KAMPUNGAN
Istilah Kampungan belakangan sering sekali dipakai oleh seorang LBP, kata itu ditujukan terhadap siapa saja yang tidak sejalan dengan alur pikiran dan kebijakannya selaku pejabat penguasa. Bagi saya yang memang orang kampung, setiap mendengar atau membaca kata Kampungan ada sudut yang terusik di alam pikiranku, ada muatan apa sebenarnya dibalik istilah kampungan itu.
Dipermukaan memang sederhana, arti dari kampungan ya kampungan, sinonimnya kolot, ketinggalan zaman, tidak moderen, tidak up to date. Kata ini terdengar biasa saja dan memang kerap dilontarkan dalam intonasi senda gurau sehari-hari, namun bisa juga dibubuhi intonasi tinggi yang tujuannya menyerang, menyudutkan atau menghina orang atau kelompok tertentu. Tergantung situasi, konteks dan nada bicara.
Di sisi lain kata kampung itu dekat sekali dengan kata rindu, cinta, kenangan, ayah, ibu, keluarga besar, bentang alam dan dimensi nan indah. Ada momen-momen dan suasana yang tak akan pernah tergantikan. Ada muatan memori yang berisi penuh akan kearifan, kerukunan sosial, keindahan budaya masa lalu yang telah hilang jadi kenangan. Sesuatu yang tiada lagi kita temukan di susana yang katanya moderen hari ini.
Dengarlah jeritan lirih generasi 80 an 90 an kebelakang, yang seakan ingin sekali memutar roda waktu kembali ke masa-masa itu. Semua yang ada kini, yang penuh dengan kemudahan oleh teknologi moderen serba instan sungguh tidak berarti dibanding kenangan Kampungan itu.
-----****-----
Syahdan, setelah peradaban Abbasiyah luluh lantak disebu Pasukan Mongol di bilangan abad ke 11 M, kota Baghdad yg konon jadi "ibukota dunia" kala itu, mungkin seperti New York atau mirip Jakarta sekarang hampir rata dengan tanah, termasuk kota² disekujur kekuasaan Imperium super power itu. Bila dimisalkan Baghdad adalah Jakarta maka Bandung, Surabaya, Padang, Medan dan Makassar juga bernasib serupa. Rata dengan tanah.
Bisa dibayangkan apa yang terjadi setelah huru-hara maha dahsyat itu, kekacauan tak terperikan, orang-orang yang selamat dari bencana itu berduka karena kehilangan harta benda, sanak saudara yang kepalanya dijadikan tumpukan bukit-bukit tengkorak. Semua yang dicintai di dunia lenyap seketika. Orang-orang diperkotaan kembali ke kaum masing-masing. Pulang kampung. Siapa tau masih ada sanak saudara yang bisa diajak berbagi duka.
Para ulama adalah orang paling dicari untuk mendapatkan kekuatan dan harapan. Kesempatan ini justru menjadi ladang dakwah yang sempurna. Manusia lebih mudah diarahkan untuk "Pulang Kampung". Ia, pulang kampung ke kampung sesungguhnya, kampung akhirat. Seorang Orientalis Annemare Schimel mengatakan, " ada yang menarik, pasca kehancuran Baghdad pengajian-pengajian sufi tumbuh subur bagai jamur di musim hujan".
Dari pengajian² yang menjamur diatas puing-puing khancuran peradaban Abbasiyah itulah semangat baru kemudian berkecambah.
Bermunculan para Ulama besar seperti Jalaludin Rumi dan Sa'adi, dua diantara sekian banyak ulama Penyair Persia yang mengalami dan menyaksikan sendiri. Sa'adi menghibur ummat dengan karyanya berjudul Gulistan, artinya taman bunga. Karya yang membangkitkan kesadaran kolektif dan pengingat pada "kampung halaman" sejati. Ialah kampung akhirat. Kampung yang melahirkan energi perubahan terdahsyat sepanjang sejarah umat manusia. Sejarah terbaik yang pernah dicapai manusia. Sejarah yang membangun jiwa raga dan alam, bukan sejarah yang menghancurkan.
Dari keruntuhan dan kecambah kesadaran ini kemudian kebangkitan ummat kembali bersemi, Lahir kesatria seperti Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi (1137-1193 M), yg lebih dikenal sebagai Sultan Saladin, Panglima pemenang perang salib, pembebas Yerusalem, murid dari Nuruddin Zanki, satu lagi Ulama sezaman dengan Sa'adi dan Rumi juga Al Ghazaly.
Lama sekali peradaban baru bangkit menggeliat setelah dinamika sejarah panjang memakan waktu beberap dekade bahkan abad, berawal dari kecambah kesadaran "pulang kampung" tadi. Dan dari peradaban baru itu pula lahir kesadaran untuk membangun kampung-kampung baru yang beradab dibawah perlindungan kekhilafahan baru Ustmani dari bani Seljuk, sepupu orang-orang mongol, kesatria padang rumput (1299 M).
Kampung-kampung beradab itu kemudian diduplikasi secara masif oleh para da'-da'i dari tepi benua Eropa hingga ke pelosok kepulauan Nusantara selama ratusan tahun berdiri kokoh, membentuk pribadi-pribadi dan kelompok, kaum-kaum yang sempurna berperadaban tinggi yang memegang teguh keimanan, kehormatan, martabat, kejujuran, mencintai sesama manusia, mencintai alam dan lingkungan sekitarnya.
Peradaban kampungan, yang sangat mencintai kampung halaman abadi dan membangun kampung-kampung yang ditujukan segalanya hanya satu-satunya tujuan yakni mengabdikan seluruh jiwa dan raga dan segala yg mereka miliki untuk mengabdi kepada Sang Pemilik Kampung. Allah azza Wa Jalla, Rabbul 'alamin. Semuanya pada akhirnya Pulang Kampung dan hanya ditemani kain kafan sahaja.
-----*****----
Mungkin bangsa ini, lebih tepatnya kumpulan bangsa-bangsa yang terikat oleh komitmen hidup bersama dibawah naungan sebuah Republik ini, membutuhkan kehancuran dulu untuk tumbuh kembali dan menyadari makna dari kata Kampung sehingga semua menjadi Kampungan agar mengerti arti sesungguhnya apa itu Beradab. Tidaklah cukup sekadar diNepalkan saja, yang sedang menjadi trending politik yg cukup menakutkan bagi para penguasa yg sedang berkuasa hari ini. Mereka, para penguasa itu, lupa bahwa ada hal yang jauh lebih menakutkan dari sekedar diNepalkan saja.
Inilah ternyata hulu keterusikkan pada istilah kampungan, bahwa bukanlah sesuatu yang sepele dan kebetulan. Mereka yang membangun istilah kampungan itu, adalah propaganda penyesatan peradaban anti langit. Sayangnya banyak yang tidak paham sehingga menganggap wajar dan biasa saja, kemudian latah ikut-ikutan bersama setan.
Resep-resep teori ilmu modern atas penyakit dan penderitaan umat manusia hari ini tidak akan mampu mengobati derita yang tiada berujung ini, apalagi bila memiliki harapan untuk hidup enak di kampung halaman akhirat. Kejahatan yang sudah berurat berakar di tubuh bangsa ini mau tidak mau harus rontok bila ingin segalanya menjadi benar-benar indah. Kehidupan yang bukan sekedar hidup enak dan moderen namun palsu dan sementara pula.
Resep-resep kehidupan itu masih tersisia puing-puingnya di kampung kampung dan di dalam kenangan orang-orang kampung jaman dahulu yg kampungnya kini sudah menjadi kota.
Kehidupan kampung yang saling mencintai, saling bergotong royong, menjahui segala macam kejahatan, bermusyawarah atas masalah yang dihadapi, memerangi kejahatan dijalan Allah, memelihara dan mencintai alam dan seluruh mahkluk. Membangun alam dengan segal kearifan nan indah. Kehidupan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan dari pimpinan kitab hikmah yang bernama Al Quran dan tuntunan sunnah RasulNya.
Jakarta, 30 Okt 2025











