Media sosial sekarang semakin ganas, ya. Orang beropini sedikit, tetapi opininya ga cukup populer di kalangannya, langsung dihujat abis-abisan. Artis ga beropini apa-apa dibilang gaada kepedulian. Influencer berbicara tentang usahanya meraih mimpi, langsung diceletuk "lo mah enak orang kaya!".
Kok serba salah banget sih, atau lebih tepatnya, kok menyalahkan terus, sih?
Ketika orang memberi opini yang berbeda dari opini sebelumnya, langsung dihujat munafik. Ketika orang memberi tips untuk sukses, langsung disanggah "ga semua orang hidupnya (enak) kayak lo!".
Padahal poin penting dalam menjadi manusia adalah belajar. Belajar dari kesalahan. Belajar dari masa lalu. Belajar dari orang lain. Belajar biar jadi lebih baik. Kita ga suka, kan, kalau dinilai dari masa lalu?
Juga, aku pernah belajar sedikit, dalam membangun usaha, segmenting menjadi sorotan awal. Siapa yang kita jadikan sasaran untuk beli produk? Kurang lebih bisa juga itu diterapkan dalam membagikan tips. Nggak mungkin Maudy ngasih tips "cara diterima di dua universitas ternama!" dengan sasaran anak-anak yang bersekolah di pelosok. Jangankan luar negri, ke Jakarta buat mereka mungkin rasanya udah kayak pergi haji.
Di dunia yang semakin banyak suara ini, apa kita pernah benar-benar memahami, untuk siapa sebenarnya suara itu dituju? Jangan sampai banyak energi terbuang karena mengurusi hal-hal yang jawabannya sederhana—atau lebih parah, meladeni suara yang ga ditujukan untuk kita.
Di dunia yang semakin banyak suara, semoga kita nggak lupa untuk menjaga hati dan pikiran dari suara-suara keruh.
Di dunia yang semakin banyak suara, aku harap aku bisa lebih mendengarkan. Bukan sekadar berbicara tanpa etika.