throw back .
***
Selama hampir kurang lebih 15 tahun hidup terpisah dengan orang tua. Diawali dengan alasan karena sekolah berbeda kota, setelah lulus diteruskan dengan keputusan bahwa bapak dipindah kerjanya ke luar kota, dan sekarang mencari nafkah pun di tempat yang lumayan jauh dari rumah. Ada alasan tersendiri kenapa dulu memilih untuk sekolah yang jauh dari rumah. Tidak rumit, namun saat itu terfikir kalau lebih baik jauh dari keluarga. Sesekali ada penyesalan dari keputusan kenapa dulu harus milih jauh dari keluarga, tumbuh bersama orang-orang yang ga dikenal sebelumnya. Sesekali juga sangat iri dengan teman yang seumur hidupnya tinggal dengan keluarga. Dari kecil, sekolah sampai bekerja pun di rumah yang sama dengan orang tua. Mengeluh karena waktu ga bisa diulang lagi untuk merubah keputusan bahwa kenapa dulu ga milih untuk ga usah sekolah jauh, kenapa harus cari kerja di tempat yg serba baru semuanya. Ga ada teman, atau keluarga pada saat itu. Terkadang cuma bisa istighfar, kenapa harus menyesal seakan-akan itu pilihan yang dipaksakan orang lain. Lalu, kenapa harus mengeluh, padahal lebih banyak orang yang ditimpa cobaan jauh lebih berat dari sekedar menjalani hidup jauh dari keluarga. Walaupun tetap saja ga mudah hidup sendirian, padahal sudah lama dididik untuk mandiri. Ga ada tempat dimana keluarga selalu menjadi tempat pertama dan terakhir untuk berbagi. Berat, dan amat sangat berat. Sekarang waktunya untuk menjalani apa yang menjadi keputusan-keputusan di masa lalu. Keluhan dan penyesalan adalah alat agar kita lebih baik lagi dalam meneruskan hidup ke depan.
***












