Ingin jadi Penulis
Hari ke-29, yang sebetulnya sejak kemarin sudah membuat ancang-ancang ingin membuat tulisan seperti ini, poin-poinnya ini, dan seterusnya. Namun, dengan kondisi fisik yang nampaknya kurang bisa diajak on lebih lama akhirnya beberapa jam sebelum deadline hari ke-29 berakhir, saya sudah berlayar ke pulau kapuk.
So, waktu pagi-pagi sekali saya langsung duduk kembali di depan laptop setelah meeting pagi dan segera menuntaskan tulisan.
Berbicara soal menulis buku, saya yakin banyak sekali orang yang memimpikannya, memasukkannya ke dalam wishlist, goals, mimpi, target, atau apa pun namanya. Saya pribadi, beberapa kali mendapatkan pesan kalau seumur hidup, seminimal mungkin menulis satu buku karya pribadi. Saya melakukan sesuatu seperti kebanyakan orang, menuliskan harapan tersebut dalam daftar mimpi yang ingin dicapai selama hidup.
Saya ingin sekali bisa memiliki buku karya sendiri. Lalu, agak jauh sedikit, sebetulnya saya sempat bercita-cita ingin menjadi penulis. Dari cita-cita itulah, beberapa cara saya lakukan. Mulai rajin membaca buku, meskipun genre yang saya baca masih terbata, mulai mengikuti beberapa akun media sosial para penulis sukses dan terkenal berharap bisa mendapatkan inspirasi dari sana, saya juga sempat mengikuti semacam rangkaian kelas upgrading menulis (meskipun diingat-ingat sepertinya tidak begitu konsisten), sampai mulai mencicil naskah pribadi. Oh ya, tambahan lainnya saya sempat begitu rajin menulis review buku dan mem-postingnya di Instagram @ulfa.rodiah atau di blog pribadi.
Api semangat yang menggebu itu perlahan harus padam juga. Banyak faktor yang saya kira jadi sebabnya; tidak ada lingkungan yang cukup mendukung, saya merasa saat sendirian tidak cukup kuat untuk konsisten menulis, belum lagi perasaan Lelah karena aktivitas lain yang mesti dilakukan, dan memang cukup ragu dengan kemampuan menulis saya yang seperti tidak berkembang. Singkat cerita, akhirnya saya mencoba realistis, nampaknya tidak perlu muluk-muluk untuk jadi penulis, jadi pribadi yang punya habit menulis pun sudah cukup baik, setidaknya untuk saya saat ini.
Boleh dikatakan, kondisi saya yang demikian, tidak menggebu untuk mengusahakan diri jadi penulis, membuat saya secara drastis mengurangi aktivitas menulis di berbagai platform yang biasanya saya gunakan. Menulis di blog sudah lama saya tinggalkan, ketika menulis pun paling hanya tulisan pendek-pendek, sekadar kutipan. Kalau di Instagram, yaa mentok hanya menulis caption yang itu pun kadang bingung, dan ujungnya saya hanya menuliskan beberapa kata atau hanya emoticon. Sampai akhirnya memang saya tidak mem-posting apa pun dan hanya menggunakan platform yang saya miliki untuk melihat-lihat tulisan atau karya orang lain saja.
Waktu terus berlalu dan nampaknya mimpi saya untuk menjadi penulis yang sudah disederhanakan cukup menjadi pribadi yang memiliki habit menulis itu masih cukup menyala di lubuk hati terdalam. Melihat orang-orang di sekitar saya kini yang ternyata banyak yang suka dan rajin menulis, tidak sedikit sih yang memang sudah memiliki buku karya sendiri.
Di sisi lainnya, saya sadar, sebagai orang yang pernah diberi rezeki menuntut ilmu sampai ke jenjang cukup tinggi punya kewajiban lebih untuk berbagi, salah satu cara yang bisa dijangkau yaa dengan menulis. Akhirnya, setelah galau dalam kesendirian itu, saya perlahan-lahan memulai lagi untuk menulis sedikit-sedikit yang harus disertai pusing plus bingung. Perlahan saya coba lebih sering menulis caption, microblog, dan story di Instagram (yang terbaru saya coba membuat zine ---majalah mini---), saya juga pernah menyusun draft minibook yang rencana akan terbit akhir tahun lalu tetapi saya urungkan. Ternyata, masih ada keraguan kalau ternyata apa-apa yang saya tulis tidak cukup layak untuk dipublikasikan sebagai sebuah karya.
Saya masih memiliki desire untuk menjadi penulis atau setidaknya memiliki kebiasaan menulis & menghasilkan tulisan yang baik. Menjelang akhir tahun 2022, sebagai sesuatu yang baru, saja coba mengikuti 30 Days Writing Challenge (30 DWC) ini jadi salah satu pemicu untuk saya lebih rajin lagi menulis. Yaa siapa tau bisa melanjutkan lagi cicilan naskah supaya enggak hanya menulis, tapi juga menulis (naskah) buku, hehe.















