Terpanggil menjawab atas beberapa pertanyaan dari beberapa teman disini yang mampir ke kotak pesan saya tentang "apa arti Jelaga? "
Saya akan menjawabnya dalam versi saya tentunya.
Jelaga; menurut literatur ilmiah yg saya baca adalah partikel karbon murni halus yang terbentuk dari pembakaran suatu zat, menghasilkan endapan hitam yang menempel pada permukaan, misalnya pada asap lampu, sisa kebakaran, atau pada tanaman yang dihinggapi jamur jelaga.
Versi saya; Jelaga bukan sekadar debu hitam sisa pembakaran. Ia sering dipakai sebagai simbol yang pekat dan menyentuh tentang :
Luka dan duka; Jelaga adalah bekas dari sesuatu yang pernah menyala, sama seperti hati yang menyimpan sisa-sisa luka dari api kenangan.
Kehilangan; Ia menjadi tanda bahwa sesuatu pernah ada, pernah menyala terang, lalu padam meninggalkan hitam yang melekat.
Kesedihan yang membekas; Meski api telah mati, jejaknya tak hilang, begitulah jelaga seperti kesedihan yang menetap diam-diam.
Kenangan pahit; Jelaga melambangkan sisa cerita yang tak bisa dihapus, meski waktu sudah berjalan.
Dari semuanya, bs disimpulkan;
"Jelaga adalah puing hitam dari api yang pernah menyala; ia pernah menyala terang, tapi sudah tak lagi panas, membekas di dinding hati, mengingatkan bahwa sesuatu pernah membakar habis dan meninggalkan diam yang pekat."
Aku sangat ingin menulis sajak untukmu, tapi kata-kataku hanya jelaga. Apalagi yang bisa aku susun? Susunan untukmu seorang cahaya bila rupanya sudah hitam dan keling. Lagi, aku mencoba menyewa sebuah harapan. Bermonolog. Berdiskusi tentang semua cerita pada malam hari. Tentang rencana untuk esok hari.
Aku setengah lari. Dari awalan yang buram dan rabun, aku susun sebait larik. Menanggakan susunan tanpa poros akhir pemberhentian. Menyublim khayalan kotor menjadi khayalan terindah. Melemaskan pengatup mata agar lemah dan tidak dapat merasa. Lalu berimajinasi merangkul gelap dan pengap penuh harap. Mencoba mengutak-atik memori cerita masa lalu penuh gelak tawa bersandingkan luka, dikala mendung bersahut kabut.
Satu jam berlalu. Hanya terlintas cerita tanpa naskah yang penuh dengan pikulan amarah. Indera peraba mulai mencari-cari sandera untuk menyumpal mulut yang mulai mengering. Lalu satu batang tembakau puas aku nyalakan panasnya. Sembari meununduk dengan mata yang sedikit kantuk, namun pikiran tetap menyulut kecut. Aku tidak mau tertidur dalam nyenyaknya malam ini.
Dikala waktu memukul arah dua, aku menyalakan layar berukuran tiga kali empat. Tapi yang kutemukan bukanlah solusi, hanya potongan-potongan polusi yang membawa kembali memori yang sudah basi. Melihatnya bersama orang lain yang secara kurang ajar memenangkan nuraninya. Lagi, dua batang tembakau lumat di mulutku.
Dua jam berlalu. Tanpa sengaja pengobar nada penuh teduh mulai ikut bercengkrama. Saat itu pula aku mulai mematikan layar berukuran tiga kali empat. Berharap tertindih pulas di remang fajar pagi ini. Mencoba bertahan tapi tidak bisa. Aku jelaga dan kamu adalah cahaya. Aku masih berjalan sendirian sembari memohon: tunjukkan ufuk.
Ada rasa yang tak biasa, sejak semuanya kembali bermula. Menemukanmu pada sebuah bingkai foto yang nyaris terluput tuk berhenti dihalamanmu. Menatapi lamat-lamat satu persatu foto demi foto yg ku bersyukur dapat aku lihat. Hingga sebuah ingatan melayang jauh pada satu masa dimana sebuah rasa yang nyatanya kita sama-sama punya, namun terkunci oleh ego, ngengsi dan prasangka-prasangka yang menahan bibir ini untuk lantang mengakuinya.
Iya, rasa yang tak sempat bermulai namun harus selesai. Entah kesempatan yang memang belum ada, atau aku mungkin sudah pernah melewatkannya.
Dan kini, aku tak ingin mengulangi salah yang sama. Jika memang ada kesempatan menjadi bagian hidupmu lagi, biar aku lunasi segala rindu yang terkumpul semenjak kamu tak di sisi. Jika memang ada kesempatan menjadi pelengkap hatimu untuk kedua kali, aku berjanji tak akan menghancurkan kembali apa yang kelak bisa kita miliki.
Semoga sebuah 'rumah' di depanku kini, akan menerimaku lebih dari sekadar tamu...
Hari itu, kita duduk di sebuah bangku panjang di lantai tiga yang mengarah ke Utara. Begitu terang, sulit menjelaskan bagaimana Matahari dan langit berwarna sama. Kita hanya duduk saja; seolah melihat landscape kota jauh kesana, atau seolah tak melihat apa-apa. Kamu menoleh ke kanan, menaikkan siku ke sandaran bangku, mengusap rambutku sambil medekatkan wajahmu. Kamu berbicara.
"Lagi mikirin apa?"
"Aku mau pelihara hewan"
"Boleh, tapi harus jinak! Yah.."
"Kenapa aku harus minta ijin sama kamu?"
"Biar bisa diajak main"
"Kucing?"
"Gak suka bulunya"
Bulunya? Oh, ya? Bukankah kamu punya seekor Chihuahua. Anjing betina yang kamu sayangi melebihi dirimu sendiri. Satu-satunya kerabatmu yang tak pernah ramah padaku, juga pada tetangga seberang rumahmu. Aku tak mengerti kenapa. Pernah suatu hari aku datang membawakannya kalung, aku ingat disana tertulis "Beryl". Dia menyalak seakan aku adalah wabah campak, padahal itu pertemuan kami yang ke dua puluh lima, jika aku tak salah menghitungnya. Aku melompat ke atas meja, perempuan tua yang mengaku adalah ibumu tertawa. Aku menganga saja. "Beryl itu baik" katamu, iya pada kekasihmu.
"Kura-kura lucu"
"Apa kura-kura bisa diajak main?"
Aku berdiri, bergerak ke arah pagar yang tingginya sepinggang tepat di depan kita. Berbalik, menyandarkan pantat disana, lalu melipat tangan saat kamu membuka suara.
"Terus kamu maunya apaan?"
"Entah. Bunglon, burung, atau mamalia"
"Mamalia!!!"
"Apa? Gajah?"
"Hahahaha, boleh asal warnanya ijo"
"Baru tau kalo mamalia ada yang warnanya ijo"
Siang ini begitu terang. Aku masih dalam posisi yang sama saat kamu mulai menutup segala gerak, sejenak. Bergegas membuka tas yang menengahi kita sebelumnya, mengeluarkan smartphone, menunduk memperhatikan sesuatu. Ibu jarimu bergerak lebih lincah dari biasanya. Beradu antara kulit dan layar putih terang. Apakah sebuah sapaan dari seberang "lagi apa sayang?", atau kamu lupa mengabari seseorang, yang sedang menunggu ucapan selamat makan siang. Kamu berhenti, menoleh ke arah ku yang pura-pura tak memandangimu.
Matahari berada di titik tertingginya, riuh suara kota beradu masuk menuju gendang telinga. Sekali lagi kamu menunduk, mengulangi ketukan pada layar. Kamu membaca, alismu mengkerut dan mulutmu terbuka, seperti mengucapkan huruf O tanpa suara, yang artinya kamu tidak percaya pada apa yang tertulis disana. Entah apa, aku tak peduli ada apa disana.
"Kamu benar"
"Apa?" tanyaku.
Lagi-lagi kamu diam, pandanganmu kosong ke arah pagar tempatku bersandar yang birunya kelihatan lebih segar daripada agar-agar. Kamu menatapku dalam, "Ternyata mamalia gak ada yang warnanya ijo!" ucapmu. Aku pun menarik nafas panjang seraya menutup mata, lalu membukanya perlahan. "Aku lapar" kataku.
Entah sejak kapan, kedua mataku dipenuhi jelaga; sisa-sisa pembakaran kepercayaan pada cinta dan ketulusan. Mungkin sejak berbulan lalu saat kau berbalik memunggungi dan menghanguskan setia dengan api keingkaran. Mungkin sejak beberapa hari lalu saat kepengecutan mengunjukkan diri lewat orang di sekitar. Mungkin sejak hari ini. Entah, aku lupa.
Aku berpuasa dalam jelaga di tengah-tengah dunia yang penuh gemerlap, hingga suatu saat nanti bertemu dengan sosok yang melakukan hal yang sama. Mengajak untuk berbuka bersama tanpa ada kata aku dan kamu tetapi melebur menjadi kita