Menyambut Sang Juru Selamat.
Java Rockin’ Land sebuah festival kerockncong tahunan yang sebelumnya diselenggarakan pada 2009 kini kembali hadir. Festival yang dihelat mulai 22 hingga 24 Juli 2011 ini cukup menghembuskan angin segar di pesisir Ibu Kota Jakarta. Setelah dua tahun sebelumnya sukses menghadirkan musisi-musisi rock mancanegara seperti Melee, Mew, Secondhand Serenade (2009) kemudian disusul oleh Arkarna, MuteMath, Stereophonics, Wolfmother, Smashing Pumpkins (2010).
Menyambut festival JRL tahun ini saya cukup gundah-gulana karena mendengar desas-desus bahwa di hari sakral Sabtu, 23 Juli 2011 Sang Juru Selamat akan turut membakar Jakarta dengan lagu-lagu yang pernah terkenal pada dekade lalu. Sesekali saya berdoa supaya Sang Juru Selamat memang benar hadir di hadapan saya kelak. Pada waktu itu saya bernazar untuk naik bus ke kampus. Nazar yang sederhana, tetapi terasa sulit dilakukan untuk saya yang terbiasa kelayapan menggunakan kuda besi. Terlebih kalau mengingat kondisi jalanan Jakarta yang padat layaknya pembagian BLSM. Doa dikabulkan. Sang Juru Selamat memang benar adanya diutus Tuhan Yang Maha Esa untuk hadir menyebarkan kedamaian di hati para jamaahnya bersama dengan Good Charlotte, Happy Mondays, Neon Trees, 30 Second To Mars dan band mancanegara lain di Java Rockin’ Land 2011.
Selepas memburuh di Kalibata saya bergegas pulang ke rumah dan bertolak menuju Pantai Karnaval Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Dengan hanya bermodalkan setumpuk rindu akan suara khas Madam Dolores, saya pun berangkat ditemani sang kuda besi, Valerie. Ini adalah kali pertama saya pergi ke Pantai Jaya Ancol. Tidak ada sedikit pun kekhawatiran kalau nantinya akan buta arah seperti yang biasa saya lakukan kala berkelana ke tempat yang baru pertama kali didatangi. Tiket sudah terlebih dahulu diraih satu bulan sebelum acara temu kangen dengan para juru selamat. Pukul 18.37 petang saya tiba di venue dan langsung menuju Main Stage. Di main stage telah hadir band lawas yang dibentuk tahun 1973, God Bless. Ahmad Albar yang saat itu mengenakan kaos dan jeans hitam tengah meneriaki microfonnya melantunkan lagu demi lagu. Lama setelah God Bless tampil, stage utama kosong selang beberapa menit dan diisi beberapa crew yang menyiapkan peralatan untuk Ed Kowalczyk of LIVE.
Ed sendiri merupakan musisi botak Amerika yang merangkap sebagai lead singer di LIVE band. FYI, LIVE merupakan nama bandnya. Saya pun sempat bingung akan hal itu. Selama 5.400 detik saya yang kurang akrab dengan suara Om Ed terpaksa ikut juga mendengarkannya bernyanyi, dengan asumsi kalau saya pergi spot tempat saya memotret disambar orang. Pada saat itu di samping saya juga terdapat dua orang mahasiswa yang datang untuk menyaksikan idolanya. Usut punya usut ternyata mereka anak Universitas Ada Deh. Setelah Ed selesai tampil, kerumunan hamba Allah di depan stage mulai berkurang, beberapa ada yang mendatangi booth merchandise ataupun mencari cairan pelepas dahaga. Saya memilih duduk di tempat sambil sesekali mengecek hasil foto saya. Salah satu mahasiswa UA tersebut menawarkan untuk mengambilkan buku panduan JRL 2011, tanpa basa-basi saya pun mengiyakan. Kami yang pada saat itu sama-sama menunggu momen Sang Juru Selamat membawakan lagu Zombie sudah tidak sabar. Sebelum Sang Juru Selamat hadir beberapa orang di stage menyanyikan lagu Indonesia Raya, entah apa maksudnya. Mungkin sebagai simbol nasionalisme di kala hiruk-pikuknya kawasan Pantai Ancol dengan dentuman para rocker mancanegara? Bisa jadi.
Pukul 23.30 Sang Juru Selamat resmi membuka gerbang Thariqat Al-Cranberriesiyah dengan lagu Analyze. Dolors O’riordan yang saat itu menggunakan coat hitam tampak cantik berbinar bak Selir Keraton. Tak lama ia menyapa jamaahnya dengan ramah, “Hi Indonesian how’s your day?” Lantunan Analyze pun dikumandangkan bersama fans yang hadir dan kemudian disusul dengan lagu Animal Instinct. Tak lupa Linger pun tengah mengudara malam itu, tetapi satu yang saya sesalkan, ritme Linger terkesan agak cepat. Lawler yang terlalu semangat memukul drum bak kuli panggul Tanjung Priok mengakibatkan ayat-ayat Linger terasa kurang menyayat hati. Namun, para jamaah tetap khusyuk mengucapkan tiap bait-bait kata. Lagu-lagu dari dekade 1990-an seperti Ode To my Family, Just My Imagination, Can’t Be With You, Salvation, Promises, juga dibawakan dengan sangat wakxjdwahxdsfuz malam itu. Tak lupa juga Sang Juru Selamat membawakan lagu baru mereka “Tomorrow” yang berasal dari album Rose (2011).
Saat yang ditunggu pun tiba, Sang Juru Selamat mulai mengumandangkan Zombie. Lagu yang ditulis sendiri oleh vokalisnya pada 1994 ini sukses membuat saya berada di dimensi lain. Namun, euforia lekas sirna begitu seorang mbak-mbak yang entah datang dari arah mana tiba-tiba hadir di hadapan saya dengan digopoh rekannya. Rupanya mbak ini emesis dan mulai tumbang. Sebagai seorang relawan yang baik hati saya pun membantu Mbak tersebut meloncati pagar agar mudah dijangkau panitia medis. Kekhusyukan Zombie terganggu sudah. Namun, tak ada alasan yang perlu disesalkan. Temu kangen dengan Juru Selamat malam itu ditutup dengan lagu Dreams dan saya pun kembali menikmati kesakralan malam itu. Terima kasih Wahai Sang Juru Selamat, The Cranberries. Semoga bisa menjumpai kalian di dimensi yang lain.












