---
yang tak jadi tuhan
aku pernah meletakkannya
di altar paling sunyi dalam dada
mendoakannya diam-diam
seolah ia kitab
yang bisa menyelamatkan.
tapi ia manusia
berjalan dengan luka dan egonya
dan aku terlalu sibuk
menyembah bayangannya
hingga lupa: ia bisa pergi kapan saja.
tak lagi kupanggil namanya dalam gelap
tak lagi kusebut-sebut dalam tangis
aku cabut takhta dari pikiranku
kubersihkan ruangnya
dengan kesadaran yang sedikit terlambat.
sekarang, ia hanya nama
bukan nyawa kedua
bukan arah
bukan takdir yang kupeluk dalam doa.
aku belajar
bahwa mencintai
bukan berarti memuja
dan kehilangan
bukan berarti hancur.
---
@gramabiru / abcdefslmnt
Sungaiguntung, 27 Maret 2025









