Apakah manusia ditakdirkan saling mengenal hanya untuk saling mengenang?
seen from India

seen from Canada
seen from China

seen from Canada

seen from Canada

seen from Canada
seen from Canada
seen from China
seen from Canada
seen from Indonesia
seen from Germany
seen from Guatemala
seen from Canada

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from Canada

seen from United States
seen from United States
Apakah manusia ditakdirkan saling mengenal hanya untuk saling mengenang?
“Barangkali, dewasa memang soal menerima: bahwa tidak semua ketulusan akan diperlakukan setara.”
seperempat abad yang lalu, seorang perempuan menulis beberapa baris puisi di buku diary:
jaga kesehatanmu, hiduplah lebih lama aku belum selesai mencintaimu diam-diam jangan terlalu akrab dengan kopi, asap rokok, dan malam aku ingin ada seseorang yang kelak memeluk rambut putihmu dengan bahagia inginku, orang itu adalah aku kalaupun bukan, tak apa asal kamu tetap hidup. itu sudah cukup
tji leng shi, 2805-2026
Ia mendayung bukan menuju tepian, melainkan menjauhi tata peta. Langit di atas kepalanya kosong sebagaimana lumrahnya langit; namun di bawah lambung perahunya, air menyimpan konstelasi yang tak pernah ada di atas. Bukan pantulan. Ia terlalu jernih untuk sekadar meniru. Maka ke manakah haluan hendak disauhkan, bila kompas hanya mengenal utara yang telah direkayasa jari-jari yang berkepentingan?
Manusia menamai ini: mencari.
Padahal yang berlangsung ialah sesuatu yang lebih tua dari pencarian itu sendiri, semacam ingatan ragawi akan sebuah daratan yang tak pernah benar-benar dipijak, namun senantiasa dirindukan seperti seseorang merindukan bahasa pertamanya, bahasa sebelum kata, sebelum nama, sebelum ada yang memutuskan bahwa sesuatu harus disebut ada.
Barangkali tersesat bukan suatu kemalangan. Barangkali ia adalah satu-satunya cara semesta mengizinkanmu melihat konstelasi yang tak akan pernah kau temukan bila kau tiba tepat waktu.
— Hari Ini Aku Mengakui —
Hari ini aku mengakui:
ada banyak hal yang belum mampu aku usahakan. Ada mimpi-mimpi yang mungkin akan tetap tinggal sebagai mimpi. Hari ini realita datang menamparku pelan-pelan, meninggalkan lebam yang mungkin hanya bisa aku rasakan sendiri.
Aku pernah percaya bahwa masa lalu menghadirkan makna, masa depan menjanjikan kebahagiaan, dan masa kini adalah tempat manusia menaruh daya juangnya. Namun semakin waktu berjalan, aku justru merasa kalah oleh semuanya.
Kalah oleh kenangan yang terus tinggal. Kalah oleh harapan yang tak kunjung sampai. Kalah oleh diriku sendiri yang tak pernah benar-benar selesai.
Maka hari ini aku tidak lagi ingin menjanjikan apa-apa kepada hidup. Aku hanya ingin berjalan—semampuku, sebisaku. Tanpa janji-janji besar. Tanpa keyakinan bahwa semua rasa takut pasti akan menemukan jawaban.
Hari ini aku mengakui bahwa aku hanyalah manusia biasa: seseorang dengan segala keterbatasannya, berdiri di tengah medan yang bahkan tidak selalu ia pahami. Aku bisa lelah kapan saja. Bisa kehilangan arah. Bisa runtuh tanpa sempat menjelaskan apa-apa.
Dan untuk pertama kalinya, mungkin aku mulai menerima itu.
Aku tidak lagi ingin menjadi seseorang yang selalu tampak kuat. Tidak lagi ingin memaksa diriku untuk terus terlihat mampu menghadapi segala hal. Sebab semakin aku memaksa, semakin aku sadar bahwa ada banyak hal di dunia ini yang memang berada di luar jangkauan tanganku.
Mungkin makna hari ini tidak akan sepenting itu di masa depan. Mungkin luka yang terasa besar sekarang kelak hanya menjadi debu kecil dalam ingatan. Atau mungkin justru semuanya akan hilang begitu saja tanpa sempat dimengerti.
Entahlah.
Maka aku berpasrah kepada waktu yang terus berjalan, kepada tanah yang masih memikul langkahku, dan kepada takdir yang suatu hari mungkin akan menjatuhkanku tanpa aba-aba.
Dan aku mulai sadar: tidak semua hal harus dimenangkan.
Hari ini aku mengizinkan diriku untuk kalah. Bukan karena hidup telah selesai, melainkan karena aku akhirnya memahami bahwa aku tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Aku tidak harus menjadi cahaya besar bagi dunia. Aku tidak harus selalu berarti di mata semua orang. Mungkin aku akan tersesat. Mungkin aku akan jatuh berkali-kali. Mungkin aku akan tiba di tempat-tempat asing yang bahkan belum pernah aku bayangkan.
Tapi biarlah.
Hari ini aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri: bahwa aku bukan siapa-siapa. Dan mungkin, tidak apa-apa. Karena pada akhirnya, aku hanyalah manusia biasa.
Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat
Pada mulanya adalah ketiadaan, sebelum kita sepakat menamai spasi ini sebagai "pisah". Namun dengarlah satu aksioma yang tak tertulis di buku fisika: bahwa di semesta perasaan, tak ada energi yang benar-benar musnah.
Jarak, kasihku, hanyalah satuan ukur yang gagal. Ia tidak mampu menghitung berapa kali dadamu sesak saat notifikasi di layar menyala pada pukul tiga pagi. Ia tidak bisa mengalkulasi percepatan rindu yang bergerak lebih cepat dari cahaya, menembus benua, samudra, dan dinding kamar yang dingin.
Ingatlah hukum pertama termodinamika cinta: Kedekatan tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, ia hanya berubah bentuk.
Dulu, saat lengan kita saling bersentuhan di kedai kopi itu, kedekatan kita berwujud materi. Padat. Teraba. Aroma parfummu adalah konstanta yang hirup, dan tawa kecilmu adalah gravitasi yang menahanku tetap di bumi.
Sekarang, saat ribuan kilometer membentang, kedekatan itu tidak hilang. Ia menyublim. Ia berubah fasa menjadi gelombang sinyal, menjadi doa-doa yang dipanjatkan di sepertiga malam, menjadi ingatan yang memutar ulang adegan di kepala seperti piringan hitam yang menolak retak.
Kita sering tertipu oleh mata yang manja akan visual. Mengira bahwa "jauh" berarti "kurang". Padahal lihatlah mereka yang duduk di satu meja makan, berhadapan namun sibuk dengan layar masing-masing. Bukankah itu jarak yang paling purba? Mereka dekat secara geografis, namun terlempar jauh secara batin. Jarak nol meter, namun hampa udara.
Sementara kita? Kita merawat "dekat" dalam definisi yang lebih agung. Kita memangkas ego, bukan memangkas kilometer. Kita belajar percaya pada frekuensi yang tak terlihat.
Maka, jangan lagi mengutuk peta. Peta hanyalah ilusi kartografi. Sebab dalam Hukum Kekekalan Jarak dan Dekat, semakin jauh raga ditarik merenggang, semakin padat jiwa memampatkan ingatan.
Kita tidak pernah benar-benar menjauh. Kita hanya sedang belajar mencintai dalam dimensi yang lebih luas dari sekadar sentuhan kulit. Segala yang ada di antara kita tetap abadi, hanya wadahnya yang berganti.
Simpanlah cemasmu. Kita aman dalam kekekalan ini.
Nasehat:
"Jangan simpan seseorang dalam sebuah lagu"
Sebab itu adalah penjara masa lalu yang tak pernah berkarat.
Ia bukan sekadar nada, ia adalah waktu yang membeku, siap mencair kapan saja, membanjiri dada dengan rasa yang sudah lama kau kubur.
Di dalamnya kau ukir senyumnya, bisik “sayang” yang dulu selalu kau dengar dan kau kira abadi, juga detak jantung yang kini hanya gema kosong.
Suatu hari nanti, lagu itu akan datang tanpa diundang. Nada pertama saja sudah menusuk tulang rusukmu, mengoyak luka yang kau kira sudah mengering sembuh.
Tiba-tiba kau akan mendengar tawanya di antara irama yang mengalun, merasakan harum napasnya disetiap lirik yg berdendang, dan mengingat janji manis yang kini terasa seperti pecahan kaca di tenggorokan.
Lirik yang dulu milik kalian, kini menyanyi sendiri di dada. Setiap ketukan, adalah panggilan nama yang tak lagi menjawab.
Jadi:
Jadi kalau kamu lagi jatuh cinta sekarang, nikmati saja. Jangan biarkan sebuah lagu selalu kalian putar setiap kali bersama.
Simpan lagu itu untuk dirimu sendiri. Agar suatu hari nanti, kalau dia sudah tidak ada, kamu masih bisa mendengarkannya tanpa harus kehilangan bagian dari dirimu lagi.