Ada peluh yang terlancur menjadi candu. Tat kala riak sebuah kelana. Beranjak menjadi notasi untuk melepaskan dan menemukan. . . Bersama guntur yang tengah berdegup kencang. Dan langgam alam yang terdengar lebih menjanjikan. Ketimbang jani-janji lindap tentang peristorika dibawah sana. . . Untuknya saat ini. Kami yang hina dengan selalu mengeluh lelah. Tanpa pernah mengambil langkah. Menjajaki tanah gambut berpilar belukarmu ini. Mencari diri, seraya melabuhkannya pada sesuatu yang ikut bangkit bersama kelambu kabutmu pagi ini. . . Selalu ada jalan berkelok untuk sesuatu yang elok. Selalu ada tanah menanjak untuk sesuatu yang bernama puncak. Dan demi jarum bersama tumpukan jeramimu itu. Maka setiap pilu, dan darah yang tak pernah diseka di tengah ini. . . Tidak pernah ada lagi. Cinta yang lebih heroik. Selain tubuh-tubuh yang tidak pernah berbuat hingga hari ini. Untuk saat ini, untuk setiap tanah dan airnya negeri ini. Sebuah nirwana. Tempat semesta kirana bersemayam. . . (Tulisan dari suara: Muhammad Zainul Ilyas, dari sebuah video dokumenter inspiratif: Irvan Aulia) . . Curug Gomblang, Banyumas, 12 Syawal 1437 H/17 Juli 2016 M #explorecuruggomblang #curuggomblang #explorebanyumas #explorejateng #exploreindonesia #wonderfulindonesia #visitindonesia #instanusantara #instajateng #waterfall












