Pagi ini, otakku kembali memutar apa-apa yang pernah terjadi diantara kita. Sekarang, sekolah kita sedang mengadakan pendaftaran untuk mengikuti lomba yang dilaksanakan oleh anak osis. Satu tahun yang lalu. Kamu masih ingat? kamu adalah salah satu dari orang yang menjaga pendaftaran. Waktu itu aku sedang berjalan keluar menuju pintu gerbang sekolah dengan niatan untuk pulang, tanpa disadari aku melewati ruang pendaftaran. Kamu memanggilku dengan kencang dan langsung menghampiriku yang akhirnya pulang lebih lama akibat mendengarkan ceritamu hari itu. Dulu, ketika bulan puasa, ponselku selalu dipenuhi oleh notifikasi darimu. Setiap sahur kamu selalu membangunkan aku yang padahal sesungguhnya sudah terbangun. Kamu juga menceritakan apa-apa yang kamu alami ketika sahur hari itu. Dulu, jam kosong di sekolah adalah hal yang selalu aku senangi. Karena dengan begitu, aku bisa pergi ke kelasmu dan bercengkrama tentang apapun. Kini, jam kosong adalah yang paling aku benci karena sekarang aku tak bisa bersama denganmu lagi. Dulu, ketika pulang sekolah, kita selalu menyempatkan diri untuk berbagi tawa di pinggir koridor itu. Kini, aku malah melihatmu terduduk bahagia dengan orang lain di ujung koridor yang biasa kita duduki. Kini, aku merindukanmu. Merindukan segalamu yang dulu pernah jadi segalaku. Dia datang hingga akhirnya kau meninggalkanku. Aku tahu kamu bukan orang sekejam itu. Jadi, jika aku salah, kemarilah. Tegur aku dengan baik-baik. Kita perbaiki lagi hubungan yang suram ini. Karena aku, tak pernah pergi darimu. Karena kamu, masih menjadi orang yang namanya selalu kusebut diperbincanganku dengan Tuhan pada sepertiga malam. Jakarta, 11 Maret 2017 01.25 am