ESENSI EVALUASI DALAM PERSPEKTIF
FALSAFAH PENDIDIKAN ISLAM
Oleh : Indah Lestari, Suhardi
Pendidikan adalah sebuah kata yang tak asing lagi pada zaman ini. Hampir semua orang pasti sudah pernah mengenal bahkan melaksanakan pendidikan. Menurut Made Pidarta sebagaimana yadan Rudi Ahmad Suryadi menjelaskan bahwa pendidikan adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Pendidikan bukan hanya ada diantara guru dan murid ketika di sekolah saja, melainkan juga pendidikan juga ada di keluarga bahkan masyarakat. Di keluarga, Anakanak mendapatkan pendidikan dari orang tuanya. Lalu ketika sudah dewasa dan berkeluarga, maka mereka juga akan melakukan hal serupa pada anakanak mereka. Tidak ada makhluk lain yang membutuhkan pendidikan melebihi manusia
Pendidikan Islam bertujuan untuk mengembangkan potensi fitrah yang ada pada diri manusia untuk menjadi insan kamil. Sehingga semua komponen yang ada dalam pendidikan haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, dibutuhkan evaluasi. Penelitian ini menggunakan studi literature dengan mengkaji beberapa buku dan pemikiran tokoh, peneliti akan membahas lebih dalam tentang evaluasi pendidikan islam baik secara epistimologi, terminology, aksiologi, dan ontology. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan Islam, yang mencangkup seluruh komponen yang ada didalammnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pelaksanaannya evaluasi harus menerapkan beberapa prinsip, tekhik dan prosedur yang harus di ikuti demi baiknya hasil yang akan didapatkan. pentingnya proses evaluasi dalam pendidikan. Dalam pelaksanaannya, evaluasi harus memperhatikan berbagai hal seperti tujuan dan fungsi dari evaluasi, objek evalusai, prinsip evaluasi, tehnik dan prosedur evaluasi itu sendiri.
1. Konsep Dasar Evaluasi dalam Presfektif Pendidikan Islam
Evaluasi berasal dari bahasa Inggris “evaluation” akar katanya value yang berarti nilai. Dalam bahasa arab disebut Al-Qimah atau Al- Taqdir. Dengan demikan, secara harfiah, evaluasi pendidikan (Al-Taqdir Al-Tarbawiy) dapat diartikan sebagai penilaian dalam bidang pendidikan atau penilaian hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan. (Salminawati, 2012)
Evaluasi merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan mengajar, melaksanakan evaluasi yang dilakukan dalam kegiatan pendidikan mempunyai arti yang sangat utama, karna evaluasi merupakan alat ukur atau proses untuk mengetahui tingkat pencapaian keberhasilan yang telah dicapai siswa atas bahan ajar atau materi-materi yang telah disampaikan, sehingga dengan adanya evaluasi maka tujuan dari pembelajaran akan terlihat secara akurat dan meyakinkan.
Dalam pendidikan Islam, evaluasi tidak hanya ditekankan kepada hasil yang dicapai para peserta didik, tetapi juga prosesnya, baik menyangkut prosedur dan mekanisme penyelenggaraan, kemampuan dan keterampilan pendidik melaksanakan evaluasi maupun berbagai faktor terkait lainnya. Sebagai contoh, ketika orang tua mendidik anaknya maka kelak bukan hanya bagaimana hasil pendidikannya yang dipertanyakan atau diminta pertanggungjawabannya Allah melalui evaluasi di akhirat (hidab), tetapi juga bagaimana orang tua menyelenggarakan dan dari mana faktor-faktor pendukung yang digunakan tersebut diperoleh. (Syar'i, 2020)
Evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan. Evaluasi adalah suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik untuk tujuan pendidikan. Evaluasi merupakan totalitas tindakan atau proses yang dilakukan untuk menilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Islam dilaksanakan menyeluruh dan bersamaan antara proses dan hasilnya.
Isyarat keharusan melaksanakan evaluasi ini di antaranya digariskan dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 31-32:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
Artinya:“Dan Dia mengerjakan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar! Mereka menjawab: Maha suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (surah Al-Baqarah: 31-32).
Dalam contoh surah Al-Baqarah ayat 31-32 tersebut Allah mengajari Adam menyebut nama-nama benda, maka evaluasinya, Allah menugasi Adam untuk menyebut kembali nama-nama benda yang telah diajarkan kepadanya sebagai standar pengukuran, penilaian sekaligus evaluasi atas aktivitas pendidikan atau pembelajaran yang telah berlangsung.
Evaluasi merupakan suatu proses tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan keberhasilan yang dicapai dalam dunia pendidikan. Maka dari itu, evaluasi merupakan hal yang signifikan dilakukan dalam dunia pendidikan, karena mempunyai manfaat amat berpengaruh begitu juga dengan bidang-bidang yang lain termasuk dalam kehidupan, yang paling utama adalah evaluasi terhadap diri sendiri.
Sedangkan evaluasi dalam Pendidikan Islam adalah pengambilan sejumlah yang berkaitan dengan Pendidikan Islam guna melihat sejauh mana keberhasilan pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai Islam sebagai tujuan dari pendidikan itu sendiri.
2. Tujuan Evaluasi dalam Pendidikan Islam
Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan. Selain itu, program evaluasi bertujuan mengetahui siapa diantara anak didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga naik tingkat, kelas maupun tamat. Tujuan evaluasi bukan anak didik saja, tetapi bertujuan mengevaluasi pendidik, yaitu sejauh mana pendidikan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya untuk mencapai tujuan Pendidikan Islam.
Dalam Pendidikan Islam, tujuan evaluasi lebih ditekankan padapenguasaan sikap (afektif dan psikomotor) ketimbang asfek kognitif. Penekanan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan peserta didik yang secara besarnya meliputi empat hal, yaitu :
a. Sikap dan pengalaman terhadap hubungan pribadinya dengan Tuhannya;
b. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan dirinya dengan masyarakat;
c. Sikap dan pengalaman terhadap arti hubungan kehidupannya dengan alam sekitarnya;
d. Sikap dan pandangan terhadap diri sendiri selaku hamba Allah, anggota masyarakat, serta khalifah Allah SWT.
Menurut Buchari, ada dua tujuan evaluasi:
a. Untuk mengetahui kemajuan belajar peserta didik setelah menyadari pendidikan selama jangka waktu tertentu.
b. Untuk mengetahui tingkah efisien metode pendidikan yang dipergunakan dalam jangka waktu tertentu. (Arikunto, 2008)
3. Fungsi Evaluasi dalam Pendidikan Islam
Adapun fungsi evaluasi, menurut Abudin Nata adalah:
a. Mengetahui tercapai tidaknya tujuan;
b. Memberi umpan balik bagi guru dalam melakukan proses pembelajaran;
c. Untuk menentukan kemajuan belajar;
d. Untuk mengenal peserta didik yang mengalami kesulitan;
e. Untuk menempatkan murid dalam situasi belajar yang tepat;
f. Bagi pendidik, untuk mengatur proses pembelajaran. Bagi peserta didik untuk mengetahui kemampuan yang telah dicapai, bagi masyarakat untuk mengetahui berhasil tidaknya pelaksanaan program. (Nata, 2005)
Ramayulis mengatakan, bahwa seorang pendidik melakukan evaluasi disekolah mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui peserta didik nama yang tepandai dan terbodoh;
b. Untuk mengetahui apakah bahan yang telahdiajarkan sudah dimiliki peserta didik atau belum;
c. Untuk mendorong persaingan yang sehat antara sesame peserta didik;
d. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mengalami didikan dan ajaran; Untuk mengetahui tepat atau tidaknya guru memilih bahan, metode dan berbagai penyesuaian dalam kelas;
e. Sebagai laporan terhadap orang tua peserta didik dalam bentuk rapor, ijazah, piagam dan sebagainya. (Ramayulis, 1994)
Selain itu, ada beberapa fungsi lain yang bisa disebut, yaitu: fungsi seleksi, fungsi penempatan, fungsi pengukur keberhasilan dan fungsi diagnosis.
Fungsi evaluasi merupakan satu kesatuan yang mempunyai keterkaitan antara guru, siswa, metode, bahan ajar yang bermuara untuk mengenal, mengetahui serta mengukur sejauh mana materimateri ajar yang telah diasampaikan selama proses belajar berlangsung dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
4. Sistem Evaluasi dalam Pendidikan Islam
Al-Qur’an sebagai dasar segala disiplin ilmu termasuk ilmu Pendidikan Islam secara implisit sebenarnya telah memberikan deskripsi tentang evaluasi pendidikan dalam Islam. Hal ini dapat ditemukan dari berbagai system evaluasi yang ditetapkan Allah diantaranya:
a. Evaluasi untuk mengoreksi balasan amal perbuatan manusia, sebagai-mana yang tersirat dalam ayat yang berarti: “Barang siapa mengerjakan kebaikan sebesar atompun, niscaya akan melihatnya (balasannya), dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar atompun niscaya akan melihat (balasannya).” Nabi Sulaiman AS, pernah mengevaluasi kejujuran seekor burung hud-hud yang memberitahukan adanya kerajaan yang diperintah oleh seorang wanita cantik, yang dikisahkan dalam ayat yang artinya: “Sulaiman berkata :”akan kami cermati (evaluasi) apakah kam u benar ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta.”
b. Sebagai contoh ujian (tes) yang berat kepada Nabi Ibrahim AS. Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya Ismail yang amat dicintai. Tujuannya untuk mengetahui kadar keimanan dan keqwaan serta ketaatannya kepada Allah,seperti disebutkan didalam firman-Nya yang artinya: “Tatkala keduanya telah berserah diri dan ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya) Dan kami panggillah dia: Hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu “Sesungguhnya demikianlah kami memberi batasan, kepada orang-orang yang berbuat baik, sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Sistem evaluasi dalam Pendidikan Islam mengaku pada sistem evaluasi yang digariskan oelh Allah SWT, dalam Al-Qur’an dan dijabarkan dalam as-Sunnah, yang dilakukan Rasulullah dalam proses pembinaan risalah Islamiyah.
Secara umum sistem evaluasi pendidikan sebagai berikut :
a. Untuk menguji daya kemampuan manusia beriman terhadap berbagai macam problema kehidupan yang dihadapi.
b. Untuk mengetahui sejauhmana atau sampai dimana hasil pendidikan wahyu yang telah diaplikasikan Rasulullah SAW kepada umatnya.
c. Untuk menentukan klasifikasi atau tingkat hidup keislaman atau keimanan seseorang, seperti pengevaluasian Allah terhadap Nabi Ibrahim yang menyembelih Ismail putra yang dicintainya
d. Untuk mengukur daya kognisi, hafalan manusia dan pelajaran yang telah diberikan kepadanya, seperti pengevaluasian terhadap nabi Adam tentang asma-asma yang diajarkan Allah kepadanya dihadapan para malaikat.
e. Memberikan semacam tabsyîr (berita gembira) bagi yang beraktifitas baik, dan memberikan semacam ‘iqâb (siksa) bagi mereka yang berakltifitas buruk.
f. Allah SWT dalam mengevaluasi hamba-Nya, tanpa memandang formalitas (penampilan), tetapi memandang subtansi dibalik tindakan hamba-hamba tersebut
g. Allah SWT memerintahkan agar berlaku adil dalam mengevaluasi sesuatu, jangan karena kebencian menjadikan ketidak objektifan evaluasi yang dilakukan.
Pendidikan Islam bertugas untuk membentuk al-Insan al-Kamil atau manusia paripurna. Karena itu, hendaknya diarahkan pada dua dimensi, yaitu: dimensi dialektikal horitontal, dan dimensi ketundukan vertikal. Evaluasi merupakan program pemahaman bagi anak didik terhadap materi-materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan.
Evaluasi merupakan kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan objek dengan menggunakan instrument dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur untuk memperoleh kesimpulan. Evaluasi adalah suatu proses penaksiran terhadap kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik untuk tujuan pendidikan. Evaluasi merupakan totalitas tindakan atau proses yang dilakukan untuk menilai sesuatu yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Islam dilaksanakan menyeluruh dan bersamaan antara proses dan hasilnya
Tujuan evaluasi adalah mengetahui kadar pemahaman anak didik terhadap materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan. Selain itu, program evaluasi bertujuan mengetahui siapa diantara anak didik yang cerdas dan yang lemah, sehingga naik tingkat, kelas maupun tamat.
Fungsi evaluasi merupakan satu kesatuan yang mempunyai keterkaitan antara guru, siswa, metode, bahan ajar yang bermuara untuk mengenal, mengetahui serta mengukur sejauh mana materimateri ajar yang telah diasampaikan selama proses belajar berlangsung dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
Pendidikan Islam bertugas untuk membentuk al-Insan al-Kamil atau manusia paripurna. Karena itu, hendaknya diarahkan pada dua dimensi, yaitu: dimensi dialektikal horitontal, dan dimensi ketundukan vertikal. Evaluasi merupakan program pemahaman bagi anak didik terhadap materi-materi pelajaran, melatih keberanian dan mengajak anak didik untuk mengingat kembali materi yang telah diberikan.
Arikunto, Suharsimi Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
Nata, Abudin. Filsafat Pendidikan Islam Jakarta:Logos, 2005.
Salminawati, Filsafat pendidikan Islam, Membangun konsep penddikan yang islami, Cetakan VI, Bandung: Cita Pustaka, 2016 .
Ramaliyus, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2004.
Syar’i, Ahmad. filsafat Pendidikan Islam, Kalimantan Tengah : Narasi Narah, 2020.