Rindu kepada diriku
Lihat! Gambaran ketulusan dan kebahagiaan yang tersirat dari wajah anak SMA ini. Matanya begitu tulus, senyumnya terlihat bahagia sekali.
Memang, masa SMA-ku adalah masa keemasanku selama remaja hingga kini. Disanalah aku mulai mengenal apa mauku, apa bakatku dan apa kesukaanku. Begitu juga dengan bumbu kisah asmara pertamaku tentunya.
Belum pernah aku sebegitu rindunya dengan masa lalu, seperti saat ini aku merindukan masa SMA-ku. Rindu sebuah canda dan tawa lepas, sahabat yang selalu ada, produktivitas diri sesuai passion, belajar apapun tanpa mengenal bosan dan lelah, bersosial dengan baik kepada siapapun, disiplin dan komitmen, berkarya dengan tulus dan banyak hal lainya yang aku rindukan. Saat itu, segalanya (mungkin) terasa begitu membahagiakan untuk diriku. Yah, setidaknya cukup mengobati luka masa kecilku. Saat itu, segalanya membuatku merasa benar-benar hidup menjadi manusia yang saling paham.
Perasaan ini muncul akibat kurangnya bersyukurku dengan kehidupanku saat ini. Entahlah, sepertinya ego sedang menguasai diriku. Sebuah percakapan antara aku dan diriku sendiri yang akhir-akhir ini selalu mengusik kenyamananku. Aku merasa dipatahkan oleh segala ekspektasiku sendiri, aku seperti dihujam oleh isi kepalaku sendiri yang seolah protes atas pilihanku dalam mengambil langkah.
Lelah rasanya bersembunyi dari kejujuran diri. Kukira semuanya akan menjadi baik-baik saja dan membuatku bisa jauh lebih merasa tumbuh. Ternyata aku salah, sebuah rasa yang tak bisa dipaksa. Aku ingin menjadi apa yang aku mau, menjadi apa yang aku cita-citakan, mengembangkan apa yang aku suka, membiarkanku tumbuh sesuai skenarioku sendiri.
Tapi faktanya, skenario Tuhan jauh lebih berhasil mengambil alih peranku. Posisiku sedang dalam ketidakberdayaanku sendiri untuk berdamai dengan kenyataan yang harus dijalani. Meskipun jauh di dalam relung batinku, aku sadar bahwa semua ini adalah ruang terbaik Tuhan untuk mencerdaskanku.
Tolong, kepada siapapun yang pernah singgah atau hanya sekedar melihat bayanganku. Mari membuat sebuah kesepakatan bahwa kita akan selalu saling dalam keadaan apapun. Mari membangun sebuah benteng kepercayaan bahwa dalam hidup ini tidak ada yang sia-sia, bahkan sebuah keburukan sekalipun.
Tapi kembali lagi, aku masih merindukan diriku pada masa itu. Boleh, kan?
Jalanterus, 14 Juni 2021


















