Sarapan saya tiap pagi tidak lagi disuap sepotong roti dan air putih, melainkan menikmati suasana jalan dari dalam Transjakarta yang dipenuhi manusia dengan segala kepentingannya. Belum genap pukul delapan di mana biasanya mahasiswa memulai kelas atau bagian dari korporat antre mengisi presensi, transportasi andalan masyarakat Jakarta yang saya naiki hampir penuh seratus persen.
Biasanya jika tidak sedang membaca buku untuk membunuh waktu, saya sering memandangi gedung pencakar langit yang semakin menjamur di setiap sudut kota layaknya tanaman subur yang batangnya terus tumbuh cepat. Kendaraan-kendaraan pribadi yang datang dari berbagai simpangan tak mau kalah ikut menyesaki jalan ibu kota. Pedagang asongan sesekali terlihat maju sibuk menawarkan tisu, rokok, hingga masker dari satu pengemudi ke pengemudi lainnya. Mereka tak menyerah, hari ini harus ada rupiah yang bisa dikantongi, setidaknya bisa untuk membeli makan atau cukup menafkahi keluarga di rumah.
Kalau tidak mengamati suasana di luar, biasanya saya membiarkan pikiran saya berjelajah. Barangkali membayangkan dari sekian banyak orang yang saya temui pada hari itu masing-masing sedang memikul harapan yang harus dituntaskan. Entah itu hanya ekspektasi belaka atau doa yang diucapkan sebelum berangkat. Namun dalam waktu dekat, saya yakin manusia-manusia dalam Transjakarta ini punya maksud sama, yaitu sampai tujuan dengan selamat.
Mungkin di dalam bus ada karyawan yang sedang berkeinginan agar pekerjaannya di kantor nanti dikurangi setelah lembur, ada ibu yang berharap agar atasannya memberi keringanan cuti kehamilan, ada mahasiswa yang berdoa agar ujiannya dimudahkan, atau pengangguran yang menebak-nebak pertanyaan apa yang akan diajukan saat wawancara pekerjaan nanti dan bagaimana ia menjawabnya dengan hati-hati. Kita tahu manusia memiliki kompleksitasnya masing-masing yang mengisi jiwa serta pikiran. Tersembunyi dan sulit untuk dibaca.
Di antara manusia-manusia yang tadi saya pikirkan, tak satu pun pandangan saya menangkap seseorang yang tatapan mata miliknya mampu mengunci otot mata saya berkedip sesaat. Biasanya kami akan berpas-pasan di sebuah halte setelah sama-sama transit untuk naik koridor berikutnya. Saya memang punya minus yang agak tinggi hingga harus memakai kacamata, tapi saya yakin hari ini saya benar-benar tidak melihatnya. Apakah dia berangkat lebih siang? Atau justru tidak masuk?
Saya sedikit kecewa. Padahal di samping senang menggunakan transportasi umum—dalam konteks tertentu, pergi sendiri sudah saya anggap obat atau hiburan sebab sendirian terkadang menjadi pengalihan penat—dan beradu mata dengan seseorang yang saya maksud tadi mampu menaikan energi saya. Hanya dengan sebuah tatapan, perasaan saya menjadi penuh dan tenang. Kalau boleh saya gambarkan hanya dengan beberapa kata, maka saya akan berujar; miliknya meneduhkan.
Kami tak saling mengenal, tapi saya pernah tak sengaja melirik kartu pengenal yang ia kenakan ketika berdiri tepat di sampingnya. Sejak saat itu, saya mengingat namanya baik-baik seolah itu adalah perkara penting berharga yang tak boleh saya lupakan. Setelah berkali-kali berusaha membantah perasaan sendiri, saya menerima bahwa saya telah jatuh cinta. Ini asing sekaligus aneh untuk saya, bagaimana bisa terjatuh dengan seseorang yang bahkan tidak mengetahui eksistensi saya? Tapi itulah kehidupan dapat dimaknai. Dibanjiri pertanyaan yang belum tentu terjawab atau layaknya sebuah kepingan dan kita diminta menyelesaikan teka-teki tanpa ada petunjuk yang mana pada tiap bagian terdapat lika-liku penuh kejutan.
Sudah saya katakan bahwa saya jatuh cinta. Tapi pernah suatu malam ketika pikiran sedang semrawut, saya bertanya-tanya sendiri. Cinta apa yang sedang saya rasakan sebenarnya? Pun jika ditanya apa itu cinta, saya lebih memilih untuk tersenyum atau menggeleng sambil bergumam tidak tahu sebab sedikit pengetahuan yang saya miliki mengenai makna cinta. Atau pernah saya membuat konsep cinta itu sendiri; belajar dan tak terbatas. Tiap orang boleh memiliki arti cintanya sendiri, itu valid, begitu pula dengan konsep saya.
Perasaan sering kali lahir tanpa dikenali atau memang kita yang kurang pandai menjelaskannya. Saya pernah membaca pandangan filsuf Yunani kuno, di mana ada delapan jenis cinta yang dirasakan oleh manusia. Eros, Philia, Agape, Storge, Mania, Ludus, Pragma, dan Philautia.
Eros didefinisikan sebagai cinta erotis atau merepresentasikan romansa, gairah, dan terkadang diikuti ketertarikan secara seksual. Philia adalah cinta kepada sesama atau diasosiasikan pula dengan menyayangi teman serta sabahat di mana memiliki ikatan kesetiaan dan rela berkorban tanpa ada ketertarikan sesual. Sementara itu Agape menggambarkan cinta tak bersyarat, sukarela, dan tanpa pamrih. Mencintai Tuhan misalnya.
Kemudian Storge memiliki arti mencintai disertai muncul keinginan untuk menjaga, melindungi, sampai membahagiakan orang lain. Cinta ini biasanya berhubungan dengan cinta orang tua kepada anak atau kerabat yang paling dekat. Sedangkan Mania atau cinta yang diwarnai dengan tindakan obsesif dan cemburu. Lalu pengertian sederhana dari Ludus yakni cinta monyet yang lebih mengutamakan kesenangan.
Selanjutnya, Pragma adalah cinta abadi yang didasari pikiran logis serta realistis. Disebut pula abadi lantaran memiliki jangka waktu yang bertahan lama. Terakhir Philautia dengan definisi mencintai diri sendiri. Ya, dari sekian banyak jenis yang mungkin pernah kita rasakan tanpa kita sadari, mencintai diri sendiri itu cukup. Jangan sampai terlalu asyik mencintai orang lain sampai melupakan diri sendiri.
Alih-alih memahami apa yang saya baca, pertanyaan saya justru bertambah, mempertanyakan soal mengapa bisa saya jatuh cinta bahkan di saat saya belum mengenalnya? Bekal saya hanya sebatas nama, tapi saya berani jamin, namanya tidak pernah tidak saya sebut seusai ibadah. Titah-titah baik sering saya ucapkan meski ia tidak pernah tahu. Ingat, dia tidak pernah tau pula kehadiran saya di bumi.
Saya manusia lemah, jadi kekuatan saya hanya doa. Amunisi saya berupa lisan yang berucap atau suara hati yang hanya bisa didengar langit. Perihal mau dikabulkan atau tidak, jelas itu bukan jangkauan saya lagi. Setidaknya saya telah menyampaikan maksud, walau bisa saja langit, malaikat, atau bahkan jin, makhluk-makhluk serupa lain yang memiliki kemampuan pendengaran hebat bosan atau sampai tertawa mengetahuinya. Satu hal yang harus diingat: saya menjaganya lewat doa.
Setelah menyebut nama Tuhan dan memujinya dengan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, namanya saya lafalkan pelan-pelan:
Semoga keberuntungan memihaknya hari ini, semoga sarapannya mengenyangkan, semoga tinta pulpennya tidak macet ketika menulis, semoga jaringan di kantor begitu bagus hingga ia dapat menyelesaikan semua tugas, semoga relasinya memberikan energi positif yang menularkan, semoga ia masih bisa menyempatkan diri untuk tidur siang, semoga ia bisa melunasi segala ambisinya. Semoga saya masih punya kesempatan menatap matanya yang kecokelatan. Semoga Tuhan berkenan mengabulkan keinginan saya. Amin. Amin.
Saya tidak sampai hati untuk mengajaknya berkenalan. Biarlah perasaan ini mengalir seperti air tenang yang akan hanyut ke hulu sungai sebelum mencapai laut. Mengagumi dalam diam dan melihatnya paling memikat di tengah sesak manusia sudah lebih dari cukup menstimulasi hormon serotonin saya. Biar saya merasa hanya perlu melampiaskan perasaan dengan doa.
Takdir adalah rahasia langit dan segala catatan sudah tertulis rapi tanpa sepengetahuan manusia. Ia tahu ke mana harus pulang. Jika dianalogikan dengan kapal, ia sudah hapal arah mata angin mana yang harus diikuti, dan di tempat mana ia akan berlabuh. Semoga jika tidak saya melihatnya pagi ini, setelah jam kantor usai, ia ada di antara banyak manusia yang kembali ke rumah dengan segala keresahan.
Sampai pemberhentian koridor terakhir, ia sama sekali tak memunculkan batang hidungnya. Tidak ada sosok yang sedang saya tunggu-tunggu. Semoga masih ada hari esok, pikir saya. Jika tidak esok, mungkin esok lagi, dan seterusnya.