Membeli Kenangan
Saya tidak tahu mengapa belakangan ini selera buku bacaan sedikit berubah. Jika dulu sekali suka membaca non-fiksi, lalu fiksi khususnya novel, sekarang saya sedang bersemangat untuk membaca dan mengumpulkan buku anak-anak lawas. Bukan buku klasik Lima Sekawan atau kumpulan buku-buku Laura Ingalls Wilder, tetapi buku-buku terbitan era 70an s/d 80an terbitan lokal atau Departemen P dan K. Ya, buku-buku yang hanya kita temui dulu di perpustakaan sekolah. Namun, bukan berarti saya kelahiran tahun 70-an atau 80-an ya wkwkwk. Hanya saja saya terhitung beruntung karena saat bersekolah di SD, perpustakaan masih menyediakan buku-buku itu. Kalau tidak salah ingat, semua buku cerita anak-anak di sana sudah saya baca. Saat istirahat saya selalu ke perpustakaan meminjam buku lalu membacanya di atas pohon mangga yang tumbuh rendah di halaman sekolah. Ketika teman-teman yang lain asyik bermain entah mengapa membaca bagi saya terasa lebih menyenangkan. Mungkin itu juga sebabnya saya jadi sosok yang susah bergaul dengan orang lain dan memiliki sedikit teman.
Membaca bagi saya kala itu seperti pintu bagi dunia lain yang tidak pernah saya temui sebelumya. Setiap membuka buku baru saya seperti berada dalam cerita tersebut. Setiap peristiwa yang disampaikan dalam buku seolah saya lihat dalam kepala dengan ilustrasi yang terbentuk dengan sendirinya (yah, ketika dewasa saya baru tahu kalau tipe belajar saya adalah tipe visual). Dan kebiasaan saat kecil tersebut sangat berpengaruh bagi masa remaja dan dewasa saya; buku menjadi benda yang tidak bisa saya abaikan. Selalu ada satu buku bacaan yang saya taruh di tas ke manapun saya pergi. Mungkin itu juga sebabnya, berburu buku-buku lawas jadi aktivitas yang saya gandrungi akhir-akhir ini. Toko buku loak ataupun toko loak online adalah tempat saya untuk membeli kembali masa kecil yang tak bisa diulang.
Mungkin orang lain menganggap saya aneh, tetapi sah-sah saja kan karena setiap orang punya perspektif tentang hal berharga yang ingin diperjuangkan dan masing-masing berbeda bentuknya. Bagi saya saat ini hal itu adalah kenangan masa kanak-kanak. Kalau kamu apa?
(Hikmah dari tulisan ini, mungkin tak ada, hanya sekadar cerita. Karena tak selamanya setiap rangkai kata memerlukan alasan ‘manfaat’ untuk dituliskan.)














