Luar Kendali
"Dampak tindakan kebetulan di luar kendali Anda bisa lebih besar daripada tindakan yang Anda sengaja lakukan."
Sudah lama sekali tidak menulis. Terbiasa melakukan visualisasi kreatif membuat sebagian saraf di otak haus, dan menuntuk pemenuhan gizi lagi.
Tak lama, membaca buku The Psychology of Money, sebuah buku yang awal nya berekspektasi pada cara-cara untuk lebih bijak dan dapat 'mengakali' manajerial keuangan. Tapi ketika membacara beberapa halaman awal, rasa nya sudah banyak berkaitan dengan sisi sosial yang lain selain keuangan.
Di awal--dan sekarang masih belum selesai membacanya--Morgan Housel menerangkan tentang tidak apa-apanya mengikuti cara-cara biasa, terutama tentang cara mengelola harta. Dan juga ia menyarankan untuk menyadari porsi dari tiap berhasil tidak nya diri kita.
Keberhasilan dan kegagalan adalah hasil, dan pada prosesnya ada porsi-porsi tersendiri yang membangun--hasil--nya. Housel mengingatkan bahwa ada porsi keberuntungan--pada sisi positif--dan kesialan--pada sisi negatif--dari tiap-tiap hasil. Ia menjelaskan seperti kalimat yang saya kutip, bahwa "Dampak tindakan kebetulan di luar kendali Anda bisa lebih besar daripada tindakan yang Anda sengaja lakukan."
Ia juga menjelaskan bahwa kerja keras dan keputusan kita--entah kecerdikan atau kebijaksanaan pada suatu keputusan--adalah hanya satu dari sekian miliar keputusan manusia lain di muka bumi ini. Dan karena daripada itu, suatu keberhasilan atau kesialan ditopan oleh apa-apa yang ada di luar kendali kita.
Seperti hal nya kemerdekaan Indonesia yang ditopang kekalahan Jepang pada perang dunia kedua. Ada porsi luar kendali kita atas hasil yang kita dapat. Ini selaras dengan prinsip iman kepada takdir bagi seorang muslim dan juga prinsip tentang kendali di luar diri bagi seroang stoik. Dan tiap hasil memiliki porsi berbeda-beda pada luar kendali kita.
Kemudian Housel menjelaskan bahwa meniru atau mempelajari kebaikan atau keburukan ekstrem tidaklah efektif untuk ditiru. Karna masing-masing memiliki porsi kendali luar dan dalam yang berbeda, dan karena nya kendali luar tidak dapat ditiru. Sudahlah kita tidak dapat menghitung berapa porsi kendali luar dan dalam, juga kita tidak dapat meniru kendali luar karna hal ini terkait keputusan miliaran orang.
Seperti hal nya jika kita membaca tentang Mark Zuckerberg yang memilih mengakhiri kuliahnya, dan berhasil membuat sebuah big company. Kisah ini tidak bisa semerta-merta diikuti oleh kita, karna titik keberhasilan nya hanya terjadi jika dan hanya jika segala yang terlibat ada pada waktu, kondisi, dan keadaan yang tepat. Bagi logika, tidak akan ada cerita keberhasilan Meta jika seorang officeboy mereka tidak masuk pada saat seorang investor datang menemui Mark, ada berbagai ratusan hingga miliaran kemungkinan.
Saya jadi teringat pada scene di film Benjamin Button. Scene tersebut mengisahkan penyebab satu karakter mengalami kecelakaan, di mana dijelaskan bahwa kecelakaan tersebut hanya dapat terjadi jika dan hanya jika semua hal yang terlibat tepat pada posisi, waktu, dan tindakan masing-masing. Sebuah takdir.
Dari Housel saya juga teringat tentang tema-tema yang beberapa tahun terakhir cukup sering diperbincangkan di Twitter/X, yaitu kemiskinan struktural. Dengan adanya fakta bahwa setiap keadaan memiliki porsi nya masing-masing untuk dikendalikan, maka tidaklah relevan jika kita berpikir bahwa kemiskinan suatu masayarakat karena kemalasan. Ada porsi luar kendali di situ. Itulah mengapa jika suatu kasus, dan kasus tersebut terbilang mayoritas, maka tidak dapat diselesaikan hanya dengan menyelesaikan kasus tersebut, tapi itu dikarenakan suatu sistem yang mengakibatkan kasus tersebut menjadi mayoritas.
Saya teringat pula seroang teman yang berkata bahwa sebagaian besar kasus perceraian rumah tangga dikarenakan ekonomi, dan berkesimpulan bahwa yang harus dilakukan sebelum menikah adalah membesarkan nilai ekonomi. Dalam benak saya, jika mayoritas perceraian karna ekonomi, dan lebih spesifik lagi dikarenakan kekurangan ekonomi, mengapa tidak kita pertanyakan tentang sistem ekonomi kita yang tidak ramah untuk mayoritas orang menikah ?
Belum lagi soal ketimpangan ekonomi, sosial, hukum, dan lain-lain. Ada banyak di pikiran saya yang 'disenggol' oleh Housel tentang porsi luar kendali yang ia jabarkan.
dan jangan-jangan "dampak regulasi ekonomi negara pada ekonomi rumah tangga kita lebih besar daripada kerja pagi-malam yang kita lakukan ?!".








