Pernahkah kamu melihat sebuah perpisahan, patah hati dan ditinggalkan dari sudut yang berbeda? Aku yakin, sebagian darimu tidak akan pernah menemui sudut itu. Terlebih kala itu hatimu teramat sakit, harus menerima kisah yang begitu pelik. Air mata kian rebas seiring logikamu yang terungku.
Tetapi selepas menangis semalaman, sepulangnya hening yang amat lasak, pasti akan ada satu waktu, kamu temukan tenang kalahkan gamang. Perlahan, Tuhan mengambil peran dengan begitu berandang.
Rasa sakit yang kamu rasakan ketika ditinggalkan, bisa jadi adalah uji yang perlu kamu lalui. Bisa jadi, kamu terlalu bahagia sampai lupa bahwa bunga tak melulu mekar. Ada kalanya ia layu dan luruh.
Kehilangan yang begitu menyayat, bisa jadi teguran halus dari Tuhan yang tengah cemburu. Bagaimana bisa kamu merasa memiliki sepenuhnya sementara keyakinan enggan bersawala?
Cobalah tengok sesekali, belajarlah untuk bersenandika ketika malam hari. Artikan rasa sakitmu sebagai semenjana yang nantinya akan berlalu begitu saja. Latih lukamu menjadi renjana dalam mendewasakan dirimu sendiri. Dibalik luka yang seolah tak berobat, dibalik kehilangan tanpa jalan dan dibalik tangis tak berbatas, pasti ada pelajaran yang kan kamu temukan.
Nantinya, setelah lukamu berangsur redam, kamu akan mulai mensyukuri langkah demi langkah sebuah perjalanan. Patah hati yang teramat dibenci, adalah pahlawan di masa depanmu kelak. Kalau saja aku tidak patah hati, aku tidak akan menemukan cinta yang tak akan pernah aku sesali. Kalau saja aku tidak ditinggalkan, aku tidak akan belajar menjaga sesuatu yang mudah hilang. Masih banyak “kalau saja” yang akan kamu sebutkan dan semua itu karena patah hati.
Liemxiensan, 28.09.2020 - 15:13