Menjadi bagian (kecil) dari suatu komunitas #1
Bercerita tentang menjadi volunteer di suatu komunitas itu menyenangkan. Apalagi jika komunitasnya punya hal positif yang dilakukan.
Mungkin bagi beberapa orang, mengikuti organisasi, himpunan, komunitas, ikatan pelajar dan lain sebagainya adalah hal yang kurang menarik. Saya pun dulu pernah berpikiran demikian karena suatu alasan. Tapi saya tidak bisa diam, dalam artian saya ingin ikut ini itu-sana sini. Lagi-lagi karena yang seperti itu biasanya butuh mobilitas dan loyalitas tinggi, saya mengurungkan niat.
Akhirnya saya mulai memilah-milah mana yang bisa saya ikuti dan tidak. Ketika menjadi mahasiswa baru beberapa senior sempat menanyakan kenapa ga ikut himpunan. Padahal itu bisa menjadi peluang besar. Sampai sekarang pun kadang masih suka penasaran kenapa saya begitu dikenal (?) hahaha. Biarin ke-pd-an wkkwk . Saya tidak mendaftar karena harus dirawat di rumah sakit. Hasil rekrutmen pun diumumkan. Tidak ada rasa sesal pun melintas haha. Maaf ya, mbak mas :). Tapi akhirnya selama satu periode itu, saya menjadi fungsionaris himpunan jurusan (HMJ). Itu artinya, saya tidak harus selalu stay di kampus dan tugasnya tidak seberat pengurus HMJ. Saya cukup senang.
Di tahun kedua kuliah, saya tidak mendaftar penurus HMJ. Tidak ada keinginan yang cukup kuat di sana. Ketika BEM Fakultas membuka rekrutmen, akhirnya saya mendaftar. Alhamdulillahnya, saya lolos. Namun, selama satu kepengurusan itu, rasa-rasanya saya ga pernah ngapa-ngapain. Bukan ga ngapa-ngapain, tapi ga banyak ikut ambil bagian di suatu program. Saya terlalu takut untuk bersosialisasi dengan teman-teman lainnya pasca trauma sakit. Iya, waktu itu saya sakit. Jadilah, saya merasa cuman numpang nama doang, kenal kawan-kawan BEM cuma itu-itu aja.
Puncaknya, saat kegiatan penutupan ospek fakultas. Kami menggelar acara besar dari jalan sehat-bazar-konser sebuah band. Saya memutuskan untuk tidak mengikuti acara tersebut sampai penuh. Ternyata saya pusing melihat banyak orang berkumpul, dan waktu itu memang perut saya lagi bermasalah. Saya mulai berspekulasi, berimajinasi sendiri. Menjelang konser, saya pulang. Sebelumnya, saya tidak pernah menonton konser. Mungkin itu musabab saya pusing ngelihat lautan manusia. Ditambah saya tidak menemukan teman yang saya rasa sefrekuensi dengan saya. Ribet, ya? Tahu gitu, ga usah daftar BEM aja -_-
Selesai satu periode, saya tidak mendaftar lagi. Karena saya pikir saya tidak benar-benar merasakan feelnya berorganisasi. Berjelajah Tumblr, akhirnya saya mendaftar mengikuti suatu komunitas, Lendabook. Mulanya saya ragu karena pastinya bertemu teman yang berbeda kampus, jauh dan belum tentu sefrekuensi. Masih saja ada rasa takut tidak bisa berkontribusi apalagi kalo bertemu offline. Mengingat mobility yang rendah. Akhirnya terpilih menjadi bagian kecil bersama Willie. Willie adalah ikon Lendabook yang menemani kami berpetualang menjelajah buku. Tapi ternyata, saya tidak bisa menghidupkan komunitas ini sepenuhnya. Hanya di awal saja. Lambat laun, saya merasa gagal menjadi ambassadornya. Yang masih melekat sampai sekarang adalah semangat berbagi kebermanfaatan buku itu sendiri. Dari situlah (mungkin), saya kemudian dekat dengan mbak Ety, mbak Ainur, mbak Rani, mbak Meida, mbak Wahyu di kampus dan lain-lain. Lalu ada mbak Eci, mas Ken, teteh Astri, mbak Atik, mbak Julia, mas Yunus, mas Fandi, mas Iqbal, mas Didit, dsb. Lendabook adalah komunitas pertama yang saya ikuti. Dan rasanya saya ketagihan membaca. meski di tahun ini agak menurun tingkat bacanya.
Di tahun 2015, saya kemudian diajak adik tingkat dari jurusan Matematika untuk mendaftar suatu komunitas, namanya Sahabat Beasiswa. Setelah tanya-tanya ke doi, daftarlah saya. Karena komunitas ini basecamp nya adalah di grup whatsapp untuk pengurus pusat, yang saya pikir, saya tidak harus pergi ke suatu tempat untuk sekedar rapat. Sedangkan untuk kotanya (chapternya), selain grup whatsapp ada kegiatan rapat offline, kopdar dsb. Dan memang saat itu di Surabaya belum resmi. Sebelum mendaftar saya sempat tanya ke teh Astri mengenai ikut komunitas lain. Iya, saya ga enakan, sungkan karena awalnya mengikuti Lendabook lalu mengikuti Sahabat Beasiswa. Izin pun didapat.
Oh, di kedua komunitas ini saya mendaftar sebagai Admin Social Media/Social Media Expert. Tugas mudah menurut saya waktu itu. Tapi, tidak demikian kenyataannya.
Setelah dinyatakan lolos, saya akhirnya bertemu dengan teman-teman lain daerah hanya lewat grup whatsapp. Meski demikian ini lebih menantang karena bidangnya adalah perkuliahan dan seputar beasiswa. Sampai sekarang pun, saat menulis ini, saya belum tahu kenapa saya bisa selama ini menjadi bagian (kecil) dari Sahabat Beasiswa.
Kemarin (17-20 Agustus) saya akhirnya bertemu dengan beberapa teman pengurus pusat dan chapter baru di Solo. Orang-orang lama sewaktu saya pertama masuk, tidak datang kemarin. Di kepengurusan baru, saya berada di bagian sub divisi Konten. Ternyata, saya cukup suka. Haha. Tapi, ketika ditanya urusan ingin kuliah kemana atau akademik lainnya, sepertinya saya kurang pede menjawab. Mungkin saja saya salah jurusan. Atau saya kurang kompeten di Fisika. Atau cara saya menyukai bidang ini yang berbeda (?). Wkwk. Entahlah. Yang penting saya harus bersyukur bisa berkuliah :). Ahh, di Sahabat Beasiswa saya bertemu banyak orang termasuk kemarin di Solo berkesempatan wawancarain (beberapa) mbak2, mas2 PPI Dunia; Felari PPI Dunia 2016-2017. Glad to see you!
Saya jadi semakin berpikiran bahwa mungkin kegiatan luar kampus yang kita jalani, yang membuat kita senang di dalamnya atau betah adalah kegiatan yang memang sesuai niat, tujuan kita, tidak ada keterpaksaan, memberikan impact yang bagus terhadap kitanya, juga orang lain melalui perkumpulan/perhimpunan tersebut. Yang utama, nawaitunya.








