Film pertama Wes Anderson yang saya tonton adalah Fantastic Mr. Fox waktu SMA. Saat itu belum menggeluti internet seperti sekarang, jadi nihil info tentang kejeniusan Wes Anderson. Niat nontonnya adalah “ada adaptasi Fantastic Mr. Fox! Hore, hore, hore hatiku gembira” bukannya “ada film baru Wes Anderson. Wah… senangnya!” Hmmm, betapa dewasanya saya sekarang. Siap nonton Fantastic Mr. Fox tidak bikin saya langsung ‘lapar’ dengan karya-karyanya Wes Anderson. Saya menahan diri, yah, mau bagaimana, akses untuk itu tidak ada. Tahu The Royal Tenenbaums gara-gara Little Miss Sunshine (yang akan dibahas di post selanjutnya, nantikan ya!… kata yudho ke tanah gersang di bawah terik matahari, angin bersiul dan pasir bergulung, sekelilingnya senyap). Little Miss Sunshine bikin saya ketagihan nonton keluarga disfungsional, jadilah nyari daftar film terbaik tentang itu. Untungnya semua daftar berisi film bergenre komedi. Hati nurani saya tidak siap menghadapi remaja yang terbebani dengan tingkah polah keluarganya dengan menutup diri, menulis puisi dan hal sengsara lain yang membuatmu berpikir kalau dia akan bunuh diri. Tidak semua-mua harus drama, kan? Apa-apa berakhir dengan airmata. Bersedih sesekali perlu, tapi tidak melulu. Di tangan Wes Anderson tema begini jadi 'cerah’ ini dapat juga diartikan harafiah, tiap frame penuh warna layaknya lukisan yang bisa di capture buat dijadiin walpaper. Saya suka cara Wes Anderson bercerita. Tiap karakter di The Royal Tenenbaums punya masalah yang tragis. Keluarga ini nasibnya benar-benar malang dibalik keeksentrikan mereka. Jadilah hal-hal pahit yang canggung keluar sebagai guyonan. Wes Anderson seakan bilang, “Tertawakan aja, Njing, tertawakan.” Begitu. Tenenbaums unik, serasa berada di dunia lain tapi terasa dekat sekali sehingga mudah saja buat kita untuk bersimpati. Tutup kata, di benak saya, hidup saya diarahkan oleh Wes Anderson makanya saya tidak ambil pusing dengan segala permasalahan... mungkin karena saya tidak otak. Haha… dark comedy!













