Ibnu Hazm Al-Andalusy rahimahullah dalam kitabnya Akhlaq wa As-Siyar menjelaskan bagaimana beliau berjuang memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada diri beliau. Beliau berkata,
”Ada banyak kekurangan pada diriku, yang aku terus-menerus melatih diri, menelaah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang istimewa dari kalangan orang-orang bijak pada masa lampau dan masa belakangan dalam masalah akhlaq dan adab diri. Aku bersusah payah mengobati diri hingga Allah memberi pertolongan dalam mengobati mayoritas kekurangan-kekurangan tersebut dengan taufiq dan karunianya.”
Kemudian beliau menyebutkan kunci awal dan pokok dalam mengatasi hal tersebut. Beliau melanjutkan,
“Adil yang sempurna, bentuk olah jiwa, dan tindakan realistis adalah dengan mengakui adanya kekurangan diri.”
Ini adalah hal yang nampaknya mudah. Namun diri ini terkadang ketika mendengar nasihat/ceramah mengenai suatu sifat buruk cenderung akan mengarahkan kaca mata pada orang lain dan lupa untuk melihat pada diri sendiri terlebih dahulu. Sebagai contoh ketika menerima nasihat mengenai bahaya-bahaya kesyirikan. Kadang ketika diri merasa sudah belajar sehingga merasa sudah aman dari bahaya syirik dan mengarahkan nasihat tersebut pada orang lain. Padahal Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja, yang beliau adalah kekasih Allah, masih berdoa untuk dijauhkan dari kesyirikan menyembah berhala. Maka tentu kita lebih butuh untuk selalu introspeksi dan selalu berdoa supaya dijauhkan dari kesyirikan.
Setelah itu Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah menyebutkan kekurangan-kekurangan beliau dalam poin-poin, juga bersamaan dengan bagaimana usaha beliau dalam memperbaikinya. Ini menunjukkan bahwa seorang sekelas ulama seperti beliau pun masih berjuang melawan aib-aib dirinya. Tentunya diri ini yang sangat jauh levelnya dari para ulama lebih perlu untuk berjihad melawan diri sendiri.
Semoga Allah mudahkan kita semua.
Faidah dari kajian Ustadz Aris Munandar hafizhahullahu ta’ala.