tanpa menyimpang ke kanan dan kiri.
Singkatnya, Soe Hok Gie memiliki pandangan yang teguh atau idealisme sendiri untuk tetap yakin berada di jalan perjuangan, meskipun ia harus kehilangan banyak teman dan orang yang dicintainya. Sejauh yang saya baca, teman-teman Gie banyak menjauhinya, musabab aksi yang ia lakukan sangat barbar. Keberanian yang ia miliki dan keyakinan yang ia pegang membuat posisi teman-temannya, yang notabene orang terdekat Gie, kian terancam karena sudah pasti menjadi sasaran dan masuk ke dalam radar para intel. Saya rasa Gie juga tahu ketakutan teman-temannya dan sudah pasti ia mengikhlaskannya. Sebab, hal itu demi kebaikan orang terdekatnya sendiri.
Teman-teman pembaca, cerita ini sudah mendekati akhir, sabar sejenak. Gie pernah berkata, "Orang-orang seperti kita tidak pantas mati di tempat tidur." Dan benar saja, di akhir hidupnya, ia ditemukan terkapar tak berdaya di atap tertinggi Pulau Jawa, di Puncak Mahameru, Gunung Semeru. Ia dan salah seorang kawannya ditemukan tergeletak tak sadarkan diri, diduga karena tak sengaja menghirup gas beracun dari kawah gunung. Sampai saat ini, di Puncak Mahameru, namanya diabadikan di sebuah tugu kecil.
Oh iya, saya lupa menceritakan bahwa selain menulis, Gie juga suka mendaki gunung. Saya rasa, hal ini ia lakukan untuk melepaskan sejenak penat yang ia dera saat masifnya aksi yang ia lakukan. Gie sudah mendaki banyak gunung di Pulau Jawa. Sudah banyak puncak yang berhasil ia tapaki. Sedikit informasi, kecintaannya akan mendaki turut membuat ia dan kawan-kawan mendirikan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA UI), yang sampai saat ini masih menjadi UKM di Universitas Indonesia.
Huh... entah mengapa, saat menulis kisah hidup tokoh yang saya suka, tiba-tiba diri ini sangat semangat sekaligus sedih karena mengingat perjuangan-perjuangan mereka yang tidak mudah. Soe Hok Gie mewariskan obor abadi perjuangan yang takkan pernah padam, karena sosok seperti ia pasti akan bermunculan dan terus berlipat ganda. Perjuangan tulus dalam mengkritik pemerintah juga ia abadikan lewat tulisan-tulisannya, termasuk karyanya yang paling fenomenal, yakni Catatan Seorang Demonstran, yang berisi tentang perjuangannya kala melakukan aksi.
Sebagai penutup, perjuangan Soe Hok Gie mengingatkan kita bahwa keberanian sejati bukan hanya soal melawan musuh yang tampak, tetapi juga berani menentang ketidakadilan meski harus melawan arus. Kehidupan dan perjuangannya mengajarkan kita bahwa mahasiswa bukan sekadar penerima kebijakan, tetapi juga agen perubahan yang harus berani berbicara, bertindak, dan melawan ketidakbenaran. Di tengah zaman yang terus berubah, semangat kritis Gie harus tetap hidup di dalam diri kita. Sebab, jika kita diam saja, kita akan kehilangan hak kita untuk memperbaiki masa depan. Warisan perjuangannya akan terus menginspirasi, memberi kekuatan bagi kita untuk terus berjuang demi kebenaran dan keadilan, apapun resikonya.
Teman-teman pembaca, saya rasa cukup sekian tulisan singkat mengenai kisah kehidupan Soe Hok Gie yang bisa saya bagikan. Bagi kalian yang ingin menggali lebih dalam tentang kehidupannya, saya sarankan untuk membaca berbagai sumber literatur yang tersedia di berbagai platform. Selain itu, untuk memahami lebih lanjut mengenai bentuk perlawanan dan kritik Gie terhadap pemerintah, kalian bisa membaca karya terkenalnya, Catatan Seorang Demonstran, yang menjadi judul sekaligus inti dari tulisan ini. Terima kasih. HIDUP MAHASISWA!
"Hanya ada dua pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus, tetapi aku memilih untuk menjadi manusia merdeka!" - Soe Hok Gie