🆕 kanker limfoma 👉 cara mengobati limfoma Harus Dilihat!
seen from Russia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Uzbekistan
seen from United States

seen from United States
seen from Yemen
seen from United States
seen from Canada
seen from France
seen from United States
seen from France
seen from Belgium
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
🆕 kanker limfoma 👉 cara mengobati limfoma Harus Dilihat!
Kenali Gejala Kanker Limfoma yang Diidap Pendiri Microsoft
Liputanviral - Kabar duka muncul dari dunia teknologi. Pendiri Microsoft, Paul Allen, mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (15/10) di usia ke-65 tahun. Allen meninggal setelah berjuang melawan komplikasi kanker limfoma non-Hodgkin. Mengutip Reuters, diagnosis kanker limfoma non-Hodgkin itu didapatkannya pada tahun 2009 silam. Kondisinya dikabarkan semakin memburuk pada 2018. Kanker limfoma non-Hodgkin menjadi yang paling umum di antara kanker lain yang menyerang sel darah putih. Di Indonesia, tercatat sebanyak 14.905 penderita kanker limfoma non-Hodgkin berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013. Limfoma non-Hodgkin merupakan kanker darah dalam sistem limfatik yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Sistem limfatik merupakan salah satu bagian penting untuk kekebalan tubuh manusia. Antibodi akan terbentuk sempurna dengan bantuan sel-sel darah putih dalam sistem limfatik. Jika sel darah putih terserang kanker, maka sistem kekebalan tubuh akan menurun drastis hingga rentan mengalami infeksi. Limfoma non-Hodgkin disebabkan oleh perubahan DNA atau mutasi yang terjadi di dalam salah satu jenis sel darah putih yang disebut limfosit. Namun, hingga saat ini, belum diketahui pasti apa yang menyebabkan terjadinya mutasi. Seharusnya, tubuh terus memproduksi limfosit baru untuk menggantikan limfosit yang telah mati. Namun, hal itu tak berlaku bagi penderita kanker limfoma non-Hodgkin. Limfosit pada penderita limfoma non-Hodgkin terus membelah dan berkembang tanpa henti. Akibatnya, terjadi penumpukan limfosit di dalam kelenjar getah bening. Kondisi inilah yang membuat tubuh rentan terhadap infeksi. Ada beberapa gejala awal yang muncul pada penderita limfoma non-Hodgkin. Salah satu yang paling kentara adalah pembengkakan di kelenjar getah bening, seperti pada leher, ketiak, dan lipatan paha. Berikut beberapa gejala kanker limfoma non-Hodgkin mengutip laman cancer.org. 1. Pembengkakan kelenjar getah bening Kelenjar getah bening yang mengalami infeksi akan mengalami pembengkakan. Namun, tak semua bentuk pembengkakan kelenjar getah bening merupakan gejala kanker. Pembengkakan kelenjar getah bening yang disebabkan oleh pertumbuhan sel kanker akan terus berkembang dan membengkak, serta terkadang disertai rasa sakit. 2. Gangguan pencernaan Sel kanker yang telah menyebar bakal menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan. Akibatnya, penderita kanker kerap mengalami sembelit atau diare. 3. Rasa lelah berlebih Perkembangan sel kanker dalam tubuh mengakibatkan terganggunya penyerapan nutrisi. Hal itu membuat tubuh kekurangan asupan tenaga. Perlu dicatat, kelelahan ini juga terkadang muncul tanpa penyebab yang jelas. 4. Berkeringat di malam hari Pada malam hari, udara menjadi lebih sejuk. Namun, hal itu tak berlaku bagi para penderita kanker limfoma. Mereka justru kerap mengeluarkan keringat berlebih di malam hari. 5. Rasa gatal Kelenjar yang terserang sel kanker akan menimbulkan rasa gatal pada seluruh tubuh. Rasa gatal ini terkadang muncul secara tiba-tiba tanpa penyebab yang diketahui dengan jelas. Hal itu menandakan bahwa sel kanker telah menyebar dan menimbulkan reaksi alergi pada kulit. 6. Sesak napas Penderita limfoma non-Hodgkin kerap merasakan sesak napas, nyeri di bagian dada, dan batuk yang tak kunjung mereda. Hal ini terjadi ketika kanker kelenjar getah bening telah menyebar ke organ pernapasan. Read the full article
Pasien Kanker Limfoma Non-Hodgkin Bisa Sembuh, Asal...
Inanews - Spesialis Penyakit Dalam dari Perhimpunan Hematologi dan Onkologi Medik Dalam Indonesia (Perhompedin), Ronald A Hukom, mengatakan bahwa saat ini kanker limfoma golongan non-hodgkin menempati peringkat nomor tujuh penyakit kanker di Indonesia di bawah kanker payudara, kanker serviks, paru-paru, usus, prostat, ovarium, hati, dan nasofaring. "Bahkan angka kematian akibat penyakit ini cukup tinggi lantaran terlambatnya pasien mengetahui kondisi ini," kata Ronald pada Peringatan Hari Peduli Limfoma Sedunia bersama Ferron Par Pharmaceuticals dan Cancer Information and Support Center (CISC) Indonesia di Jakarta Pusat, Sabtu, 15 September 2018. Menurut Ronald, deteksi yang terlambat mengakibatkan penanganan kanker limfoma sudah pada stadium lanjut. Kondisi semakin parah karena tidak sedikit pasien yang justru berobat ke 'tempat yang salah' atau pengobatan alternatif. "Ada pasien yang datang ke saya mengaku sempat ke dukun," ujar dia. Kanker limfoma atau kelenjar getah bening merupakan tipe kanker darah yang muncul dalam sistem limfatik karena perubahan sel-sel limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal atau sehat berfungsi menjaga daya tahan tubuh dan menangkal beragam jenis infeksi. Sementara pada kasus kanker limfoma, jelas Ronald, sel B atau T ini membelah lebih cepat, hidup lebih lama, dan tak terkontrol. Menurut Ronald, ada beberapa jenis kanker limfoma berdasarkan dua golongan, limfoma hodgkin dan limfoma non-hodgkin. Apabila pengobatan medis dilakukan sedini mungkin, besar kemungkinan pasien kanker limfoma mampu menjaga penyakitnya di bawah kontrol. "Kualitas hidup mereka pun membaik, bahkan bisa sembuh," katanya. Read the full article