Sebenarnya, Ibu sedang kenapa?
Pernah kah kamu termenung sendirian, merelakan sang kala berlalu begitu saja sambil memandangi Ibu, dengan isi kepala yang amat berkecamuk? Dengan hati yang amat berat dan hampir retak, tak sanggup untuk hanya sekedar mengangkat kepala yang telah tertunduk terlalu dalam. Malam ini, kupandangi Ibu lebih lama dari biasanya. Kurenungkan Ibu lebih dalam dari biasanya. Kukenang Ibu lebih jelas dan perih daripada biasanya.
Belakangan ini, Ibu tidak baik-baik saja.
Ibu tampak kesakitan dan berderai lautan air mata.
Biasa nya, Ibu kuat.
Biasa nya, Ibu kokoh.
Biasa nya, Ibu menyimpan semua nya sendiri.
Biasa nya, tangisan Ibu tak terdengar sepilu ini.
Atau...telinga ku yang tuli?
Sebenarnya bu, Ibu kenapa?
Sebenarnya bu, apa yang sedang terjadi?
Atau...mengapa semua ini terjadi bu?
Apakah insan-insan angkuh yang tangan nya terbuat dari baja dan hatinya terbuat dari duri itu, anak Ibu juga?
Apakah seruan-seruan untuk saling menyakiti dan merampas semua yang telah Ibu berikan pada kami, diserukan oleh anak Ibu juga?
Apakah monster-monster yang memburu kehidupan dan masa depan kami yang tak jelas arah nya ini, dilakukan oleh anak Ibu juga?
Apakah hati-hati busuk yang menghancurkan hati yang Ibu tanamkan pada kami ini, anak Ibu juga?
Atau... Apakah mereka yang bersatu menghancurkan dan menciderai ibu dengan sangat bengis dan sadis, masih anak Ibu juga?
Sebenarnya, Ibu sedang Kenapa?
Mengapa ini semua terjadi, bu?
Rasanya sakit bu.
Rasanya perih.
Rasanya seperti leher kami digantung diatas tanah kami sendiri.
Rasanya kami tak sanggup bu.
Rasanya seolah-olah... untuk saat ini, meninggalkan Ibu adalah pilihan yang terbaik. Rasanya, rumah kami telah hancur dan hangus luluh lantah.
Tapi bu, dari awal... apakah 'rumah' ini benar-benar milik kami?
Jika iya, mengapa kami dihabisi di tanah kami sendiri?
Mengapa kami dibantai di rumah kami sendiri?
Mengapa rasa nya berada di rumah kami sendiri, sangat menyakitkan?
Bu, Apakah kami akan bertahan?
Bu, Apakah esok mentari masih akan menyinari kami lagi?
Atau bu... Apakah ada hari esok untuk kami?
Ibu merasa tak terima ya?
Ibu pasti mendengar jeritan kami ya?
Kami cinta Ibu.
Kami bangga punya Ibu.
Kami akan selalu menjadi darah kepunyaan Ibu.
Kami akan selalu pulang ke Ibu.
Tapi bu, semoga esok semua nya tak tetap sama ya?
Semoga, esok Ibu kembali kuat ya?
Semoga, esok Ibu dapat kembali mendekap kami ya?
Semoga... mereka berhenti menyakiti Ibu ya?
Semoga, segera kami temukan senyum hangat Ibu yang selalu menjadi petunjuk kami untuk pulang.
Salam Cinta,
untuk Ibu Pertiwi.