2 Agustus lalu, pada malam hari usai sholat Maghrib aku sedang tilawah Al-Qur'an di ruang tamu, sedang suamiku di kamar masih bercakap-cakap dengan Ummi via telepon. Dalam perjalananku menikmati lantunan ayat suci yang keluar dari mulutku sendiri, tetiba ada suara dan getaran yang tak biasa kurasakan. Iyah, aku bisa mengetahui bahwa itu gempa. Aku langsung berucap innalilah dan banyak beristighfar sambil mencari suamiku. Aku tidak langsung keluar rumah sebelum menemui suamiku.
"Ka, ada gempa bumi"
Suamiku langsung terdiam dan mengamati suara.
"Gempa? Ayo keluar" ajak suamiku dengan tenang. Namun, justru Ummi yang mendengar percakapan kami, spontan menangis lalu berdoa "Yaa Allah, lindungilah anak-anakku, Yaa Allah jauhkan anakku dari marahabaya ..." Suamiku berusaha meyakinkan ke Ummi kalau gempanya tidak apa-apa sambil kami keluar ke rumah dan mengakhiri teleponnya.
"Ayo, pakai gamis dan jilbabnya" ujar suamiku.
Akupun membuka mukenahku dan memakai gamis jilbab dan cadarku. dan setelah itu kami berdua keluar rumah, hanya Al-Qur'an yang kupegang dan kubawa, dan benar-benar tidak memikirkan hal yang lain lagi.
Para tetangga sudah dari tadi berada di luar rumah. Kami berbaur dengan tetangga dan Alhamdulillah gempanya hanya terjadi sekali dan tidak ada gempa susulan lagi. Saat itu juga kami mendapat informasi bahwa pusat gempa ada di Banten.
Ya Allah, sungguh menjadi bahan renungan. Kami saja yang berada jauh dari pusat gempa sudah mulai merasakan ketakutan dan kepanikan, bagaimana dengan saudara-saudara kita di Banten atau yang lebih dekat dengannya. Kepanikan membuat orang berfikir tuk menyelamatkan diri sendiri. Ada yang masih ingat dengan keluarga atau teman-teman dan tetangganya. Adapula yang berusaha menyelamatkan hartanya.
Ya Allah, sungguh menjadi renungan, bagaimana dengan hari penghisaban? Masih adakah yang mampu berfikir jernih dan mengingat orangtuanya, mengingat suami, istri atau anak-anaknya? Apalagi dengan harta bendanya?
Laa haula wa la kuwwata illah billah...
Yaa, Allah kami berlindung pada-Mu. Kami takut dan kami harapkan ridha dan rahmat-Mu. Kumpulkan kami bersama keluarga kami, saudara seiman kami, dengan kumpulan orang-orang sholeh di surga. Aamiin Allahumma Aamiin
Depok, Agustus 2019
@catatanmahasantri













