it was the end of a dreary april, and your tears were pouring like midnight rain because i said “no” faster than you could pull that ruby ring out of your pocket.
yet, you thought there was one more chance to fix this, to fix us. but i knew you’d hate me for writing for you; ’cause it took me three whole days to decide how the guy’s gonna kiss the girl. on her fucking cheek. so i wrote about how he got rejected instead.
and what might be “just one more chapter” for me, would become the 39th night you find yourself sleeping on the couch with the tv still on. waiting for someone that’s long gone.
but i knew you’d thank me.
because this town is too small for ex-lovers who don’t know how to make it work, and we wouldn’t even remember why we had this argument in the first place.
but in two years we might randomly sit at the newly opened cafe down the road from our old school. face to face. you let the ice in your coffee melt while i no longer wanted to touch the rest of my cake.
and when i asked you “how’s life”
you’d tell me how the florist owner, from where you got me this awful carnations said “yes” instead.
tw : major character death, blood, vomit, angst, sorrow, hanahaki disease, unrequited love.
ibunya sering kali mengatakan kalau egi bermimpi terlalu besar di dunia yang kecil.
meski begitu, ia seharusnya jadi yang paling tahu bagaimana caranya untuk tak jatuh untuk hal penuh tipu daya seperti cinta karena hal-hal gila tetap dapat terjadi di dunia kecil yang ditinggalinya.
seperti bagaimana ia seharusnya mempersingkat kunjungan ke judy’s florist alih-alih membuang waktu untuk mengenal ian si pegawai baru — atau bagaimana ia seharusnya melupakan kalau daffodil merupakan bunga kesukaan laki-laki itu (egi bisa tahu hanya dengan melihat dari pin bunga di seragamnya, tradisi di judy’s florist.)
karena dari sekian banyak hal gila yang bisa dilakukan. di dalam kepalanya, egi justru memilih untuk 1) percaya dirinya tinggal di dunia yang lebih magis daripada pixie hollow: di mana langitnya serupa permen kapas, matahari baru terbit pukul sepuluh dan ia tinggal di rumah pohon bersama para peri; 2) ia hidup untuk menyukai bunga — dan tinggal di sana sambil merawat mereka adalah tugas utamanya.
kelopak bunga yang hidup selalu membuat hatinya senang. tetapi, sekarang mereka justru terus berjatuhan dari mulutnya. bentuknya kelopaknya mirip seperti pin bunga milik ian. dan warnanya terlihat berseri seperti saat cahaya mentari menari di atas kulit laki-laki itu.
egi terbatuk dan muntah.
satu.
dua.
tiga.
empat.
dua belas.
ia berhenti makan maupun pergi ke luar. ia hanya terus batuk dan muntah. dan tak ada lagi agenda mampir ke judy’s florist sepulang kerja.
dua puluh dua.
dua puluh tiga.
lantainya kini dipenuhi oleh bunga daffodil yang berserakan, seakan dunia penuh bunga yang ada di kepalanya menjadi nyata.
dua puluh empat.
dua puluh lima.
tiga puluh sembilan.
tetapi dadanya terasa sesak, dan cairan merah pekat mulai ikut menodainya.
empat puluh.
egi merasa kesepian dan mulai menangis, tetapi lagi-lagi ia terbatuk dan memuntahkan bunga lainnya.
lima puluh dua.
bahkan dalam mimpinya, bunga-bunga itu datang untung memangsanya. tetapi sekarang sulit untuk mengatakan apa warna asli bunga yang terus ia muntahkan. yang ia ingat hanya sosok terakhir ian yang dilihatnya di toko bunga.
enam puluh empat.
delapan puluh delapan.
rasa pahit sekaligus manis tertinggal dan menyekat tenggorokkannya. sementara akar-akar kecil terus meregang dan mengoyak paru-parunya. membuatnya terengah-engah, kehabisan napas. menenggelamkannya, sedangkan egi tak tahu caranya berenang.
sembulan puluh tiga — dan egi mulai kehilangan hitungannya.
padahal ia pikir akan punya waktu lebih untuk mengumpulkan semua kepingan kelopaknya untuk diberikan pada ian — jadi setidaknya ada sedikit kepingan dirinya untuk laki-laki itu simpan. tapi kelopak terakhir terlanjur jatuh ke lantai. begitu tragis. dan egi tak dapat merasakan apapun lagi setelahnya. mungkin karena itulah yang seharusnya dirasakan oleh orang yang menyedihkan sepertinya. karena ia selalu tahu bahwa ibunya benar: ia bermimpi terlalu besar di dunia yang kecil, dan dicintai adalah salah satunya.
sekarang ia justru mati tercekik oleh hal yang dipujanya.
she was alone, dead, suffocated, unloved and surrounded by blood and flowers—but not just any flower, it's his favorite one.
Harusnya dari awal Aji sadar, segelas kopi susu nggak selayak itu sampai bikin dia harus keluar indekos waktu ia lihat langit kelihatan lebih gelap.
Lihat kan! Sekarang malah hujan dan Aji lagi-lagi nggak bawa payung.
Lagian kemana sih otak Aji yang luar biasa lancar kalau dipakai buat mengejar deadline? Paling nggak, harusnya kan Aji bisa mengecek ramalam cuaca, atau bawa motor kesayangannya (alih-alih naik ojek online karena malas) sebelum pergi cuma pakai kaus oblong dan jeans belel modal nekat dan kalut. Semrawut.
Berlama-lama di sini untuk menunggu langit berhenti bersedih juga percuma, karena Aji malah jadi terjebak dengan hal tak terduga lainnya: si Neng.
Terus sekarang gimana? Begadang semalam suntuk nggak bakal bikin dirinya tumbang, tapi kena guyuran hujan badai kayak gini bakal jadi titik buta kelakuan sok-kuatnya. Aji paling nggak suka setiap dia nggak punya banyak pilihan, tapi kali ini terpaksa.
Hah, haruskah Aji menghubungi salah seorang temannya? Berlama-lama di sini cuma bikin ia makin sesak. Melihat si Neng cuma bikin Aji teringat kelakukan bodohnya saat hujan turun di antara mereka terakhir kali.
“Kebiasaan lama susah hilang ya, Ji?”
Sialan, Aji nggak sadar mengumpat. Harus ya perempuan itu terang-terangan mengingatkan betapa nggak berdayanya Aji yang suka bergantung pada orang lain soal menjaga dirinya? Belakangan ini Aji ingat kok soal membawa payung sendiri, hari ini dia cuma lagi sial saja—mungkin juga Aji cuma belum terbiasa dengan fakta kalau si Neng yang selalu membagi payungnya sudah nggak ada.
Sejuta sial sudah Aji rapalkan. Kenapa juga harus malam ini hujan baru turun? Kenapa nggak kemarin malam saat Aji cuma diam di indekos karena harus nugas sampai subuh? Atau kemarinnya lagi saat Aji menginap di tempat Kak Ino?
Aji 'kan mau pulang.
“Ini...” lagi-lagi si Neng yang berbicara. “Kamu kayaknya buru-buru.”
Seakan bisa membaca pikirannya, tangannya mengulurkan sebuah payung lipat warna kuning cerah yang kelewat familiar. Payung kuning yang ia ingat si Neng bilang norak, tapi tetap dibawa kemana-mana karena Aji yang berikan.
Dunia suka bercanda, ya?
“Aji..” Si Neng mencoba sekali lagi, maniknya terpaku pada sosok Aji yang enggan menoleh ke arahnya barang sedikit.
Perempuan itu paling benci ditolak, jadi tangannya terus menggantung bahkan setelah sekian menit berlalu. Lagi pula ia nggak ingat pernah melakukan kesalahan terhadap laki-laki itu, jadi harusnya nggak masalah kalau ia bersikap seperti biasanya.
Tapi, sayangnya Aji lebih benci dikasihani, dan ia nggak sanggup kalau harus menatap perempuan itu secara langsung. Apalagi setelah semua yang sudah terjadi belakangan ini; karena si Neng agaknya lupa kalau terakhir kali mereka bersama saat hari sedang hujan, baik Aji mauun si Neng, keduanya sama-sama setuju untuk mengakhiri apapun yang ada di antara mereka. Entah perteman mereka atau cinta sepihaknya, Aji juga nggak tahu. Mungkin keduanya, atau justru hal lain yang nggak disadarinya. Terserah!
“Enggak perlu, nanti Ayis jemput,” kata Aji seperlunya, akhirnya menemukan suaranya. Berusaha buat terdengar meyakinkan dan nggak bersikap kejam dengan bertanya, “Kenapa masih nyimpen payung bodoh itu sih?“
Toh, Aji nggak sepenuhnya bohong. Sejak pertama kali si Neng bersuara, Aji nggak bisa menahan diri buat nggak mengemis pertolongan dari temannya agar bisa keluar dari situasi putus asa ini. Bang Bayu menjadi yang pertama menawarkan diri, tapi Aji nggak sampai hati kalau sampai harus membiarkan yang lebih tua pergi jauh-jauh sampai ke sini, lagi pula Bang Bayu pasti lelah setelah bekerja seharian.
Untungnya Ayis, yang kebetulan sedang dalam perjalanan pulang setelah mengantar sang pacar, menyanggupi dengan senang hati setelah meledeknya sana-sini.
Sekali lagi, kenapa hujan harus turun malam ini?
Padahal setiap hari sudah ada hujan darah dari kepingan hati Aji yang patah, memangnya nggak ya bisa kalau langit sedikit bersimpati dan membantu meredakan badainya?
“Kenapa kamu diem aja, Ji? Paling enggak, terima payung—Aji!” Si Neng mendadak kelabakan waktu Aji tiba-tiba mengambil langkah mundur dari tempatnya semula berdiri.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aji terus melangkah sampai kanopi Haven Cafe nggak lagi sanggup melindunginya, sementara kedua sepatu si Neng seakan diberi perekat bernama ragu saat hendak menyusul. Aji tersenyum pahit. Ternyata kebiasaan lama si Neng untuk melindungi Aji juga belum hilang dari perempuan itu, untungnya si Neng cepat sadar.
Drip.
Drip.
Padahal Aji baru berdiri di bawah guyuran hujan selama delapan detik, tapi tubuhnya sudah jadi begitu kuyup dalam sekejap dan semuanya sudah serba telanjur. Seperti jalanan beraspal yang nggak bisa melakukan apapun saat diguyur hujan, Aji kepalang basah.
Jadi Aji berpaling dan melebur di bawah guyuran hujan. Tanpa naungan payung kuning, cipratan dari kubangan air karena converse kumal Aji, dan agenda mampir ke warmindo si Neng.
Berharap setelah malam ini, matahari bisa bersinar terang buat perempuan itu. Biar Aji saja yang kehujanan seperti hari ini. Siapa tahu, setelah sering kebasahan, Aji jadi inget buat selalu bawa payung sendiri. Setelah itu, mereka jadi bisa menghapus masa lalu dengan satu senyuman karena nggak harus khawatir pada satu sama lain lagi.
Semoga.
“Nih!” Suara Aji mencuri atensi si Neng dari semangkuk indomie kuah pesanannya.
Sebuah kotak yang dibungkus kertas warna cokelat (si Neng curiga itu sampul buku lama Aji) tergeletak di atas meja. Si Neng nggak yakin ini hari ulang tahunnya dan ia ingat Aji sudah memberinya kado waktu itu. Aneh, tentu. Makanya alih-alih langsung membukanya, si Neng hanya menatap Aji minta penjelasan.
Aji mengangkat bahu asal, mengisyaratkan sang empu baru dari barang pemberiannya untuk melihat sendiri, kemudian menyesap pesanan kopinya. Di luar hujan, dan nggak ada yang bisa ngalahin suasana di warmindo bareng segelas kopi susu hangat—juga sosok si Neng yang selalu cantik walau cuma sedang makan Indomie rasa soto di hadapannya.
“Payung?”
“Iya.”
“Kenapa tiba-tiba ngasih payung?”
“Biar bisa payungan bareng Aji terus lah, payung si Neng yang lama 'kan kecil.”
Si Neng mengeryit, bingung. Alasan Aji barusan kedengarannya masuk akal sekaligus mengada-ada di saat yang sama.
Pertama, payung si Neng masih baru dan bagus. Dia jelas enggak butuh payung baru se-nggaknya sampai tahun depan tergantung kondisi.
Kedua, kenapa Aji nggak pakai payungnya untuk dirinya sendiri kalau harus bersusah payah sepayung berdua bersamanya?
Ketiga, kenapa payungnya harus warna kuning? Aji kan tahu si Neng paling menghindari warna kuning karena kelihatannya norak. Nyebelin!
“Enggak mau ah, Aji pake sendiri aja payungnya!” Si Neng bersikeras. Tangannya menyodorkan kembali kotak berisi payung ke samping gelas Aji, lantas kembali pada makanannya.
“Kok gitu, kan si Neng tau kalau Aji pelupa! Nanti kalau Aji nggak bawa payungnya terus harus hujan-hujanan gimana? Kok si Neng tega?!” Balas Aji nggak mau kalah, kebiasaan.
“Tapi warnanya norak tau! Kenapa enggak biru aja?” Cibir si Neng, melemparkan tatapan mematikan ke sosok Aji yang masih merenggut kayak bocah.
“Kan punya si Neng udah biru, yaudah Aji kasih kuning aja biar mirip matahari. Siapa tau langitnya minder karena ngeliat matahari kayak si Neng terus hujannya berhenti.”
“Dasar aneh! Nggak mau, pokoknya pake sendiri aja!”
Ngomongnya sih begitu. Tapi waktu Aji hampir lupa membawa pulang payungnya (karena emang sengaja, siapa juga yang mau pakai payung kuning itu) setelah setuju buat nggak maksa si Neng buat pakai payung itu karena kalah argumen. Nyatanya perempuan itu malah memasukkan kotak payung kuning norak itu ke tote bag-nya untuk disimpan dan dipakai berdua sama Aji di hari hujan berikutnya. Toh, kalau si Neng lihat-lihat payung kuningnya nggak seburuk itu.
Hah, seandainya si Neng tahu kalau Aji akan menyesali keputusannya memberikan payung itu di kemudian hari.