Kau Boleh Menyebrangiku Asal Tidak di Depanku
Teruslah menjauh, itu boleh. Jangan lalu terus mendekat lagi, itu tak boleh. Bukankah boleh bagiku tidak selalu boleh bagimu? begitupun sebaliknya.
Aku ingat saat itu. Seperti sudah gila. Keringat yang jatuh dari kening yang menuju bibirmu saja aku sudah mengira itu air terjun yang jatuh dengan bebasnya.Manis sekali. Sedang ponimu yang menggantung dengan resahnya pasrah tersapu oleh bisikan bibirmu yang membawa angin kesejukan. Layaknya air di kala kemarau.
Setiap kau ingin menyebrang. Aku tak ingin membantumu. Meski kendaraan riuh di sepanjang. Karena aku takut, setelah itu kau akan menyebrangiku.Kau boleh menyebrangiku, asal tidak di depanku. Lewat belakanglah, karena aku tidak ingin kau tiba-tiba kembali hanya karena kau melihat air mataku.Ketika air menetes, tangan ini takmampu mengusiknya.
Payung yang ku genggam dan bunga yang ku bawa seolah membiarkan air ini terus mengalir. Malam yang dinanti pun datang. Jika tidak keberatan, boleh jika aku memberitahumu? Lekaslah tidur.
-Sabtu 22.19 WIB, jember, 18 Februari 2017















