DISCONNECTED
Aku tak lagi denganmu Kau kembali membisu duniaku kembali runtuh dan kau hilangkan rasa utuh
seen from Germany

seen from Canada
seen from France

seen from United States
seen from Suriname
seen from Russia
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Pakistan
seen from Pakistan

seen from Poland
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from France
seen from United States

seen from Canada
seen from China
seen from Brazil
DISCONNECTED
Aku tak lagi denganmu Kau kembali membisu duniaku kembali runtuh dan kau hilangkan rasa utuh
. Kesini lagi kita... Dulu bareng” @lukman.agus . . #jalanjalan #halanhalan #pernahmampirkesini #kembalilagi #kyoto #japan #nippon #january2020 #family #familytime #familytravel (at Gion Naritaya) https://www.instagram.com/p/B7ijM8Llv6yzgFaCakggGmjxNfVRq_F1IeVznM0/?igshid=2m3g1peozeqf
Kembali ke Ramadhan di Pengabdian.
Belum tepat setahun tetapi sudah kembali bertemu Ramadhan. Setengah Ramadhan tahun lalu dihabiskan di tempat pengabdian. Iya, rindu.
Rindu ketika.. buka puasa bukan sama keluarga sendiri.. tapi keluarga baru. Segala macam persiapan buka puasa disiapkan sendiri, namun bersama-sama.
Ngabuburit ala-ala anak pengabdian dengan mengajar TPA di masjid dusun, sesuai jadwal tentunya. Kemudian, buka puasa bersama di masjid. Dapat makan nasi lengkap dengan minum dan pahala dari sholat maghrib berjamaah :’) Bahkan, kadang diberi nasi kotak pemberian dari panti asuhan. Lumayan, tinggal dihangatkan untuk makan sahur :’)
Bangun untuk sahur bukan dibangunin oleh ibu.. tapi alarm handphone. Bukan tinggal makan doang.. tapi harus menyiapkan makan sendiri untuk anak-anak yang lain. Nyawa belum terkumpul utuh, harus tanggung jawab sama jadwal menyiapkan makan sahur satu sub unit. Satu telat, semua telat.
Tarawih dan subuhan bukan sama orang-orang di kampung sendiri.. tapi sama orang-orang baru di dusun yang sedang ditinggali. Bukan datang, salaman, kemudian duduk di belakang.. tapi datang, salaman, duduk di tempat yang masih kosong di depan, dan selalu senyum kepada wajah yang dengan sengaja menatap wajah kita.
Mengadakan lomba Ramadhan dadakan dengan kami sebagai panitia, penyelenggara, dan sponsorship. Segalanya kami persiapkan secara mandiri (dan bukan sendiri).
Mengikuti pengajian rutinan di panti asuhan. Mengakrabkan diri dengan anak-anak penghafal Al-Quran :’)
Sekali-kali buka bersama di luar pondokan dan masjid bersama anak-anak satu sub-unit. Cari suasana baru. Dari situ, kami menjadikan Alun-alun Wates sebagai tempat tongkrongan baru.
Hari raya di pengabdian. Pergi sholat ied bukan sama keluarga sendiri.. tapi sama keluarga baru yaitu anak-anak sub unit dan keluarga bapak ibu pondokan. Persiapan sholat ied bukan dua jam sebelum jam 6.45.. tapi cukup sekitar satu jam-an. Pergi sholat ied tidak perlu pakai kendaraan.. tapi cukup jalan kaki. Persiapan sholat ied tidak pernah sesingkat itu. Ya karna cuma ada satu masjid di satu dusun itu dan itu tempat biasa mereka sholat ied, apapun hari rayanya. Sholat ied di situ tidak pernah setakut jika terlambat atau tidak dapat tempat sholat atau keberisikan anak-anak kecil nangis atau banyak pengemis dadakan.
Hari raya Idul Fitri bukan minta maaf lahir dan batin pertama kali ke orangtua sendiri.. tapi ke bapak ibu pondokan dan anak-anak sub unit. Bukan ke tetangga-tetangga dekat .. tapi sowan ke rumah bapak ibu dukuh, rumah bapak ibu RT, rumah bapak ibu RW lainnya, dan rumah bapak ibu ketua pemuda dusun.
Semuanya masuk akal. Ramadhan kali ini mungkin kami tidak di sana, (mungkin) tidak akan pernah lagi. Tapi, silaturahmi kami ke warga dusun insyaAllah selalu terjalin dari Hari Raya Idul Fitri tahun lalu sampai Hari Raya Idul Fitri tahun-tahun selanjutnya. Semoga kita semua diberi umur panjang dan kesempatan untuk selalu menjalin silaturahmi. Aamiin.
_
Yogyakarta, 26 Juni 2016 H-10 Lebaran!! 09:24 pm
Sudah tak ada hati lain yang tertinggal disini. Setiap pemiliknya sudah membawa hatinya pergi. Tanpa diminta Tanpa dipaksa. Jadi jangan pernah kau mencoba tuk kembali. Karena tempatmu pulang tak lagi disini.
Gegara nonton a*dc2 yang…. i don’t like the story. Meski dari awal sudah ketebak alur ceritanya.
Kulon Progo Binangun
Selamat ulang tahun ke-64 untuk Kabupaten Kulon Progo! Semoga Kulon Progo semakin maju, sejahtera, dan terus mengedepankan slogan “Bela Beli Kulon Progo”. Aamiin.
Kulon Progo adalah rumah kedua bagiku karena aku pernah tinggal di sana selama kurang lebih dua bulan (KKN). Tentu saja, Kulon Progo bagiku tidak sama seperti bagi orang lain. Bukan sekedar tempat wisata dan bukan sekedar tempat untuk berfoto.
Dari Kulon Progo, aku bisa mengenal Kecamatan Pengasih, Desa Karangsari, dan Dusun Kamal.
Aku masih sangat ingat banyak kenangan tinggal di Dusun Kamal.
Jalan-jalan pagi atau sore ke sawah. Mencari pemandangan yang hijau-hijau sembari tegur sapa dengan warga setempat. Berbincang-bincang tentang banyak hal dengan teman seperjalanan. Berfoto-foto ria.
Menyusuri hutan untuk menuju lokasi situs Lumpang Kentheng. Menginjak setiap ranting dan dedaunan. Mencoba mencari-cari jalan alternatif keluar sampai nyasar dan akhirnya memilih diantarkan oleh warga setempat untuk keluar dari hutan.
Menyusuri hutan bagian atas sampai menuju RT 67 (RT paling puncak) dengan berjalan kaki bersama tiga teman perempuan lain di suatu pagi. Sama sekali tidak melelahkan. Sangat asik. Sangat seru. Sangat berkeringat. Akhirnya mampir ke rumah Pak Dukuh (berada di RT 67) karena beberapa orang kepepet kebelet BAB dan haus maksimal.
Jalan-jalan ke Alun-alun Wates mencari makan dan jajanan. Ikan bakar, siomay, soto ceker yang kehabisan ceker, dan minuman es coklat. Mau bersembilan atau berdua rasanya tetap menyenangkan.
Hang out dengan Mbak Unyi ke Wates. Sering curi-curi waktu karena bosan, tak ada kerjaan, dan lari dari kerjaan. Satu hal yang pasti kami lakukan adalah jajan. Bakso, siomay, mie ayam, steak, pecel lele, tongseng dan sate, dan lain-lain deh. Selain makan, nyalon juga pernah.
Pergi ke pasar setiap tiga hari sekali sesuai jadwal piket masak. Selalu sama Mbak Unyi karena doi memang partner sejati gue, saat itu. Pasar teteg, Pasar Wates, sampai warung-warung sayur pinggir jalan di Pengasih pernah dijajah. Oh ya, Toko Embrio toko serba ada yang ngehitz juga dijabanin.
Mancing di pemancingan milik Pak Sleman (pemancingannya berada di dusun Kamal). Waktu itu mancing berdua hanya dengan Mbak Unyi karena hari itu memang ingin masak lele. Jadi ceritanya, kami sudah keliling pasar-pasar di Wates tapi memang lagi apes. Btw, itu pengalaman pertama mancingku. Sempat kesal karena pancinganku tidak lebih laku daripada punya mbak Unyi. Tapi, asli lah.. Itu seru! Aku ketagihan.
Masak di pondokan untuk menghidupi tujuh anak lainnya. Sebenarnya kami masak bertiga, tapi satu orangnya tidak berperan aktif. Jadi, aku sama mbak Unyi lah yang masak. Dari awal kami pesimis karena kelompok kami rasanya hampir tidak pernah masak. Kenyataannya kami bisa. Kami berdua. Kata anak-anak lain, masakan kami selalu enak. Meskipun itu hanya mengandalkan resep dari internet dan hasil tanya-tanya dari ibu kami, kami bisa. Bahkan, masakan kami sering ditiru oleh anak-anak lain. Keren kan? :P Kami pernah masak lele goreng, sambal, terong krispi, sayur bayam, sayur sop, tumis jamur, oseng kangkung, mie instan goreng + telor ceplok, sosis asam manis pedas, sosis goreng, telor dadar, nasi goreng sarden, sarden, tempe goreng garit, bakwan, jamur krispi, tahu bacem. Apalagi ya? Lupa. Oh ya, soto. Tapi soto adalah masakan paling gagal buat kami. Btw, setiap masak kami hampir tidak pernah tidak berseteru. Tapi itu yang akhirnya bikin seru. Bikin kangen..
Aku bisa bikin kue brownies cokelat kukus pakai tepung mocaf (modification cassava flour)!! Itu pertama kalinya praktek bikin kue sepanjang hidupku. Aku yang inisiatif mau bikin, cari resep, beli bahan dan alat, dan prakteknya dibantuin sama anak-anak. Setiap takarannya selalu aku kira-kira. Percobaan pertama, berhasil walaupun lupa menutup panci pakai serbet. Hiks. Tapi tetap enak! Gue jabanin deh. Percobaan kedua lebih berhasil. Sempat kesulitan cari cokelat padat di lima toko karena kehabisan. Akhirnya nemu di toko kelima padahal itu sudah malam dan aku kedinginan. Hasil praktek kedua ini kami jual di acara besar unit, yaitu acara bazar. Aku salah menentukan harga karena hanya dikira-kira. Keuntungan yang didapat kurang dari 3000 rupiah -_- Tapi, ini pengalaman yang sangat berharga, seru, sedih sekaligus menyenangkan.
Berkunjung ke Waduk Sermo bersama tujuh anak lain sekaligus dengan dua anak pemilik pondokan yang kami tempati. Naik perahu dan berfoto-foto. Sangat seru!
Beli bensin selalu di SPBU Pengasih. Ketemu sama mbak-mbak Desa Karangsari yang ditaksir sama temen laki-laki. Dasar kalian :))
Apa-apa beli di toko Embrio. Toko serba ada. Toko sejuta umat. Pakaian ada, peralatan mandi ada, peralatan bayi ada, sembako ada, pulsa ada, makanan ada, minuman ada, mainan anak-anak ada, alat tulis ada, alat masak ada, alat jahit ada, dan lain-lain.
Tanjakan terbang. Tanjakan ini ada di tengah jalan menuju Dusun Kamal. Aku sering sengaja menambah kecepatan motor untuk melewati tanjakan ini agar merasakan sensasi terbang di atas motor. Sengaja bikin kaget sama yang aku boncengin :P
Ambil dan naruh laundryan. Dibanding yang lain, aku yang paling inisiatif untuk ke tempat laundry. Biasanya tiga hari sekali. Doyan amat yak.
Main pingpong di belakang pondokan. Ini juga pengalaman pertama kali. Mbak Unyi mengajarkanku main ini sampai akhirnya aku bisa, ketagihan dan selalu mengajak doi untuk main. Sayangnya, ini tidak bertahan lama karena Mbak Unyi kena alergi karena meja pingpongnya sering kotor. Tapi asli.. Seru abis lah.
Mandi di pondokan ngantri beberapa orang karena kamar mandi cuma satu. Kamar mandinya sebelahan sama WC. Jadi, setiap WC-nya ada orang laki-laki, mandinya jadi ketunda-tunda gitu karena nungguin yang di WC keluar :))
Sholat jamaah. Satu bulan pertama, kami berempat awalnya sering jamaah. Tapi mulai masuk bulan kedua, jadi hanya aku dan mbak Unyi yang jamaah karena Riza sama Ismi sedang bermasalah sama datang bulannya. Kami gantian jadi imam tapi paling sering ya mbak Unyi sama Ismi.
Makan bersama. Kami punya satu meja makan tempat kami selalu makan, rapat sub unit, dan hanya sekedar berbincang-bincang. Kami sering makan bersama. Selalu ada yang mau dimintain tolong untuk mengambilkan nasi, sayur, bahkan lauknya.
Beli makan dari luar. Kalau lagi malas masak biasanya beli makan dari luar. Ada bakso ider yang lewat pondokan, pernah beli soto, bakmi rebus sama goreng, nasi goreng, bubur murah meriah nan banyak dan enak, bakso jumbo, mie ayam, gorengan, brongkos, opor tahu tempe, lotek, nasi padang, tumis sayur, sate, dan lainnya lupa. Enak-enak deh pokoknya.
Sahur bersama. Bulan pertama, hal yang paling malas untuk dilakukan adalah piket masak untuk menyiapkan makan sahur. Seringnya kami mengandalkan sisa makan semalam untuk dihangatkan kembali. Kalau masak paling mudah, larinya ya hanya bikin telur dadar.
Buka puasa bersama. Ini juga selalu kami lakukan bersama. Awal-awal, menu kami selalu enak dan selalu ada minuman seperti es buah, es blewah, es kelapa muda. Lama-lama, ya seadanya saja. Haha. Tapi ini saat-saat berharga buat aku. Kapan lagi bisa seperti ini :)
Nonton film horor. Virus nonton horor melanda karena Riza yang memprovokatori. Kami perempuan berempat (kadang berlima) nonton. Mbak Unyi takut tapi maksa ingin nonton. Ismi ngantuk tapi maksa ingin nonton. Riza teriak kalau ada yang teriak duluan. Seru!!
Tidur sekamar sama anak-anak perempuan. Selalu ada cerita di setiap malamnya. Banyak kejadian lucu yang sudah terjadi. Lucu :)))
Terima kasih banyak Kulon Progo atas semua pengalaman-pengalaman tersebut! Mungkin akan jadi lain cerita kalau ini tidak terjadi di Kulon Progo. Sekali lagi, selamat ya! Ulang tahunmu bikin aku kangen lagi sama masa-sama selama KKN :(
Yk, 15 Okt 2015 23:33
Malam di Alun-alun Wates
Rasanya sudah lama sekali sejak kali terakhir kita ke sini. Menghabiskan malam yang selalu begitu dingin di tengah-tengah kota. Sekalipun kunjungan kita masih dapat terhitung dengan jari. Ini tempat yang akhirnya selalu kita tuju.
Aku.. Hehe, iya rindu. Bagaimana kita menembus dinginnya malam dengan jaket kita masing-masing. Bagaimana kita memesan menu makan yang kita inginkan. Bagaimana kita berbincang tentang bermacam hal.
Pernah kita terduduk bersama hingga terlampau malam. Sampai penjaja makanan berangsur pulang ke kediaman.
Aku rindu berlama-lama menghabiskan waktu dengan kita. Di tempat yang sama. Dengan suasana dan orang yang sama.
Yk, 6 Okt 2015 19:32
meniup debu
Assalamu’alaikum
Sudah lama banget ngga mampir ke sini, sekalinya mampir langsung ganti ini itu. haha. Gimana kabarnya? kalau aku? sekarang lagi teramat kelaparan, tapi mager buat bahkan bikin mie. Tapi alhamdulillah masih hidup dan bernafas. Belakangan pengen banget nulis ini itu, tapi ya gitu, sukanya nunda, jadinya batal nulis dan lupa mau nulis apa. Maka dari itu, kalau mau nulis, tulis aja dulu, dimana pun, kalau perlu di baju juga boleh.
Pengen cerita banyak, tapi mau beresin kamar dulu. Sampai nanti di tulisan selanjutnya!