Suatu hari nanti, aku ingin memiliki pasangan yang suka menulis, karena kelak saat kau tiada, ada sesuatu yang kau tinggalkan, yang akan membuatmu selalu dikenang, dan semoga apa yang kau tinggalkan itu selalu menjadi alasan bagimu untuk memperoleh aliran pahala.
Aku ingin kau adalah orang yang pandai menulis, karena aku tak pandai menulis, maka kuharap kau yang bisa menutupi kekuranganku itu. Aku ingin kau menuliskan kisah kita berdua, menurut sudut pandangmu, dengan permainan kata-katamu, hingga aku bisa memahami apa-apa yang tak pernah kau sampaikan secara lisan, agar aku mengerti bagaimana perasaanmu sesungguhnya yang disampaikan melalui rangkaian kata-kata, karena menulis kan selalu lebih mudah dibanding mengatakannya secara langsung, karena menulis berarti mencurahkan apa-apa yang mengusik pikiranmu sehingga ia perlu di tuangkan agar tak ada lagi yang mengganjal di pikiran (itu sih menurutku saja, haha, entahlah menurutmu seperti apa, because i always write to express not to impress).
Aku ingin kau selalu menulis, menulis apa saja, agar nanti saat aku rindu padamu, dan kau tak ada bersamaku, aku bisa membaca tulisanmu, hingga aku merasakan kau benar-benar ada di sampingku menceritakan sesuatu yang kau tuliskan dalam buku khusus mu, Dan dengan membaca tulisanmu aku harap aku bisa jatuh cinta padamu lagi untuk kesekian kalinya, lagi dan lagi.
Aku harap kau suka menulis, karena aku selalu suka dengan notes-notes yang bagus yang dijual di toko buku, dan selalu ingin membelinya, namun selalu saja aku tak bisa menghabiskannya karena aku jarang sekali menulis. Ah, sepertinya sudah gak jaman ya menulis di buku, karena kan sudah ada smartphone dan sejenisnya yang bisa kau gunakan untuk menuliskan setiap ide yang muncul di kepalamu. Tapi aku tetap suka dengan notes yang lucu-lucu itu, dan aku ingin menghadiahkannya untukmu suatu saat nanti.
Duh, mungkin aku egois, mengharapkan kamu yang bisa menutupi apa yang tidak bisa kulakukan dengan sempurna. Padahal kan kata om Aditya Mulya dalam bukunya Sabtu Bersama Bapak berpesan bahwa “sebaiknya kita cari pasangan yang sama-sama solid bukan yang saling melengkapi kelemahan, Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain atau dengan kata lain find someone complementary not supplementary” katanya sih begitu, dan menurutku ada benarnya juga sih ya. Eh, kayaknya agak gak nyambung ya, hehe :p
Dan… jika memang nanti kau yang dipertemukan denganku tidak seperti yang kusebutkan di atas, tak mengapa, itu bukan syarat mutlak yang harus ada pada dirimu, picik sekali kalau aku mewajibkan itu ada dalam dirimu. Bukankah sebaiknya nanti aku mencintaimu karena pemikiranmu, bukan tulisanmu, dan apa yang kau pikirkan memang tidak selalu harus kau tuliskan, asal kau sampaikan secara langsung itu sudah cukup bagiku.
Aku “ingin” bukan berarti aku “butuh” kan? ;);)
| Yogyakarta, 290415
new (n_n)