#LapakFiksi
Masih belum ada judul
#part 1
Bagaimana rasanya merelakan sebuah 'cinta pertama'? Cinta pertama yang telah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Cinta pertama yang menjadi tujuan dan acuan saat hidup tak memberikan jawaban akan keberadaannya. Cinta pertama yang mampu memberikan semangat maha membara disaat rasa putus asa selalu menjadi bayang atas perasaannya. Cinta pertama yang tidak cukup untuk dijelaskan lewat kata-kata.
Disepanjang perjalanannya seorang pemuda tengah berfikir mendalam, berusaha tetap menjaga perasaannya yang begitu tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Rangkaian kata untuk sekedar menghibur laranya. Ia seorang lelaki yang seharusnya tidak mudah begitu saja menggambarkan gejolak hatinya lewat air mata. Ia seorang laki-laki yang tidak mudah runtuh oleh ujian apapun selama hidupnya. Tapi tetap saja, ia hanyalah seorang manusia biasa. Manusia biasa yang memiliki perasaan sebagaimana manusia lainnya. Ia hanya manusia biasa yang sudah membendung air matanya sejak ia tiba di peron keberangkatan menuju tempat pelariannya.
Ia masih membungkus wajahnya dengan mantel yang ia kenakan, berusaha sebisa mungkin menyamarkan wajah dan suaranya. Air mata yang sedari tadi dibendungnya tumpah begitu saja, membasahi mantel Ivorynya. Ia menyadari bisingnya kereta yang cukup meredam suara cukup melegakan egonya.
"Apa yang harus aku lakukan?", gumamnya pelan kepada dirinya sendiri. "Ini lebih menyakitkan dari yang aku kira". Tambahnya mulai merasa sesak di dadanya.
Beberapa flashback sepanjang hidupnya seolah memberi nostalgia pedih pada rerangkai jalan cerita dirinya selama ini. Membuatnya semakin sesenggukan dalam diam dan kesunyian kereta. Semoga saja ia masih belum tumbang sampai ia mencapai tempat 'tujuan' pelariannya.
-From Dawn to Twilight














