Kesedihan selalu identik dengan senja, kelabu dan hujan. Tapi aku mencintai semuanya. Tentang hujan yang mengingatkanku tentang kegigihannya. Tentang sebuah kelabu yang menghangatkan. Tentang senja yang selalu mampu membuatku menunggunya dengan senyum paling lebar. Namanya Arka, pemuda penuh luka yang memandang sinis dunia. Mendengarkan Arka akan membuatmu berfikir bahwa dunia itu hanya milik orang-orang tertentu saja. Dia mampu membuat seseorang menunggu seminggu, sebulan bahkan lebih hanya untuk sebuah pertanyaan "kenapa kamu membeli barang itu jika kamu tidak menggunakannya?". Ujung-ujung hanya dijawab "abis lucu.." dengan wajah yang lugu. Aku tidak abis pikir, Arka mampu membuat banyak wanita meneteskan airmata dengan diamnya. "Ka, kenapa kamu meninggalkannya?", tanyaku sekali waktu karena penasaran. Arka hanya diam. 2 jam setelahnya, tiba-tiba dia menjawab "dia duluan yang pergi meninggalkanku". Dia tidak pernah yakin pada sebuah hubungan. Menurutnya, cinta tidak benar-benar ada. Semua manusia hanya menilai dari materi dan seringkali mempersempit makna cinta itu sendiri. "Lihat saja orang yang pacaran, jalan kesana kemari, beli ini dan itu, terus lupa besok masih harus makan lagi. Bilang cinta, giliran diajak menikah, dia pikir lama-lama, dicarinya alasan macam-macam, lupa tujuan hidup adalah untuk menggenapi", katanya sambil menerawang ketika kami ngobrol di sebuah warung kopi daerah pasar baru. Aku terkadang heran, dengan sifatnya yang cuek dan dingin itu, Arka punya banyak sekali fans cilik. Setiap kali aku jalan dengannya, ada saja anak kecil yang mengikuti kami dan berakhir dengan bercanda saling mengejek atau malah bermain dengan anak-anak itu. Namanya Arka, lelaki berkulit sawo matang yang terus menatap masa depan. Dia itu, pacarku ! #jangandiseriusin #kmmdk #mediaberkarya #kmmdk05 @mediaberkarya @liviaoktora @iindahriyana