Antara Jari Jemari dan Mulut
"Dari Sabang sampai Merauke bejajar pulau-pulau, sambung-menyambung menjadi satu itulah Indonesia....," sepotong lirik dari lagu nasional tersebut menggambarkan betapa luasnya Indonesia. Masyarakatnya pun harus berjuang untuk berkomunikasi antar pulau, apalagi era 1945-1990an teknologi komunikasi Indonesia belum begitu berkembang. Masih mengandalkan Pos pada era tersebut.
Selain teknologi yang masih belum berkembang, kediktatoran rezim orde baru seperti membungkam kebebasan berbicara, berpendapat dan berkomunikasi untuk menyampaikan informasi. Namun, Indonesia pun berhasil meraih kebebasannya dengan darah-darah yang berkorban untuk menjatuhkan rezim otoriter tersebut.
era akhir 1990an sampai 2000an jaringan telepon kabel mulai berkembang pesat, lalu alat komunikasi bernama pager pun sudah terkesan mewah. Kemudian, telepon genggam sebesar tempat pensil besi anak Sekolah Dasar sedang mencapai masa ketenarannya.
Periode 2002an mulai lahir telepon genggam yang berukuran lebih kecil dari sebelumnya sehingga lebih nyaman di pakainya. Pager pun mulai ditinggalkan dan dunia internet perlahan masuk ke kehidupan masyarakat biasa. Komunikasi dengan daerah atau pulau lain yang tadinya agak sulit sekarang pun menjadi lebih mudah. Walaupun harga yang harus dikeluarkan saat itu memang masih cukup tinggi.
Lalu, era 2003 seterusnya mulailah berkembang dengan pesat berbagai jejaring sosial yang membuat anak muda tergila-gila berjam-jam di warnet untuk berkomunikasi lewat jejaring sosial. Belum lagi, perkembangan telepon genggam yang pesat mengeluarkan berbagai model yang menarik. Selain itu, harganya pun sudah lebih terjangkau karena persaingan antara satu vendor dengan lainnya.
Sampai pada tahun 2012 ini, sudah banyak hadir smartphonedari berbagai vendor yang menawarkan berbagai fasilitas untuk menikmati berkomunikasi jejaring sosial dengan rekannya yang berada di manapun. Sampai ada yang seharian penuh mantengin Smartphonenya karena terbawa ke dalam dunia maya dan enggan berkomunikasi di dunia nyata.
Bahkan, tampaknya dunia maya lebih digandrungi dan menjadi tempat nongkrongnya anak muda di setiap harinya. misalnya saja, di kelas, setiap siswa dan mahasiswa pasti ada yang jari jemarinya terus menempel di smartphonenya untuk terus menjaga komunikasi dengan teman dekat atau mungkin kekasih yang nan jauh di sana. Sampai teman di sebelah pun yang berbicaranya terkadang tak dihiraukan bila komunikasi di dunia maya sedang seru-serunya.
Jadi ingat pada dulu masa kecil sebelum adanya teknologi itu, berkomunikasi hanya bila bertemu. Paling keren saat itu sekitar periode 2000an adalah bertelepon-telepon kabelan atau telepon rumah antar teman untuk sekedar menanyakan pekerjaan rumah dari guru atau janjian bermain. Namun, fenomena yang unik adalah saat dulu belum adanya teknologi seperti jejaring sosial, Instant Messaging dan telepon genggam, bila janjian waktu dan tempat yang telah ditentukan saat di telepon atau pertemuan sebelumnya maka akan datang tepat waktu dan saling percaya satu sama lain kalau nanti akan kumpul.
Berbeda dengan sekarang, untuk kumpul untuk acara nongkrong dan sebagainya saja ada banyak keraguan seperti apakah sudah datang yang lain atau belum, apakah benar jadi dan sebagainya. Sehingga banyak pesan singkat yang terkirim untuk menanyakan hal tersebut imbas dari keraguan. Kemudahan komunikasi karena teknologi ini membuat anak muda menjadi manusia yang ragu. Padahal, seharusnya kemudahan komunikasi ini membuat halangan waktu dan tempat bisa diselesaikan bukannya membuat keraguan dalam diri para penggunanya.
Komunikasi seharian itu berarti tak hanya intensif di dunia maya, memegang smartphonenya dan tak menghiraukan teman-teman disekitarnya yang sekedar ngerumpi politik atau seleb lainnya. Tapi, juga melakukan komunikasi interpersonal dan kelompok yang nyata sehingga kebebasan berkomunikasi satu sama lain bisa terekspresikan langsung dari pikiran ke mulut dengan berbicara.
Pasti beda kan ketika pikiran turun ke jari jemari dengan pikiran ke mulut. Walaupun memang ada manusia yang terbiasa atau sudah nyaman berkomunikasi dari pikiran ke jari jemari. Namun, akibatnya adalah pandangan orang sekitarnya memandang seorang individu yang hanya jari jemarinya aktif, tapi pendiam. ***

















