Jalan pagi
Beberapa bulan ini aku mulai membangun kebiasaan jalan pagi, mengelilingi jalanan di sekitar kampung rumahku. Saat aku memutuskan jalan kaki pertama kali di sekitar rumah, saat itu aku baru operasi patah tulang, masih cuti tugas dalam rangka pengobatan rutin ke rumah sakit. Aku tidak bisa melakukan olahraga yang banyak gerak. Akhirnya aku memutuskan jalan kaki saja sebagai ganti olahraga. Selain itu aku juga rindu kebiasaanku di penempatan saat menjadi Pengajar Muda yang kemana-mana jalan kaki, karena sebagai relawan, aku tidak punya motor di sana.
Saat jalan pagi ini, banyak yang kurasakan. Kadang aku takjub melihat perkembangan ekonomi di sekitar rumahku. Banyak toko/UMKM baru yang tak pernah kulihat sebelumnya sebelum aku berangkat penugasan. Begitu banyak variasi makanan, kadang aku berinisiatif menghitung seberapa banyak usaha laundry. Berapa banyak yang jual ayam krispi yang kutemui sepanjang jalan.
Suatu pagi aku jalan dengan fokus menghitung langkah kakiku secara manual. Cukup melatih mindfulness, karena ternyata aku cukup sering lupa berapa hitungan langkahku. "Langkah ke 78, 79, 89. Eh loh kok 89? Tadi kan 78?" Yah begitulah. Dengan segenap mengarahkan kefokusanku menghitung langkah, ternyata aku bisa berjalan sekitar 4000 langkah dalam sekali putaran.
Di pagi yang lain, aku fokus berjalan mengamati aktivitas orang-orang di sepanjang jalan yang kulalui, mencoba menerka apa yang sedang mereka lakukan. Ada raut wajah bersemangat meladeni pelanggan dengan dagangan sayurnya, juga ada raut wajah kelelahan tapi tetap memancarkan harapan agar jualannya laku. Ada orang tua yang tergopoh-gopoh mengantar anaknya sekolah.
Tak terasa di sepanjang jalan, aku jadi berdoa untuk kebaikan orang-orang ini. "Semoga dagangan sayur bapaknya laku banyak", "Semoga ibu itu bisa mengantarkan anaknya sukses hingga pendidikan tinggi". Aku sebagai orang asing, yang sekilas melihat kehidupan mereka, hanya bisa ikut mendoakan agar segala urusan mereka dilancarkan. Rasanya sudah lama sekali aku tak berdoa untuk orang yang tak kukenal, ternyata untaian doa ini membuat hatiku hangat dan menjadi suntikan semangat untukku melihat perjuangan hidup orang lain. Di dunia ini aku tidak berjuang sendirian, mereka pun sama, sedang berjuang mencari nafkah atau sedang berusahan menjalankan perannya dengan baik.
Di pagi yang lain, aku mencoba berjalan kaki dengan menggunakan perspektif kebijakan. Kira-kira kebijakan seperti apa yang bisa memihak pejalan kaki ya? Susah sekali rasanya rutin jalan kaki, jika bahu jalan saja digunakan berjualan kaki lima, atau bahkan tidak ada bahu jalan. Bagaimana bisa Indonesia ingin seperti Singapura yang rakyatnya rajin jalan kaki, kalau fasilitas bahu jalan, zebra cross saja sangat minim. Kenapa ya daerah rumahku ini terkenal susah ditertibkan..
Kemudian aku melihat para pejuang nafkah, mereka juga butuh untuk menyambung hidup dengan berjualan di bahu jalan. Alasan mereka menggunakan bahu jalan tentu tak punya uang untuk menyewa tempat secara legal, hanya fokus berjualan dari hari ke hari, untuk makan satu hari itu saja. Apakah adil menggusur UMKM ini supaya pejalan kaki lebih nyaman? Ah iya, memang untuk membuat kebijakan yang adil bagi berbagai pihak perlu mengakomodir berbagai perspektif dan mencari jalan tengahnya.
Ternyata rutin jalan pagi membuatku benar-benar melambat, berdialog dengan isi pikiran sendiri, kadang juga sekadar menjadi pengamat orang-orang yang terburu beraktivitas. Padahal, motivasi awal jalan pagiku hanya untuk menguruskan badan, tetapi setelah membiasakan ini beberapa waktu, aku justru mendapatkan banyak perspektif yang bisa kubawa pulang.
















