“Nak, jangan!” Begitulah kalimat sederhana yang dilontarkan ayah atau ibu yang melihat anaknya berbeda dengan yang lain.
Padahal, itu adalah kesempatan bagi mereka memahami keinginan anak dan menggali potensinya. Ketika langkahnya masih dalam koridor yang bisa dikendalikan, jangan batasi. Terlebih larangan yang dilayangkan hanya karena alasan berbeda dengan lain. Secara tidak langsung itu menurunkan sisi kreativitas anak.
Terlepas dari itu, ku juga seorang anak yang merasakan proses untuk bisa berbeda dengan yang lain. Bukan, bukan karena mereka -figure yang hadir- tidak baik atau aku ingin mencari sensasi, melainkan ini tentang bagaimana kita mencari jalan sendiri.
Barangkali pengukuran kecerdasan dengan nilai IPA dan Matematika yang tinggi masih berlaku, itu sudah tidak lagi bagiku.
Jiwa ini rasanya merdeka, ketika memahami bagaimana jalan hidup dan tau kerangka akhirnya. Iya, aku meyakini ada yang perlu dipentingkan di atas segala-galanya. Itu yang membuat batinku terpenuhi, meski orang-orang di sekelilingku masih memberontak tak setuju dari apa yang mereka tunjukkan.
Yang Maha Pengasih lagi Penyayang
Izinkan aku menjadi berbeda, tapi percayalah -alasan aku ingin berbeda- hanya menginginkan kebahagiaan bersama orang-orang yang ku sayang di tempat terbaik kelak. Bukan menabung dosa yang kemudian berbunga riba, Na’udzubillaah...