"Sebaik-baik pasukan adalah dia, dan sebaik-baik panglima adalah dia."
Pengingat tentang bisyarah Allah dan Rasul-Nya yang tetap dijaga beratus tahun lamanya, diwariskan dari generasi ke generasi, bersemayam disetiap dada kaum muslim.
Sudah tak terhitung usaha dan nyawa yang dikerahkan untuk mewujudkannya, tapi semua memang sudah Allah atur, finalnya terjadi di tangan seseorang yang memang dididik sejak kecil untuk jadi seorang penakluk, Mehmed II.
Futuhat ini adalah tentang kepercayaan, dan kekuatan iman. Bahwa yang diucapkan Rasul pasti terwujud, meski perlu waktu cukup lama hingga itu terjadi. Tapi keyakinan itu, dipahami secara penuh oleh kaum muslim.
Sebenarnya, janji ini terjadi ketika Perang Khandaq, saat kaum muslim sedang terhimpit karena harus menggali parit yang besar untuk menghadapi serangan musuh.
Di tengah terik matahari dan cucuran keringat itulah, para sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasullah, apakah Kota Roma atau Konstantinopel yang kita taklukan lebih dahulu?"
Bayangkan pada saat itu, kekuasaan islam masih sangat belia, angkatan perang maupun perlengkapannya juga kalah jauh dengan dua negara adidaya besar yang sudah berusia ratusan tahun, Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia.
Pada saat itu Kaum Yahudi Madinah juga mentertawakan mereka, tapi bagi kaum muslim jawaban Rasulullah sudah cukup untuk meyakinkan mereka. Sehingga apapun yang oranglain katakan tak akan mempengaruhi kepercayaan mereka.
Sungguh, percaya bahwa kaum muslim bisa menaklukan Kota Konstantinopel yang agung dan kuat, serta sudah berdiri kokoh ratusan tahun lamanya, dengan pertahanan berlapis dinding kokohnya, serta letaknya yang strategis adalah suatu kemustahilan.
Bagaimana bisa mereka percaya? Karena mereka tidak hanya melihat dengan mata, tapi mereka menggunakan keimanannya dalam melihat bisyarah Rasul-Nya.
Sama halnya dengan hadits Nabi tentang akan berdiri Khilafah A'la Minhajin Nubuwwah yang kedua, pasti terjadi dan yang bisa melihatnya adalah mereka yang menggunakan mata imannya.
__________________________________________
Semoga pasca Ramadhan ini, kita benar-benar meraih taqwa sehingga siap bertempur di bulan-bulan selanjutnya dengan berpegang teguh di jalan-Nya.
Semoga kita diberikan kesempatan bertemu Ramadhan tahun depan, dan kala itu tiba, semoga Ramadhan kita lebih baik dari Ramadhan tahun ini.
Terimakasih, atas 17 tahun pertemuan kita.