Memori dan Reuni
Belajar dari pengalaman merawat ibu di akhir usianya, fungsi-fungsi fisik yang mengalami kemunduran seiring bertambahnya usia. Begitupun fungsi memori ibu pun mulai banyak lupa, puncaknya lupa pada kita, anak-anak yang dilahirkannya… terkadang sedih, terkadang merasa lucu.
Tapi anehnya, kenangan masa-masa kecil justru menancap kuat di memori ingatan ibu. Beliau sering bicara dengan raut wajah bahagia tentang kehidupan masa-masa kecilnya, Terkadang ibu senyum-senyum sendiri saat menyebutkan nama-nama teman masa kecilnya.
Mungkin karena manusia fitrahnya ingin kembali ke hal-hal primordial, mencari asal-usul dirinya, kembali ingin napak tilas perjalanan hidupnya, bernostalgia dengan kenangan pahit manis yang membuatnya tertawa dan menangis.
Reuni bagi seseorang yang berumur lebih dari setengah abad nuansanya adalah seperti itu, berkumpul tertawa, bicara random dan receh, tak lagi tertarik lagi dengan pencapaian, tak perlu lagi validasi, jiwanya seperti masuk ke lorong waktu di masa-masa muda belia saat tak ada beban. Semua terasa indah dan ciptakan percikan-percikan bahagia di hati. Singkat, sejenak, tapi membuat bahagia. Jika sudah jadi nostalgia, kisah burukpun jadi cerita manis dan lucu…
Semakin menyadari begitu terbatasnya waktu tersisa, semakin menikmati setiap detik perjumpaan, seperti kata Aerosmith di lagunya I dont want to miss a thing “where every moments spent with you is a moment I treasure”
Bukan begitu sahabat?
– catatan dari Ngopi Sore 787, 14 april 2024, Resto Penka 1967














