
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Yemen

seen from T1
seen from United States
seen from T1

seen from Malaysia
seen from Australia

seen from Philippines

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
Legenda Berubah
Terdengar legenda ketika para manusia mencoba mencapai tiap tiap puncak dari dataran yang menjulang tinggi atau menemui dataran lain yang jauh dari hidupnya, maka diantara perjalanan sampai tujuan, para manusia tersebut ada yang tiba2 berubah menjadi iblis hitam berjubah, bersayap kelelawar, menggoda bentuk dahulunya yang lain dengan menghancurkan, menggagalkan dan meninggalkan demi tujuannya semata. Ada pula yang menjadi malaikat putih bersayapkan bulu halus yang merangkul dan menghangatkan, memikul sampai kepada tujuan.
Gunung dan Diri
Banyak orang berkata “Jika kamu menginginkan seseorang untuk menunjukkan jati dirinya, untuk tau sifat aslinya, cobalah ajak dia untuk pergi naik gunung atau berpergian jauh dari rumahnya, kamu dan dia akan bertemu dengan dia dan kamu yang se-benar benarnya”. Untukku, bagian berpergian jauh sudah dilakukan, beberapa kali, tapi terlewati begitu saja. Syukurnya dalam waktu dekat, kesempatan untuk mencoba bagian lainnya tiba, pada akhirnya, jika semua itu benar, maka aku menantikan waktu pertemuan, kepada diri yang sudah lama dicari.
______:--_______*)
aku selalu suka,
mengobrak abrik, rasa dan pikir
laut biru, selalu kunobatkan jadi saksi
;-
tentang surat, dan mawar yang tak sampai,
kepada wangi yang memudar
,;-
oh, tidak, salahku tentang ingat
aku lupa, melupa lagi,
;-
atau dikelabui angan dan ingin
tentang wanginya, t'lah hilang
;-
kepada cium dan kepada peluk
yang tak lagi sampai,
;-
lalu aku memilih berbisik,
ditengah isak,,
ayah, aku merindu,
gadismu, dipandang malang,
;-
oh, tidak! salah mereka
tentang pandang,
;-
beberapa pasang mata itu
pun salah mengejaku dalam kata,
;-
raga yang hilang oleh maut
pantang kusetarakan dengan malang
;-
wangi yang hilang,
tak melulu berarti lenyap,
semerbaknya menyapaku,
tepat di hari ulang tahunku
;-
aku lalu mengadu pada laut,
angin utara memelukku,
kian lekat,
;-
dan aku merekah senyum;-
"Tentang wanita dan per[t]empu[r]an-per[t]empu[r]an yang ada dalam pikirannya"
😊 Manis memang, berani juga brutal.
,,, yang penuh sesak itu rindu, maka benar bahwa ada pepatah yang bilang, "seperti dendam rindu harus dibayar tuntas". Om Eka Kurniawan mengaabadikan dengan garang kalimat paling candu ini dihalaman judul buku terbaiknya.
Pertemuan yang paling menarik antara pria dan wanita, sebagai pasangan yang saling mencintai (pikir mereka) adalah saat rindu penuh sesak. Tentu pertemuan ini harus dirayakan, dan benar bahwa, Hari Raya Rindu patut dirayakan dengan cara yang paling istimewa, untuk kesan yang mendalam dan kuat, terus melekat sebagai tameng sejati usai dirayakan.
Pria dan wanita dewasa yang sedang dalam fase romantika, lalu dengan cara termanisnya merajut temu dalam romantisme yang meneduhkan, tak masalah jika sesekali perlu berani juga brutal. Kisah temu ini memang harus membekas (lagi-lagi pikir mereka).
Pertanyaan-pertanyaan tak diam, bergerak dalam pikiran lalu sebuah sikap bijak harus diambil. Latar belakang adat dan budaya menjadi dasar kokoh. Bagaimana wanita, dipandang atas tindakannya, dan bagaimana pria dipandang untuk pertanggungjawaban. Baik wanita maupun pria yang cerdas tentu tahu bagaimana bersikap.
Sedih rasanya membaca begitu banyak berita percerain, pembunuhan suami atau istri, kasus aborsi, dikucilkan karena hamil diluar nikah, dan banyak remaja atau dewasa yang memilih mengakhiri hidup, korban cinta yang pupus.
Kalau bukan nilai dan norma yang mampu menolong pola pikir kita, kalau bukan adat istiadat dan budaya yang menjernihkan pikiran kita, maka tentu saja kabar buruk yang menyedihkan ini akan terus merajalela.
Adat istiadat, budaya atau tradisi, hal-hal mumpuni yang diyakini mampu menolong moral dan etika manusia. Terbukti baik adanya, dan hingga saat ini tradisi itu hidup turun temurun.
Sebagai wanita, saya pun mengakui betapa tradisi dari tempat saya lahir dan hidup mengajarkan saya bahwa betapa wanita dimuliakan. Tidak sedikit yang memegang teguh prinsip kebudayaan untuk menjadi tonggak bagaimana bersikap sebagai manusia yang bermartabat luhur.
Dalam adat istiadat dan budaya yang saya yakini terutama penghormatan atau penghargaan dari dan untuk pihak tértentu adalah hal krusial yang dijunjung tinggi. Kita memang tidak seharusnya memandang sebagai ajang untuk beradu gengsi, selama itu tidak saling merugikan dan putusan-putusan dari adat istiadat adalah hasil dari pemikiran-pemikiran yang bijak, bukan saling menginjak apa lagi terkesan memeras secara paksa.
Pria dan wanita selalu dipadu padankan terkait kesetaraan gender yang hingga saat ini masih menjadi topik hangat. Tidak hanya tentang jabatan sosial, adat istiadatpun seolah membungkam opini-opini wanita. Lalu bermunculan pemikiran-pemikiran feminisme tanda serangan balik dari pertahanan emansipasi wanita.
Ibarat wanita tidak diikutsertakan di meja bundar, tapi ada kesempatan untuk bisa berdiskusi sebelum ke meja bundar. Saya kira wanita hanya perlu memanfaatkan kesempatan ini.
Pernyataan-pernyataan lain terkait wanita diingatkan untuk tidak berkeluyuran hingga larut malam, pergaulan bebas yang dibatasi, lalu sebagai wanita merasa dikekang haknya dalam kebebasan. Saya hanya ingin mengatakan bahwa, "hai kaum hawa, sel sperma bisa tidak "bernama" juga juga tidak "bertanda", sedangkan sel telur adalah hal sebaliknya". Kodrat wanita mengandung, melahirkan dan menyusui, tanda paling nyata dan alasan paling masuk akal untuk wanita dijaga dan dihormati harkat dan martabatnya. Jadi jangan sampai sikap emansipasi kita sebagai wanita salah kaprah. Saya tentu akan mengajakmu untuk bersuaralah lebih lantang dan tamparlah dengan keras jika ada yang melarangmu bersekolah setinggi-tingginya, atau menyuruhmu menjadi karyawan tetap di dapur rumahmu atau dapur tetangga.
Patriarki adalah kuno dan bukan hanya wanita yang bertanggung jawab atas domestik dan reproduksi.
Konsep emansipasi wanita tidak sesempit pada kesetaraan gender tapi bagaimana pola pikir wanita berkembang maju tanpa kehilangan jati diri. Jadi mahkotailah diri dan jangan sampai tangan-tangan tidak bertanggung jawab merampas mahkotamu secara tidak hormat.
Memang salah jika nilai seorang wanita diukur dari keperawanan, tapi tidak ada salahnya jika dijaga, bukan soal siapa yang suci atau tidak lagi suci, paling tidak trauma emosional sebagai wanita bisa dicegah, dan berita-berita menyedihkan tidak lagi terdengar.
Penghormatan setinggi-tingginya untuk kaum wanita diluar sana yang mungkin adalah bagian dari berita-berita menyedihkan itu, namun tetap tangguh menunjukan taring dan berjuang untuk tidak kehilangan jati diri, salut untukmu.
,,,,dalam perjalanan ke Lewoleba, dr kota Reinha Larantuka
April 2024
;-Benda-benda pendiam
Sebening kaca berpita emas dengan tali rami menghimpit leher vas berbentuk labu. Serabut akar menjuntai mempercantik juga elok memamerkan pada tiap pasang mata yang melihat. Daun hijau kokoh berdiri padanya. Disampingnya berpadu vas bunga kertas berlapis coretan novel usang dari Negeri Paman Sam.
Tiap sisi kamar dengan dinding dicat putih, berlapis cermin persegi panjang yang padat akan tulisan frasa mendiang Ratu Elisabeth. Pantulan benda-benda pendiam;- buku-buku, meja kayu berwarna coklat tua, kertas dinding berhuruf tali tak terbaca, angka-angka pada kelender manual, jadwal hiruk pikuk tak berujung, mini gitar berbalut stiker kuno, sebuah lukisan malam dengan taburan cahaya bulan;-pemberian anak sekolah;-, sebuah bingkai dari marmer dengan gambar pintu mahkota bertuliskan 'home sweet home'. Mereka adalah benda-benda yang paling berisik di kepalaku, bunyinya tak terdengar tapi jelas terlihat berbicara, bernyanyi dan ikut menari dengan ku. Pulang ke bilik kamar persegiku adalah 'keramaian'. Tertidur tapi tak benar-benar tidur. Ku buka kembali lipatan kertas pada buku kumpulan puisi milik M Aan Mansyur yang tak habis ku baca malam kemarin ;-Melihat Api Bekerja:- berkutat pada judul itu lalu ku lahap habis tiap bait puisinya. Aku lalu tersadar akan satu hal bahwa 'jatuh cinta dan mencintai adalah dua penderitaaan dengan beda waktu; satu jam lebih cepat, dua jam lebih lambat. jatuh cinta yang ku maksud bukan dia, tapi mimpi-mimpiku. berikan aku ruang biarkan aku pulang pada pikiranku pada perkiraan perkiraan ku aku butuh waktu untuk patuh berburu separuh sebelum penuh sebentar saja menunggu ku tanpa geram aku pun tak sampai hati membuat kakimu merintih keram juga tak akan membuatmu lunglai
toh aku kini telah memulai kuucapkan pesan rahasia pada benda pendiam lain yang memantul dari cermin persegi panjang itu, ya! pada sepasang mata itu. pada diriku.
Kutabumi, 13 November 2023
,,,, a poem ,,,,