Akibat Tidak Ada HRD
Sore ini aku membuka quora. Tidak ada tema khusus yang ingin aku baca. Tidak sengaja aku melihat postingan dari seorang Head Talent Management yang membahas apakah alasan resign harus disampaikan secara jujur ? supaya lebih jelas, bisa baca postingannya disini https://qr.ae/pr5VRb Kondisi di cerita tersebut sama persis dengan yang sekarang aku alami. Aku bekerja dengan atasan yang persis sama karakternya dengan yang digambarkan dicerita tersebut, tidak menghormati anak buah, memberikan arahan dengan hardikan dan cacian. Namun beruntungnya, Fina, karyawan yang diceritakan akan resign, mempunyai HRD yang mumpuni di kantornya. Berbeda dengan kantor saya, di tingkat UPT hanya ada “Tata Usaha” atau paling banter “Kepegawaian”. Sedangkan di tingkat pusat paling banter adalah Biro SDM. Tapi semua bagian tersebut saya rasa bekerja hanya untuk administrasi dan “peningkatan” SDM saja, tidak untuk “merawat SDM”. Di tahun ke-3 saya bekerja ini jujur saya sudah mulai jengah dengan kondisi kantor. Atasan saya ini mungkin lebih pas kalau dibilang diktator ya, karena akrab kali dengan hardikan, cacian dan ancaman. Selama 3 tahun ini pula tidak ada tindakan nyata untuk evaluasi. Evaluasi hanya berdasarkan kinerja, asal kinerja tercapai, dianggapnya baik. Evaluasi model seperti ini mungkin relevan jika diterapkan untuk staf, tapi untuk evaluasi pimpinan saya rasa terlalu mudah. Aspek manajerial nya tidak diperhatikan sama sekali. Hebatnya, dengan sifatnya yang sudah memakan hati banyak staf di kantor, tidak ada yang menegurnya. Selama 3 tahun saya bekerja, semua divisi sudah ada pergantian atasan, hanya divisi saya yang “terlewat”. Sejujurnya satu kantor tahu bagaimana perangai atasan saya ini. Namun, semua orang seperti berlomba-lomba menyelamatkan diri. Tidak ada yang mau bermain dengan air keruh. Sementara kami, bawahannya, dibiarkan merana.
Disini saya sedikit iri saat membaca kisah Fina di Quora, yang mana ia diberikan kesempatan untuk jujur dan juga iri melihat bagaimana HRD dari Fina dengan terbuka menerima kejujuran Fina serta siap melaksanakan penyelidikan. HRD tersebut sadar bahwa keluhan Fina bisa jadi improvement untuk kantor nya. Berbeda dengan kantor saya ini, yang selalu berusaha mempertahankan citra baik. Tapi sebenernya adalah healthy outside, suffocating inside. Saya sebenernya ingin mengadukan hal ini. Maksudnya bukan untuk menyulut peperangan tapi supaya kondisi lingkungan kerja lebih kondusif. Namun saya rasa teman-teman saya masih takut, yaa karena memang tidak ada yang back up sama sekali sih. We’re all on our own. Tapiiii, mau sampai kapaan seperti iniiiiii ????? Saya tidak rela rasanya membiarkan atasan saya ini merasa di atas angin, merasa semua tunduk pada dia. Apalagi di tahun ini makin menjadi-jadi sifat arogannya itu. Saya bisa paham kenapa dia seperti itu, kesimpulan saya adalah dia tahu tidak ada orang yang benar-benar respect ke dia, namun ketika punya jabatan, dia bisa mendapatkan hal itu walopun dengan cara yang tidak baik. Saat ini sebenarnya posisi eselon telah dihapus. Namun dia masih tidak rela melepas jabatanya, saya rasa dia ketakutan kehilangan powernya, maka dari itu belakangan ini dia makin seperti singa kelaparan. Namun saya sempat berpikir juga, mungkin ada salah juga dari kitanya karena kita membiarkan dan memberikan dia kesempatan untuk bertindak demikian. Mungkin ini saatnya harus ada yang bergerak. Speak up, chin up, because we are worth it. Bismillah.. Doa saya adalah jika memang ditempat ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya untuk saya maka tolong keluarkanlah saya dari kantor ini secepatnya. Dan gantikanlah dengan rejeki yang lebih baik. Namun jika Allah masih ingin saya belajar di sini, maka tolong kuatkanlah dan tabahkanlah hati saya dalam menerika semua ketetapan-Mu, dan tolong singkirkanlah atasan saya dari kantor ini (entah promosi or mutas or anything). Aamiin















