Sumatran Tiger Panthera tigris sondaica
1/29/2024 San Diego Zoo Safari Park, California
seen from Netherlands
seen from China

seen from Italy

seen from Italy

seen from United States

seen from T1

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from T1
seen from Italy
seen from Australia
seen from United States
seen from South Korea
seen from China
Sumatran Tiger Panthera tigris sondaica
1/29/2024 San Diego Zoo Safari Park, California
Selamatkan hutan rumah Gajah Sumatera dari kehancuran
🩶🐘🩶
Seribu Batu Songgo Langit
Seribu Batu Songgo Langit merupakan destinasi wisata Bantul yang menawarkan beragam atraksi menarik. Seperti pemandangan hutan pinus yang asri hingga spot foto yang kekinian. Kawasan wisata ini dibangun dengan gaya unik menggunakan tema negeri dongeng. Dimana terdapat Rumah Hobbit milik kurcaci yang muncul dalam film The Hobbit dan The Lord of The Rings.
Daya Tarik Seribu Batu Songgo Langit
Mayoritas pengunjung Seribu Batu Songgo Langit adalah kalangan muda mudi dan orang tua yang suka berburu foto instagramable. Sebelum menjadi destinasi wisata, lokasi Seribu Batu Songgo Langit termasuk kawasan hutan pinus yang memiliki ratusan bahkan ribuan batu. Keberadaan batu-batu tersebut seolah-olah menjadi tiang penyangga langit.
Berbicara tentang daya tarik Seribu Batu Songgo Langit sebagai destinasi wisata bisa dilihat dari beragam atraksi yang ditawarkan. Seperti berikut ini.
Pepohonan Pinus Rindang
Wisatawan yang datang ke Seribu Batu Songgo Langit pasti merasa betah berlama-lama. Karena melihat pemandangan pepohonan pinus rindang dari sejak kedatangan. Deretan pohon pinus yang asri juga membuat udara terasa sejuk. Di sini kamu bisa bersantai menghabiskan waktu bersama pasangan atau teman-teman.
Spot Foto Anti Mainstream
Seribu Batu Songgo Langit adalah gudangnya spot foto instagramable dengan background barisan pohon pinus anti mainstream. Kamu akan menjumpai spot foto jembatan kayu panjang berhiaskan lampu yang estetik pada malam hari. Kemudian ada spot foto berupa panggung hiburan, dimana terdapat tempat duduk bertingkat di tengah-tengah hutan pinus.
Ada juga spot foto Rumah Seribu Kayu yang merupakan deretan rumah kecil berbentuk segitiga yang terbuat dari ranting dan kayu di tengah hutan yang rimbun. Di bagian atas terdapat papan bertuliskan "Rumah Seribu Kayu Negeri Dongeng", memberikan kesan magis dan alami. Jalan setapak dari batu mengarahkan pengunjung menuju rumah-rumah unik tersebut, menciptakan suasana seperti berada di dunia dongeng.
Selanjutnya, Rumah Hobbit yang menjadi alasan mengapa banyak orang datang ke Seribu Batu Songgo Langit. Rumah Hobbit dibuat seperti cerita dongen dan kehadirannya membuat tempat wisata ini semakin menarik. Untuk saat ini setiap spot foto tidak dikenakan tarif tambahan, sehingga kamu bisa sepuasnya mengambil selfie. Bahkan, disini kamu bisa bermain kelinci-kelinci lucu, hanya dengan Rp2.000 kamu sudah bisa memberi makan mereka sepuasnya!
Glamping
Seribu Batu Songgo Langit juga menawarkan paket glamping bagi pengunjung yang ingin mencoba bermalam dengan suasana khas hutan pinus asri. Selama glamping, tentu akan ada banyak pengalaman menyenangkan. Kamu tidak perlu khawatir soal fasilitas, karena pihak pengelola sudah menyediakan berbagai hal. Mulai dari ranjang, lemari, meja, sofa, televisi, hingga lampu tidur. Saat merasa lapar, kamu bisa mengisi perut di warung kuliner sekitar objek wisata ini.
Wahana Permainan Menantang
Hal yang sangat menarik di Seribu Batu Songgo Langit selain Rumah Hobbit dan glamping adalah wahana permainan menantang. Mulai dari flying fox hingga ayunan besar untuk dinaiki. Kamu bisa mencoba semua wahana yang ada selama tempat wisata ini buka.
Lokasi dan Rute Menuju Seribu Batu Songgo Langit
Lokasi Seribu Batu Songgo Langit yaitu di Jalan Hutan Pinus Nganjir, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sudah mudah dijangkau dengan motor, mobil, mini bus, maupun big bus berkat akses jalan yang bagus. Untuk durasi perjalanan ke Seribu Batu Songgo Langit, apabila kamu berangkat dari pusat Kota Yogyakarta hampir 1 jam dengan jarak tempuh sekitar 22 KM. Kamu bisa mengambil rute berikut.
Menuju Jalan Imogiri Barat dan lanjut ke Imogiri-Dodongan / Jalan Imogiri-Dlingo / Jalan Mangunan – tiba di Mangunan ambil arah Jalan Hutan Pinus Nganjir menuju tujuan wisata di Sukorame.
Jam Buka dan Fasilitas di Seribu Batu Songgo Langit
Destinasi wisata ini bisa dikunjungi setiap hari mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Untuk jam buka Rumah Hobbit mengikuti jam buka Seribu Batu Songgo Langit, karena merupakan bagian dari kawasan wisata tersebut. Jika ingin berkunjung, maka waktu terbaiknya adalah pada pagi hari atau sore hari. Dengan demikian, kamu bisa menghirup udara segar khas perbukitan sekalian menghindari terik matahari.
Seribu Batu Songgo Langit juga sudah dilengkapi beragam fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Berikut diantaranya:
Papan informasi.
Taman
Warung makanan dan minuman.
Area parkir kendaraan yang luas dan aman.
Toilet bersih dan nyaman.
Mushola dengan perlengkapan sholat.
Tempat sampah di beberapa area.
Spot foto rumah hobbit dan masih banyak lagi.
Harga Tiket Masuk Seribu Batu Songgo Langit
Untuk masuk ke Seribu Batu Songgo Langit, kamu harus membeli tiket dan membayar parkir kendaraan. Harga tiket yang dipatok sangat terjangkau, yakni sebesar Rp. 5.000 per orang. Sementara parkir kendaraan akan dikenakan harga sebesar Rp. 2.000 untuk motor dan Rp. 5.000 untuk mobil.
Seribu Batu Songgo Langit merupakan destinasi wisata Bantul yang menawarkan beragam atraksi menarik. Seperti spot foto kekinian hingga peman
Hutan pinus mangunan
Hutan Pinus Mangunan adalah hutan pinus yang terletak di Sukorame, Mangunan, Dlingo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebelum wisata ini dikenal banyak orang, hutan ini dulunya merupakan kawasan tandus. Karena tandusnya kawasan tersebut pengelola hutan pun melakukan penghijauan dengan menanam beberapa pohon diantaranya ada pohon pinus, pohon akasia, mahoni dan masih banyak lagi. Lama kelamaan karena penghijauan tersebut dilakukan oleh pengelola hutan akhirnya membuahkan hasil. Selain menjadi hutan lindung, kawasan hutan ini juga dijadikan sebagai objek wisata. Dan dibangun fasilitas pendukung agar membuat pengunjung merasa nyaman yaitu seperti toilet, mushola, gardu pandang, panggung dengan kursi-kursi yang dibuat dari kayu dan di tata dengan rapi.
Rute
Pengunjung dapat pergi ke destinasi ini dengan cara ke selatan, lalu menyusuri Jalan Imogiri Timur. Butuh waktu sekitar 45 menit sampai satu jam jika berkendara dari Malioboro, dan butuh waktu 35 sampai 45 menit jika berkendara dari Terminal Giwangan di Kota Yogyakarta.[1] Karena tempatnya yang jauh dari pusat kota dan berada di medan pegunungan, maka disarankan supaya mengunjungi Hutan Pinus Mangunan ini menggunakan kendaraan kecil saja seperti motor dan mobil roda empat.[2]
Fasilitas
Di Hutan Pinus Mangunan terdapat panggung yang lengkap dengan kursi-kursi kayu tersebut di buat berdasarkan alam sekitar dan menjadi ikon dari Hutan Pinus Mangunan. Wisatawan dapat menikmati indahnya alam dengan duduk-duduk santai di kursi kayu tersebut. Dengan duduk-duduk di kursi kayu tersebut dapat menghilangkan rasa penat dari aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Selain panggung, di hutan ini juga terdapat fasilitas yang lengkap diantaranya gazebo, gardu pandang, musholla, toilet, warung makan, taman bunga, sewa hammock, bahkan di hutan ini juga disediakan untuk tempat bercamping. Di hutan ini terdapat spot foto yang Instagramable dan bisa dimanfaatkan untuk mengabadikan momen dengan berfoto ria, tak heran banyak wisatawan yang memburu tempat ini.
tumbuh dan kuat
Mengapa Alam?
Ke alam adalah pulang. Memperkuat relasi dengan seluruh bumi dan juga diri. Merasakan dan merenungkan segala hal yang biasanya tenggelam atau terlupakan dalam kesibukan sehari-hari. Apakah harus alam? Ya.
Pergi ke alam bukanlah sekadar melepaskan penat dan menghibur mata dengan yang ijo-ijo. Mendaki gunung dan berenang di lautan adalah menemukan ketenangan dan berbincang dengan diri sendiri. Dalam perjumpaan dengan alam, kita diingatkan kembali tentang betapa lemahnya manusia. Kalau Anda mencoba mengalahkan hujan badai di pegunungan atau arus lautan yang dasyat, bagaimana rasanya? Kita kerap merasa begitu hebat dan penting. Namun, di hadapan alam yang berkekuatan besar, kita hanya menjadi satu bagian mungil.
Salah satu hal favorit saya di alam adalah menjadi pendengar. Ketika menyelami lautan dan memasuki hutan, saya senang mencoba menerka dari mana datangnya suara-suara unik. Sering sekali saya salah, apa yang saya kira burung ternyata serangga atau bahkan kera. Begitu juga dengan suara-suara laut. Tahukah Anda suara terumbu karang? Kertak (crackle) dan kersak (rustle) yang khas, sangat sulit dideskripsikan. Suara yang mungkin terdengar seperti audio rusak bagi kebanyakan orang, namun menunjukkan betapa lively kehidupan hewan-hewan di terumbu karang (kalau Anda sama sekali tak bisa membayangkannya, mungkin video ini dapat membantu ☺️).
Betapa banyaknya hal yang perlu kita pelajari untuk memahami alam ini. Betapa jauhnya kita mencoba memetakan tata surya yang luas, padahal Bumi saja belum diselami seutuhnya.
Di alam, kita juga menjadi versi diri yang lebih tulus. Perbincangan terjadi tanpa beban. Saling bantu dilakukan tanpa banyak pertimbangan. Tempat ini seakan secara instan mengubah kita menjadi orang yang lebih baik. Rasakanlah sendiri naik gunung dan bertemu pendaki lain. Bisakah sebuah percakapan acak dengan orang asing terjadi semudah itu jika tidak di gunung? Tak peduli apa merek pakaian atau latar belakangmu, semua di gunung adalah teman seperjalanan. Sama-sama mendaki menuju puncak yang sama.
Pergi ke alam juga mengajari kita untuk dekat dengan makhluk hidup lain. Masuk ke ‘rumah’ yang berbeda dengan segala aturan yang harus dihormati. Perjumpaan dengan hewan-hewan lain, sekecil atau sebesar apapun, seharusnya mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah satu spesies di bumi. Relasi yang hendaknya kita bangun bukan didasari rasa ingin menguasai atau mendominasi, melainkan saling menghargai. Di teritori mereka, kita mungkin merasa rapuh dan lemah. Terkadang bahkan merasa tidak aman. Pernahkah Anda mencoba berpikir, seperti itu jugakah yang dirasakan hewan-hewan di Bumi yang kian hari makin tak ramah bagi mereka? Seperti itukah rasanya masuk ke tempat yang asing dan penuh dengan hal-hal yang tidak kita ketahui?
Segala hal di alam merupakan guru yang tidak mengajari dengan teori, tetapi praktik yang perlu kita telaah dan resapi dengan perlahan. Seperti cerita-cerita di film jadul, seorang murid harus mengikuti gurunya 24 jam sehari dan melihat bagaimana cara melakukan berbagai hal. Begitu juga dengan alam. Makin banyak kita melihat lebih dekat, makin banyak pula petuah yang ia berikan.
Nilai-nilai moral bertebaran di setiap lengkung akar dan buih air. Kita belajar bahwa segala sesuatu ada masanya dari buah yang berproses dengan sabar dari sebutir biji hingga ranum. Kita belajar bahwa badai sebesar apapun akan berlalu dan berganti dengan hangat pijar matahari. Kita belajar bahwa tanaman tak saling iri dengan bunga lain, justru keberagaman menjadikan semua indah. Setiap jengkal alam mengajarkan nilai-nilai yang baik bagi siapapun yang peka dalam mengindra.
Melupakan alam sama dengan membuang kulit kita. Identitas dan dasar keberadaan kita.
Bila Anda merindu alam, sudah sewajarnya.
Dekapannya memang selalu memanggil kita pulang.
Ada kecukupan di dunia untuk kebutuhan manusia, tetapi tidak untuk KESERAKAHAN manusia.