Beranda III
Sekali dan hanya sekali, wahai wanita lembut dan tenang, Di lenganku ada lengan halusmu Yang tersandar (jauh di kegelapan jiwaku kenangan ini tak akan pernah pudar);
Terlambat sudah semua seperti terciptanya medali baru Bulan purnama menyebar cahaya, Malam amat bersungguh-sungguh, seperti sebuah sungai Dalam aliran lelap Paris.
Dan di sepanjang rumah, di bawah bayang-bayang gerbang, Kucing-kucing menyelinap Dari telinga ke telinga, bagai bayangan bermakna Yang pelan-pelan menyertai kita.
Seketika, diantara bebasnya keintiman Yang bermekaran dalam cahaya pasi Darimu, dimana instrumen kaya dan nyaring tak bergetar, Akan riang berbinar-binar,
Darimu, jernih dan menenangkan seperti keriuhan Di pagi yang cerah Nada sendu, nada asing Lari, terhuyung-huyung
Bagai anak kecil yang mengerikan, muram, busuk, Dimana keluarganya merasa dipermalukan, Dan akan dirahasiakannya semua itu dari dunia, Jauh di dasar tanah.
Malaikat yang malang, bernyanyi, dengan nada ganjilmu: “Bahwa tak ada kepastian di bumi ini Dan selalu, walau bagaimanapun cara menjaganya, keegoisan manusia akan selalu dikhianati;
Menjadi wanita cantik adalah pekerjaan berat, Dan sebenarnya itu terlalu biasa Bagi penari gila dan dingin, yang pingsan Dalam senyum kakunya;
Membangun sebuah hati adalah hal paling konyol; Semua akan retak, cinta dan keindahan, Sampai Kealpaan akan melempar mereka ke dalam tudung kepala Untuk kembali pada Keabadian!"
Sudah sering kusebut bulan ajaib ini, Keheningannya dan ketenangannya, Dan kengerian itu membisikkan keyakinan Di tempat pengakuan dosa dalam hati.
*terjemahan dari puisi Confession karya Charles Baudelaire (1821-1867). Sumber: https://fleursdumal.org/poem/140









