"Sekaleng Penyegar, Sejenak Memaknai Hidup"
Hari itu, aku kembali duduk di belakang, menghela napas dalam-dalam, dan sesekali mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri karena sudah mampu melalui malam yang panjang. Aku bersyukur karena tidak menghubungi kembali tenaga profesionalku, sebab sudah cukup berhenti sejak hari itu. Menimbang, mengukur, dan menilai, semestinya kisahku sudah sampai pada titik akhir. Belakangan ini memang sangat melelahkan, tapi jangan sampai melupakan rasa syukur atas apa yang sudah semesta berikan. Kaleng penyegar mengingatkanku untuk terus mencoba dan berusaha membukanya, walaupun dalam pikiranku sulit untuk menikmatinya karena pengait untuk membukanya saja sudah lepas. Namun nyatanya, hari ini aku mampu berjalan, walaupun terseok-seok oleh keadaan. Peluk hangat untuk diri ini, dan sekali lagi aku katakan: entah sampai kapan semesta akan menguji, aku setia belajar, bukan menyudahi.









