Mari sama-sama bersyukur untuk hari-hari sebelumnya, untuk sedih, bahagia, suka, duka, senang, susah di tahun 2023.
الحمدالله رب العالمين...
Amel, disetiap perjalanan kita disini, akan selalu ada hal baik didalamnya, yakin yaaa... 🩶
seen from France
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from Bangladesh
seen from Australia
seen from United States

seen from United States
seen from Türkiye

seen from Australia
seen from China
seen from Türkiye

seen from Japan

seen from Brazil
seen from Bosnia & Herzegovina
seen from Singapore

seen from Israel
seen from China
seen from South Africa
Mari sama-sama bersyukur untuk hari-hari sebelumnya, untuk sedih, bahagia, suka, duka, senang, susah di tahun 2023.
الحمدالله رب العالمين...
Amel, disetiap perjalanan kita disini, akan selalu ada hal baik didalamnya, yakin yaaa... 🩶
Recap Januari, si Bulan Sulung
Kali ini aku ingin mengingat kembali hal-hal atau kejadian yang telah terjadi di Januari yang harapannya bisa diambil hikmah dan menjadi bekal perjalanan ke depannya.
1. Mengikuti KLIP 2024
Di akhir tahun 2023 aku memutuskan untuk mendaftar KLIP 2024 dan mulai menulis tepat di tanggal 1 Januari 2024.
Lagi lagi, strong why dan ridho suami adalah kunci.
Maka tanpa berpikir panjang dengan tanpa ekspektasi berlebih dan modal bismillah mari kita mulai.
2. Ternyata, ibu rumah tangga itu ...
Ketika single, aku pernah memiliki keinginan setelah menikah nanti ingin menjadi ibu rumah tangga tanpa membayangkan rutinitas yang melelahkan dan monoton. Tanpa juga berpikir bahwa justru tidak ada liburnya, kapan saja dibutuhkan oleh customer keluarga terutama anak apalagi anakku masih bayi. Tentang diri sendiri sudah tak lagi menjadi prioritas.
Meski begitu, fitrahnya wanita adalah mengelola rumah tangga dan mendidik generasi. Maka, kuupayakan segalanya untuk meraih ridhoNya meski dengan di rumah saja.
Semoga Allah kuatkan dan berkahi segala pilihan kita yang telah Allah tetapkan. Tak adanya keluarga di sekitarku juga menguatkanku untuk di rumah saja agar bisa membersamai tumbuh kembang anakku.
3. Jatuh dari ranjang
Ternyata, aku mengalami juga. Merasakan panik dan rasa bersalah sebagai ibu karena tidak bisa menjaga anak dengan baik. Iya, meskipun aku merasa tidak benar-benar lalai. Sebab, yang pertama adalah aku sedang ke kamar mandi dan anakku masih tertidur. Kedua, aku tidur lalu terbangun dan masih sangat mengantuk sampai tak sanggup mengawasi dan tiba-tiba terjatuh. Jatuh yang pertama alhamdulillah tidak ada bekas sakit. Namun, jatuh yang kedua bibirnya sampai mengeluarkan darah. Alhamdulillah dia tidak menangis lama.
Dengan kejadian yang tidak sengaja ini, aku yakin meskipun jatuh Allah menjaga anakku
karena keadaannya setelah jatuh masih terbilang aman. Alhamdulillahnya suamiku justru menenangkanku dan tidak menyalahkanku.
4. Semangkuk seblak
Beberapa postingan kutuliskan tentang kebaikan dan keromantisan suami versiku.
Meski sederhana aku sangat bahagia. Aku menuliskannya agar menjadi ingatan di kemudian hari dan terus kusyukuri.
Sebab, begitu mudah perempuan melupakan kebaikan suami di saat ia begitu emosional dan yang teringat adalah kekurangannya.
5. Aku mengantuk
Sejauh ini, malam adalah waktu yang pas untukku menulis dan menyetorkan tulisan di KLIP. Sehingga tak jarang aku merasa mengantuk tak tertahankan bahkan aku pernah melewatkan satu kali tak menyetorkan karena tertidur. Tak ingin menyerah begitu saja, aku tetap ingin bisa menyetorkan tulisan setiap harinya.
Kejadian yang lalu kujadikan pelajaran bahwa aku perlu mengondisikan tempat dan keadaan akan tidak membuatku ketiduran, hehe.
Dan di akhir adalah bonus. Aku tidak memasukkannya pada poin. Tepat di akhir Januari ini rumahku kebanjiran karena hujan turun sangat deras. Bedanya biasanya banjir itu dari luar masuk ke dalam tapi unik dengan kejadian di rumahku. Banjir dari dalam lalu keluar, hehe. Aku tak tau bagaimana tapi meski repot karena hanya berdua dengan anak aku bisa mengondisikan rumah.
Karena anak sudah sangat bereksplorasi maka yang dipesankan suami adalah selamatkan buku-buku yang ada di lantai karena bayiku akhir-akhir ini menurunkannya dan cabut terminal listrik yang tergeletak di lantai.
Sekian penutup di Januari 2024. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil, jika ada yang kurang berkenan untuk dibuang jauh-jauh.
Sampai jumpa di Februari, akankah ada yang berbeda?
Pantang Menyerah
Hari ini adalah hari ke-30 aku mengikuti KLIP dan telah rutin setoran selama 29 kali. Aku pernah melewatkannya sekali karena mengantuk yang tak tertahan. Meski sedikit menyayangkan tapi tak apa karena tak semua harus sempurna. Awal mengikuti KLIP aku tak memiliki target apa-apa, hanya mulai aja dulu. Selebihnya aku dikuatkan dengan strong why yang pernah kutulis di hari pertama. Namun seiring berjalannya waktu aku mulai memiliki ambisi dan keinginanku bulan Januari ini adalah dengan rutin menyetorkan setiap hari tanpa absen karena jika absen sekali saja tanpa alasan besar kemungkinan akan malas dan mudah menyerah untuk melanjutkan. Maka, sekali absen kala itu membuatku sedikit menyesal tapi aku tak mau berlarut-larut toh aku sudah melebihi batas minimal setoran. Dan selanjutnya adalah aku harus tetap mengupayakan setoran setiap hari.
Dilanda mengantuk yang tak tertahankan sebenarnya tidak terjadi pada hari aku tidak setoran tapi pada hari yang lain juga. Sebagai contoh adalah kemarin, Senin, 29 Januari 2024. Hari itu aku memiliki tugas lain yang harus aku selesaikan dan batas pengumpulannya adalah pukul 24.00 wib. Tugas tersebutlah yang menjadi prioritas untuk kuselesaikan terlebih dahulu yang kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam yang dimulai dari pukul 20.00 wib. Setelah mengumpulkan tugas barulah aku menulis untuk disetorkan di KLIP. Kalimat pertama, mengantuk. Kalimat kedua, mengantuk. Hapus. Dibaca ulang, aneh. Hapus. Membuat kalimat baru, mengantuk. Begitu seterusnya. Lalu aku beranjak dari kursi untuk minum dan mencari cemilan dengan harapan menghilangkan kantuk. Mulai hilang sedikit dan melanjutkan menulis. Tak lama, mengantuk lagi. Begitu seterusnya. Aku tetap berusaha melanjutkan menulis bagaimanapun yang kutulis. Apakah banyak kata yang salah ataukah setiap kalimatnya tidak berkesinambungan, aku tetap melanjutkan dan akhirnya aku fokus pada Jumlah kata. Ketika mengantuk, berpikirpun sudah tak sanggup. Ketika sampai di titik terakhir dan dicek ulang ternyata Jumlah katanya masih kurang beberapa. Akhirnya memaksa sebisanya. Baca saja, mungkin akan aneh hehe.
Lalu bagaimana bisa bertahan hingga selesai?
Salah satu kunci lainnya mengapa kali kemarin aku bisa bertahan sampai menyetorkan tugas adalah karena aku mengerjakannya di meja kerja sehingga jika mengantuk aku masih bisa sadar dan mengupayakan untuk selesai. Sedangkan sebelumnya aku mengerjakannya di kamar di atas kasur sambil rebahan dengan lampu tidur. Sempurna, mana bisa aku menahan diri. Namun jika aku di kasur, sekali mengantuk bisa tidak sadarkan diri.
Sehingga tempat dan kondisi yang mendukung itu perlu, ya.
Harapannya semangat ini bisa bertahan hingga akhir dengan skripsi yang membahagiakan.
Besok, akankah kita menerima raport bulanan?
Jangan lupa, besok menyetorkan lebih awal ya!
Drama Pagi Hari
Hari ini adalah hari Senin. Sejak dini hari aku sudah bergelut dengan dapur. Sebelumnya aku telah tidur terlebih dahulu dan bangun lebih awal untuk menyiapkan makan sahur. Setelah makan sahur siap, kulanjutkan dengan membuat snack yaitu pisang barongko untuk Hamka. Urusan dapur telah selesai, maka kutinggalkan dalam keadaan pisang barongko masih dikukus. Sembari menunggu matang, aku beralih dengan menyetrika. Sejak saat itu aku seketika lupa bahwa sedang mengukus makanan. Ternyata di tengah-tengah aku menyetrika tiba-tiba Hamka menangis terbangun. Kala itu masih pukul 03.00 wib. Akhirnya kususuin dan aku semakin lupa bahwa kompor masih menyala.
Ketika aku akan menyusui suami bertanya dalam keadaan mengantuk, “kompornya udah dimatiin?”
“Udah, aku udah selesai masak dari tadi,” jawabku.
Sampai akhirnya aku mencium bau tidak sedap ketika sedang menyusui. Apakah aku seketika teringat? Tidak. Aku masih saja lanjut menyusui sembari beberapa kali mengendus mencium dan bertanya-tanya dari manakah bunyi tidak sedap ini berasal?
Selesai menyusui aku langsung beranjak menuju ke dapur dan ternyata benar saja, aku langsung teringat dengan pisang barongko tadi. Kumatikan kompor, kubuka penutup panci dan ternyata sudah menghitam pekat. Pisang barongko berjumlah 4 wadah dan semuanya sudah menghitam. Air dalam panci juga sudah benar-benar habis. Alhamdulillahnya, panci tidak sampai menghitam namun food container semua menghitam. Alhamdulillah (yang kedua setelah bangun tidur adalah ) aku tidak marah setelah mendapati kejadian seperti itu. Baik, Alhamdulillah.
Dilanjutkan dengan kejadian kedua. Hamka jatuh dari ranjang untuk yang kedua kalinya. Dimana kami? Sedang apa kami? Bagaimana bisa? Apakah ada luka?
Hamka dan aku berada di kasur. Aku sedang tidur karena masih ngantuk berat dan sengaja untuk istirahat sejenak. Dan Yanda sedang berada di kamar mandi membilas clodi. Tiba-tiba terdengar tangisan dan kucari Hamka ternyata sudah tidak ada di kasur. Benar, Hamka sudah berada di lantai dalam keadaan tengkurap. Tangisannya kencang namun tidak lama. Yang membuat aku sangat panik dan sedikit merasa bersalah adalah keluarnya darah dari mulutnya. Aku tidak mengetahui persis bagaimana lukanya, apakah bagian bibir, ataukah gusi ataukah gigi. Tak lama setelah digendong Hamka pun terdiam biasa saja.
1 Tahun di Ibu Profesional
Aku bergabung sebagai member Ibu Profesional pada awal tahun lalu, 2023. Salah satu alasan kuatnya adalah aku ingin belajar karena saat itu Allah titipkan janin dalam rahimku yang masih berusia sangat muda. Di sisi yang lain, kondisi tubuhku yang lemah saat mengandung membuatku memutuskan resign dari pekerjaan yang baru 1 bulan berjalan dan masih berstatus magang. “Aku harus memiliki kegiatan produktif di rumah selain urusan domestik. Aku harus belajar lebih giat”, kataku.
Aku tahu Ibu Profesional dari seorang teman yang sudah lebih dulu tergabung di dalamnya. Ia beberapa kali kutemukan membagikan hasil belajar di institut dan kegiatan lainnya. Karena penasaran, aku bertanya dan meminta dijelaskan apa itu Ibu Profesional. Tak lama dari aku bertanya ternyata Ibu Profesional akan membuka pendaftaran member baru. Kesempatan ini sayang jika dilewatkan. Kukuatkan tekad, kucari strong why sebanyak-banyaknya, meminta pertimbangan dan ijin kepada suami, menjelajahi semua media sosialnya dan akhirnya kuputuskan untuk segera mengambil kesempatan ini.
Komponen yang sejak awal aku incar adalah institut Ibu Profesional karena aku ingin merasakan vibes kembali kuliah. Aku juga ingin menambah semangat belajar dan menantang diri untuk konsisten. Aku ingin fokus awalku banyak di institut sehingga aku tidak banyak melihat program lain hingga kelulusan matrikulasi. Setelah selebrasi aku mulai mencari program belajar lain di Ibu Profesional yang cocok untuk mengisi hari-hariku agar lebih produktif. Bergabunglah aku di Dakaru. Program kali ini harus diikuti oleh seluruh anggota keluarga sehingga diwajibkan untuk ijin dan mengomunikasikan kepada suami dan atau anggota keluarga lainnya.
Setelah beberapa kali pertemuan Dakaru, aku mulai menambah kegiatan lagi dengan mengikuti internship Ipedia di bagian video creator dan pejuang KLIP 2024. Ternyata tidak mudah, ya. Bagian sulitnya video creator adalah ditantang untuk kreatif memunculkan ide. Kuakui aku bukan orang yang terbiasa dengan pembuatan video oleh karenanya aku mengikuti internship. Waktu sepekan untuk menyelesaikan pembuatan video terasa pendek karena ide yang tak kunjung muncul sehingga aku baru mulai mengerjakan sekitar sehari sebelum batas pengumpulan. Selain itu, untuk KLIP aku ingin mengasah tulisanku. Meski begitu, aku tidak ingin menyerah begitu saja. Aku ingin mengupayakan meskipun hasil belum maksimal. Bismillah. Semoga Allah mudahkan.
Bapak Rumah Tangga
Sebagai istri yang memiliki sifat seperti kebanyakan istri lainnya yaitu salah satunya suka lupa dengan kebaikan suami maka ini salah satu caraku yaitu dengan menuliskannya yang lain kali bisa kubuka kembali sebagai rasa syukurku dan kebetulanbelum ada topik khusus untuk dituliskan hari ini. Mengapa aku bilang bahwa sifat ini seperti kebanyakan istri? Iya, karena aku mendengarnya dalam kajian Ustadz Oemar Mita dengan judul Suara Hati Istri dan merasa valid. Entah masih ada di youtube atau tidak sekarang.
Di sini ijinkan aku bercerita tentang suami yang dengan sukarela membantu pekerjaan rumah tangga setelah ia memenuhi tanggung jawabnya mencari nafkah.
Tak jarang aku berusaha empati dengan tanggung jawab suami sebab jika aku sering mengeluh atas kewajibanku sebagai istri dan ibu maka begitu juga berlaku pada suami bahkan aku merasa lebih, bukan begitu? Kalau kita lelah, suami juga bisa lelah bukan?
Hari ini aku sedang berpuasa qadha Ramadhan lalu dengan total 26 hari karena sedang HPL dan aku tak sanggup berpuasa. Namun, kali ini aku tak bangun sahur meski sudah diniati. Aku tetap ingin berpuasa. Alhamdulillah, kurang dari 10 hari lagi insyaaAllah tuntas sebelum Ramadhan esok. Doakan ya, teman. Hari Sabtu suami memang hanya bekerja setengah hari dan pukul 14.00 waktunya pulang. Aku tidak menyadari kapan suami tiba di rumah tapi katanya aku bangun dan salim. Aku baru benar-benar sadar ketika pukul 16.00 bahwa suami mengambil alih apa yang biasa aku lakukan pada Hamka di sore hari. Ia datang dari mushola setelah sholat Asar lalu bergegas memasak air panas untuk Hamka mandi, menyiapkan pakaian gantinya hingga selesai mandi. Tanpa aku mengkode apalagi meminta. Setelah bangun tidur aku merasa lemas sekali, hanya ingin merebahkan badan. Berdiri dan beraktivitas sejenak lalu istirahat tiduran. Hal ini mungkin juga efek dari tidak sahur dan aku masih menyusui Hamka sehingga tenagaku terkuras. Alhamdulillah bi ni’matihi tatimmush sholihat, suami siaga.
Istri mana yang tidak senang jika suami ikut terjun dalam urusan rumah tangga dan membersamai anak sekalipun ia lelah kerja?
Setelahnya, karena jam makan Hamka sudah tiba, ia meminta untuk menyuapi Hamka. Aku? Merebahkan badan. Namun, aku perlu sadar diri, kulakukan apa yang bisa kulakukan seperti membereskan mainan, menyiapkan pakaian ganti usai Hamka makan, dan menghangatkan makanan untuk berbuka.
Ah, maasyaaAllah betapa nikmatnya jika dalam keluarga bisa saling kerjasama tanpa diminta. Terimakasih ya, suami. Semoga kebaikan ini seterusnya, begitu juga aku. Kita saling, ya.
Dan ternyata hal ini juga yang Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam contohkan. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesibukan membantu istrinya, dan jika tiba waktu sholat maka beliaupun pergi shalat”.
(HR Bukhari)
Dalam hadits lainnya, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan hal-hal sederhana untuk membantu istri-istri beliau semisal mengangkat ember dan menjahit bajunya. Urwah berkata kepada Aisyah,
“Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia bersamamu (di rumahmu)?”, Aisyah berkata, “Ia melakukan (seperti) apa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya, ia memperbaiki sendalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di ember”.
(HR Ibnu Hibban)
Ini adalah bentuk muamalah yang baik kepada istri dan diperintahkan dalam Al Quran. Allah berfirman,
“Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf”.
(QS An Nisaa’ : 19)
Mudah-mudahan Allah berkahi keluarga kecil kita semua. Aamiin.
Ibu Kebanggaan Keluarga
Adalah sebuah kebersyukuran dan privilege bertempat tinggal jauh dari keluarga baik orangtua, kakak-kakak serta keluarga besar lainnya. Begitupun tetangga yang hanya tahu sekedarnya dan interaksi seperlunya terlebih kami tinggal di lingkungan perumahan yang masih terbilang baru dengan tidak sampai 10 rumah. Meski tak jarang merasa repot, kuwalahan, lelah, dan kesepian melanda. Mungkin karena sejak SMP aku selalu jauh dari orangtua, keadaan ini terasa biasa saja. Kami belum tahu pasti sampai kapan berada di sini, tapi bagi kami ini seperti rumah singgah. Entah daerah mana lagi yang akan kami kunjungi. Entah daerah mana lagi yang menjadi tempat nyaman di masa tua nanti. Satu dan lain hal, kami tidak berencana untuk menetap di sini.
Oleh karenanya, rasa syukur bertumbuh bersama suami dan anak yang mana jauh dari keluarga besar harus dimanfaatkan dengan baik. Aku merasa lebih bebas berekspresi, bebas melakukan hal-hal yang kusukai, bebas menerapkan parenting kepada anakku yang tentunya membuatku lebih merdeka dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang kami buat. Meski begitu, keluarga sesekali berkunjung ke rumah kami dan menginap dengan waktu yang cukup lama. Jika hal itu terjadi maka aku harus menyesuaikan pola pengasuhan yang lebih aman sebelum komentar sana sini melayang. Iya, aku cari aman, hehe.
Salah satu yang aku lakukan pada anakku adalah sleep training. Aku baru mulai menerapkan kepada Hamka di usia menuju 9 bulan dan diterapkan mulai awal tahun ini, 1 Januari 2024. Salah satu alasan ingin menerapkan sleep training adalah karena kami berada di rumah sendiri dan jauh dari keluarga besar sebab sleep training memungkinkan anak akan menangis kencang yang bisa mengganggu kenyamanan.
Beberapa hari yang lalu aku menemukan postingan yang mewakili suara hatiku. Begini isinya.
Benar! Anakku adalah amanah dari Allah kepada kami. Sepenuhnya kami-lah yang bertanggung jawab atas tumbuh kembangnya. Asal memiliki alasan yang kuat ingin melakukan ini dan itu kepada anak sudah lebih dari cukup.
Semoga kami bisa memaksimalkan pendidikan anak kami sepenuh hati dan cinta. Doa baik juga untuk teman-teman yang sedang berjuang mendidik anak di keadaan apapun.
Semoga kita bisa menjadi istri dan atau ibu kebanggaan keluarga dengan tujuan menggapai ridho Allah. Aamiin
Adab Sebelum Ilmu
Memasuki tahun 2024, saatnya Indonesia akan melakukan pemilu yang akan berlangsung pada 14 Februari 2024. Beberapa hari yang lalu telah dilaksanakan debat keempat oleh calon wakil presiden 2024 diantaranya Muhaimin Iskandar, Gibran Rakabuming, dan Mahfud MD. Sejujurnya aku tidak begitu mengikuti semarak debat atau kampanye dari ketiga pasangan calon, hanya sedikit saja itupun yang lewat di media sosial. Aku tidak secara sengaja mengikuti kabarnya. Meski begitu, aku percaya pada suamiku untuk diajak diskusi dan bertanya banyak hal, hehe. Suamiku hampir mengikuti banyak hal tentang ketiga pasangan calon ini. Ia benar-benar ingin memilih yang lebih baik dari yang ada. Pada tulisan ini aku tidak akan membahas tentang ketiga calon, visi misi dan lainnya.
Desclaimer. Seperti yang kusampaikan sebelumnya aku bukan pengikut utuh informasi tentang pemilu dan atau ketiga pasangan calon sehingga kurang lebihnya ini pandangan sekilas menurut aku pribadi dan tidak memihak manapun juga tidak ingin menebar kebencian. Aku hanya ingin menyoroti perilaku Gibran kepada Mahfud MD di debat keempat yang harapannya bisa diambil pelajaran oleh kawula muda. Pada bagian ketika Gibran berkata, “Saya sedang mencari jawaban Pak Mahfud”. Begitulah kurang lebihnya, dengan mimik, postur tubuh dan perilaku yang dalam pandangan saya terbilang tidak sopan. Gibran adalah calon termuda sejauh pemilu presiden dan wakil presiden yang ada, sedangkan Pak Mahfud jauh lebih tua yaitu berkisar kurang lebih sama dengan usia orangtua Gibran. Ia seharusnya bisa menjadi teladan bagi kaum milenial yang lain. Setelah menyaksikan potongan video tersebut yang banyak beredar dan ternyata banyak yang sependapat denganku rasanya geram sekali.
Pertama, ia sedang berbicara dengan yang lebih tua, bahkan jauh lebih tua.
Kedua, ia sedang dilihat banyak mata karena tersiar langsung di layar kaca.
Ketiga, ia sedang berada di acara yang tentu saja terdapat aturan berlaku termasuk beretika. Rasa-rasanya apa yang ia tampilkan, begitulah ia di keseharian.
Kemanakah didikan orangtua dan atau sekolah?
Kemanakah ilmu yang kau kejar hingga luar negeri?
Kemanakah keteladanan dari lingkungan sekitarmu dan darimu untuk rakyat Indonesia sedangkan kamu adalah seorang calon pemimpin?
Begitukah nantinya sikap pemimpin?
Apakah kamu pernah mendengar perkataan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang ini?
“Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR Tirmidzi)
“Sejujurnya hal yang lebih berat di timbangan amal baik seorang mukmin adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor.”
(HR Tirmidzi no. 2002)
Dan pepatah arab yang berbunyi,
“Adab itu lebih tinggi daripada ilmu.”
Mari bijak memilih!