Rasa Yang Tertaut Karena Doa
Mula awal aku kenalan dengan doi melalui aplikasi dating diawal tahun 2020. Awalnya iseng, tidak ada niatan untuk serius hanya ingin mengenal selayaknya teman biasa. Tapi semakin sering komunikasi, aku ngerasa nyaman mendengar suaranya, tutur katanya, caranya bicara, dan tawanya. Awalnya hanya sekedar kagum, dan akhirnya aku mutusin untuk selalu membawa pertemanan ini dalam doaku. Tapi sebelum mengenal dia, aku pernah berdoa ke Tuhanku. “TUHAN, ketika aku nanti mengenal lelaki yang seiman dan mulai memiliki rasa dengannya, aku berjanji akan mengasihinya dengan Tulus walau apapun yang terjadi.”
Berjalannya komunikasi kita. At that time, aku ada niatan buat ngajakin dia ketemu. Akhirnya kita ketemu dong, pertemuan awal itu aku udah bisa menilainya, ”oh..,asik juga ternyata orangnya !”
Berlanjutlah komunikasi aku dan dia, dan akhirnya aku melibatkan perasaan. Sampai pada akhirnya aku buat kesalahan yang mungkin menurutku buat dia jadi “ilfeel”. Aku juga mikir sebagai yang ngelakuin kesalahan itu memang malu-malui banget. Siapapun teman kita kalau mengalami hal itu, yang ada males buat berteman lagi. Hal itu yang buat aku untuk tarik diri dalam pertemanan ini. Akhirnya kita lost contact, aku juga ngerem diriku buat komunikasi dengan dia dan akhirnya aku coba buat hapus kontaknya dari handphoneku. Disaat aku dan dia lost contact, aku berusaha buat buka hati dengan lelaki lain, aku mulai kenalan dengan laki-laki. Tapi aku ga pernah setertarik itu dengan orang-orang baru ini, bahkan ada yang lebih baik dari dia tapi ntah kenapa males buat mengenal lebih. Jatuhnya hanya sekedar di fase kenal, basabasi, dan aku cuek. Begitu seterusnya untuk orang-orang yang baru lainnya.
Dan akhirnya aku ngerasa rindu dengan sosoknya. Selalu ada pikiran untuk mencoba menghubunginya, tapi aku selalu aja ngelawan rasa rinduku. Saat rindu seperti itu aku hanya bisa memeluknya lewat doa. Karena aku pernah cerita ke mamak tentang dia, mamak bilang,” kalau kamu rindu dia, doakan dia.”
After a few months tidak saling komunikasi, aku coba buat restore kontak dia yang sempat aku hapus. Kita mulai komunikasi lagi waktu dia reply story whatsappku, tapi itu ga seintens dulu. Sekedarnya say helo aja, tau kabar dia dan aku mikir untuk coba jaga jarak.
Akhirnya aku mutusin untuk whatsapp dia, direspon baik dan dia telpon aku dimalam itu. Senang pasti ngerasa senang, tapi aku tau dia emang selalu datang disaat dia perlu. Tapi aku ga pernah mempermasalahkan itu karena aku ingat dan sudah pernah berjanji pada Tuhanku bahwa aku harus selalu mengasihinya walau apapun yang terjadi.
Ada dua kalinya dia atau aku untuk berencana ingin ketemu, tapi dalam hatiku menolak karena aku takut rasa sayang itu semakin dalam kalau aku harus bertemu dia. Terkadang aku mikir dan bertanya dengan diriku sendiri.
“kenapa sih aku bisa memiliki rasa ini?”
“kenapa aku ga bisa mengasihi orang lain?”
Aneh rasanya kalau terus seperti ini. Aku coba buat berdoa dan bertanya lagi pada Tuhan berharap Tuhan menjawab. Tapi lagi dan lagi fase yang terjadi hanya itu dan itu aja. Lost contact, komunikasi, lost contact, komunikasi dan terus seperti ini. Kadang aku ngerasa ini seperti teka-teki yang dibuat Tuhan buat aku. Aku ga pernah menyesali yang terjadi dalam hal ini, aku bersyukur pada Tuhan. Karena hal ini bisa membentuk pribadiku lebih baik lagi.
Sampai akhir penghujung ditahun 2020, aku berpikir untuk ngajak dia ketemu. Karena aku memang ada rencana balik ke kampungku. Aku coba buat ajak dia, awalnya dia mau untuk ketemu, ntah kenapa tiba-tiba dia ngulur waktu dan ga kasih kabar apapun malah ngeselin. Mungkin karena aku terlalu banyak syarat untuk pertemuan itu. Tapi sampai aku balik ke Medan aku ga dengar alasan apapun dari dia. Aku juga ga bisa berbuat apa pun juga kan ? Even though, aku tidak pernah menyesali ini. Kesal pasti dong, sempat berpikir dan ngomong lagi ke diri sendiri,
”kamu kenapa begini sih ra? terlalu mengasihi orang lain. Dia aja ga pernah peduli, cuek juga !”
Tapi lagi lagi aku selalu menanggalkan hal itu, aku lebih memilih janjiku ke Tuhan. Banyak yang bilang aku bodoh, tapi inilah namanya pilihan. Berdoa dan berusaha aja dulu, selebihnya biarkan Tuhan yang mengaturnya. Karena memang menurutku, ketika kita mengenakan kasih kepada siapapun hal apapun yang dialami sekali pun itu sukar pasti ngerasa aman aja melalui semua.
Kerap kali aku merindukannya, sampai saat ketika aku memimpikannya tiga hari berturut-turut. Aku terbangun dari mimpi itu dan aku hanya bisa menangis karena merindukannya. Karena ketika rindu tidak bisa kita ungkapin dan hanya bisa dipendam pasti sakit sekali rasanya. Akhirnya aku putusin untuk membawa namanya dalam doaku, karena hanya dengan doa aku bisa mengungkapkan rinduku padanya..
Aku ga pernah tau sampai kapan rasa ini akan terus berlanjut. Aku hanya bisa seperti ini, sampai Tuhan kasih aku petunjuk untuk berhenti atau terus. Ketika Tuhan sudah memberikan jalan yang lain dan suruh aku untuk berhenti, mungkin aku kan berhenti untuk menyayangi dia. Intinya i’m happy to meet and know him.