Satu tetes air hujan yang menimpaku rupanya sudah menjadikanku basah. Kudangakkan kepalaku menghadapmu, menyuarakan semua gelisah. Seketika dalam hati aku bertanya; "apakah kau datang dari satu arah?". Kau merangkulku dengan tetes-tetes air hujan dan muka merona merah.
"aku datang dari atas menuju keberadaanmu di bawah, aku mengenal angin, aku dekat dengan petir dan aku tertidur pulas di dalam awan"
Seketika aku membuka mata dan menjawabmu; "Kau pasti tahu rasanya bergelut dengan panas matahari, kau pasti tahu rasanya menari bersama angin, kau pasti tau rasanya ketakutan melihat petir dan kau juga pasti tahu betapa lembutnya awan memeluk tidurmu. Tapi mungkin kau belum tau, kau turun menuju padaku lalu kau kembali keatas dan tidak akan merasakan apa yang kau rasakan sebelumnya, karena langit adalah rumah yang selalu berubah. Tapi aku tahu pasti, kau tidak akan berubah karena kau adalah hujan".
Ditulis oleh: IRSAL MAKSUM