College Coaster: TPB
Akhirnya hari bahagiaku datang juga. Gak ada kaderisasi unit, gak ada deadline tugas, gak ada kelas pagi yang dosennya on-time banget besok pagi. Bahagianya hidup. Hehe. Dengan segala kegabutan (padahal masih harus belajar buat UTS 2 kalkulus sabtu nanti), aku mutusin buat bikin seri college coaster lagi di tumblr. Isinya tentang “Gimana Rasanya Kuliah di ITB?”.
Memang waktu awal masuk kuliah, aku berniat buat bikin seri college coaster dan konsisten buat nulis setiap akhir tahun. Setelah college coaster pertama yang nyeritain tentang pengalaman 2 minggu kuliah disini, di seri kedua ini aku bakal ceritain suka duka seorang mahasiswa tahun pertama yang katanya masih emesh dan menuhin parkiran karena pada ambis masuk pagi.
Di ITB Ada Apa Aja Sih?
Kalau ditanya “Kak, hal-hal unik dan seru dari kuliah di ITB apa aja sih? Selain belajar tentunya. Hehe.”, aku masih belum bisa jawab dengan sempurna, karena masih tingkat satu, dan pasti masih banyak keseruan kuliah yang belum aku rasakan.
Tapi, kalau dipaksa jawab, aku bisa jabarkan beberapa hal;
Bunga Bougenvillea
Sekitar bulan Juni, kampus akan dihiasi bunga-bunga ungu yang memenuhi gerbang depan kampus dengan lebatnya. Ada yang bilang kalau bunga ini adalah bunga yang menyambut mahasiswa baru dan semester baru. Hari ini bunga-bunga baru itu bermekaran lagi, mau menyambut dede-dede baru.
Yey, jadi kating!
Kuliah di ITB itu: Jadi Sehat!
Pintar tapi fisiknya lemah itu percuma, kawan. Selain ada mata kuliah olahraga yang wajib diambil anak TPB, disini ada budaya jalan kaki. Iya, kemana-mana jalan diatas kaki sendiri.
Memang sih ITB kampus Ganesha gak seluas universitas lain yang didalam kampusnya boleh bawa kendaraan, bahkan disediakan bus atau kendaraan umum sendiri (kalau kampus Jatinangor lumayan luas kok. Luas banget malah).
Iya, ITB (kampus ganesha) itu terlalu sempit kalau kita pakai kendaraan didalem kampus, tapi terlalu luas kalau harus jalan kaki.
Ranjau di Bulan Oktober
Oh ya, setiap musim hujan (harusnya sekitar bulan Oktober - Desember tapi bulan April aja masih sering hujan) ada kejutan istimewa yang akan menyapamu setiap masuk kampus. Terutama untuk kalian yang terlambat bangun padahal ada kelas pagi dan memilih masuk kampus lewat gerbang utama. “Hadiah” itu niscaya akan membuat harimu semakin bahagia, yakin deh.
Kalau kalian berlari atau berjalan cepat di daerah sebelum tangga depan information center, ada ratusan paving block nakal dan bergelombang yang didalamnya ada air bekas hujan tidak bisa dideteksi oleh kasat mata (apalagi kalau buru-buru). Kalau salah menginjak, ranjau-ranjau itu akan sukses membuat sepatu, kaos kaki, dan celanamu punya motif baru. Kalau sedang beruntung, kalian akan dapat motif abstrak dan bernilai seni tinggi (apaan dah wkwk). Tapi walaupun kalian sudah berusaha mati-matian menghindari ranjau, pastikan tidak ada orang yang sedang buru-buru didekatmu, karena kemungkinan besar kamu bakal kecipratan ranjau yang mereka injak juga.
Jadi, aku sarankan kalau kalian buru-buru masuk kampus, masuklah dari gerbang timur atau barat. Selain lebih dekat dengan gedung kuliah umum anak TPB, kalian juga akan selamat dari hadiah paving block itu.
Aku heran, kenapa sampai sekarang paving block nya belum diperbaiki, ya? Selama ini aku berusaha berpikir positif, mungkin kampus ingin mencetak lulusan yang fokus dan hati-hati, makanya paving block nya ‘sengaja’ di design seperti itu. Hehe.
GRATISAN!
Sebagai mahasiswa yang rumahnya di kabupaten, aku selalu nyubuh berangkat dari rumah. Sarapan? Kalau sempat saja (tapi seringnya sih ibu selesai masak tepat saat aku pergi, hiks). Untuk mengganjal perut lapar saat harus kelas pagi, biasanya aku mengandalkan anak-anak yang danusan. Ya, enaknya jadi anak TPB itu danusan menjamur dimana-mana. Bahkan sepertinya TPB adalah segmen pasar terbesar buat kating-kating juga. Karena anak TPB pasti beli apapun. Bahkan stiker atau stater kit yang sebenarnya nirfaedah lainnya.
Kadang, kalau lagi beruntung, saat kalian jalan di koridor depan KKP, bakal ada mas-mas berhati malaikat yang membagi-bagikan nasi kotak yang tulisannya “glory morning”. Isinya biasanya nasi kuning, nasi uduk atau bubur kacang. Sarapan KKP itu sepertinya sengaja dibagikan oleh koperasi kampus untuk mahasiswa-mahasiswa kelaparan seperti aku. Wkwk.
Kalau males dateng pagi tapi belum sempet sarapan? Tenang. Kamu bisa jalan ke GKU Timur. Disana biasanya suka ada mbak-mbak yang suka bagi-bagi nasi gratis. Nama nasi nya Nasi Berkah. Tapi inget-inget jadwal pembagian perhari nya. Soalnya telat setengah jam aja, nasi berkah nya udah habis dan antrian udah sampe gerbang depan (lebay wkwk).
Banyak hal gratisan lainnya, kayak seminar, event himpunan, event unit, dan lainnya. Di kampus ini juga banyak banget peluang beasiswa asal mau nyari. Pokoknya, manfaatkanlah gratisan sebelum sirna.
Kaderisasi yang panjang dan kontinu
mungkin setiap kampus kayak gini juga. tapi gak bisa di pungkiri kalau kaderisasi unit, kaderisasi terpusat, kaderisasi wilayah, osjur, dan lainnya seakan gak pernah berhenti berputar.
selesai integrasi, ada kadwil, setelahnya, ada ospek jurusan (aku belum merasakannya sih), habis osjur jadi panitia pengkader juga. gitu seterusnya.
sebenarnya tujuan kaderisasi itu baik, menurunkan nilai-nilai ke adik tingkat, dan gak semua kaderisasi itu konotasinya buruk kok. menurutku kaderisasi di ITB semuanya berfaedah dan beresensi.
Gak jarang ada anak yang keluar unit ditengah kader karena lelah nunggu di lantik, bahkan sampai saat ini aku masih ikut kader unit padahal unit-unit lain udah selesai kadernya. hiks.
tapi kalau di nikmati semuanya seru kok. iya, seru.
Sebenarnya masih banyak lagi hal-hal yang ada di ITB, tapi aku pegel nulisnya. Hehe.
TPB : Tahap Paling Bahagia
Kata orang, TPB itu tahap paling bahagia nya anak ITB. Seenggaknya itu testimoni setiap kating (read: kakak tingkat) yang aku tanya. Sebagian besar dari mereka pasti bilang, “udah, nikmatin aja. Kalau di jurusan lebih susah lagi loh”, atau “udah, sans lah. Di jurusan dosennya lebih aneh lagi kok”. Banyak dari mereka yang bilang, “jadi pengen balik ke TPB lagi deh”. Kalau mereka udah ngomong gitu, aku cuma bisa nyengir sambil melipir. Iya, masih TPB mah apa atuh. Kerjaannya ngeluh mulu, jalan gerombolan, menuhin parkiran. Maaf ya, kak. Hehe.
Oh ya, bagi yang bertanya-tanya, “TPB itu apa sih? Sejenis ujian masuk ITB gitu? Tes nya susah gak sih?”. Kalian salah saudara-saudara. Bagi yang belum tahu, di tahun pertama masuk ITB, kita belum masuk ke jurusan yang kita inginkan. Selama satu tahun (dua semester) kita harus ikut tahap persiapan bersama (TPB) yang lebih sering dibilang Tahap Paling Bahagia.
Banyak orang bilang TPB itu kayak SMA kelas 4. Memang sih, kita mengulang semua pelajaran dasar yang ada di SMA selama satu tahun. Tapi walaupun yang dipelajari sama kayak waktu SMA, materi-materi nya lebih mendalam lagi dan silabusnya lebih banyak dan cepet banget. Kalau waktu SMA butuh 1 bulan buat namatin satu bab fisika, disini cuma butuh satu atau dua pertemuan dan di minggu berikutnya udah beda bahasan lagi.
Ada masanya lelah dan bertanya-tanya, “Sebenarnya di SMA gue belajar apa aja sih? Kok kayaknya materi gini aja gak bisa?” Hiks.
Perbedaan SMA dan TPB yang lainnya, disini kita gak perlu pake seragam kayak di SMA lagi (ya iya lah). Selain itu, kalau kalian terbiasa dapat nilai besar dan galau kalau dapat nilai 75, disini kalian bakal bahagia kalau dapat nilai kkm. Iya, disini 75 udah dapet A. Percayalah.
Di tahun pertama ini, kita belajar pelajaran-pelajaran dasar, kayak fisika dasar, kimia dasar, kalkulus, olahraga, bahasa inggris, bahasa indonesia, programming, dan mata kuliah khusus fakultas.
Seperti yang aku tulis diatas, etiap fakultas punya mata kuliah khusus. Kayak STEI dengan PAR dan DASPRO nya, SITH dengan biologi nya, SF dengan pengantar farmasi nya, FTMD-FTI-FTSL dengan gambar teknik nya, dan masih banyak lagi matkul khusus lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan fakultas masing-masing.
Intinya, TPB adalah tahap matrikulasi dan pembekalan bersama biar gak kesusahan di jurusan nanti. TPB juga adalah waktu untuk mikir matang-matang lagi, mau jurusan apa nantinya. Baru di tahun kedua kita dijuruskan ke jurusan yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan kita berdasarkan IPK selama TPB. Iya, simple nya sih gitu.
Praktikum
Selain pelajaran di kelas, beberapa mata kuliah ada praktikumnya. Bobot praktikum biasanya cukup membantu nilai. Tujuan praktikum sebenarnya untuk mengaplikasikan apa yang udah di dapat di kelas, dan diharapkan bisa lebih ngerti setelah ikut praktikum.
Bolos praktikum? Sangat tidak disarankan sih. Soalnya praktikum itu penting banget buat kelulusan mata kuliah. Kalau kamu gak lulus praktikum padahal nilai fisika atau kimia waktu ujian A, tetep aja gak lulus matkulnya dan harus ngulang tahun depan. gak mau kan?
Semua anak TPB pasti ngerasain Praktikum Fisika yang tidak boleh telat satu detik pun karena absennya langsung pake barcode, ngerjain Tugas Pendahuluan sebelum praktikum, dan nulis laporan praktikum selama satu jam sampe tangan keriting tiap dua minggu sekali. Tapi kalau lagi beruntung, kalian dapet asisten praktikum (asprak) yang baik banget dan ngebantuin buat ngerjain laporan. Kalau beruntung juga kalian bakal dapet asprak cantik dan ganteng yang bikin hari praktikum kalian lebih berwarna (hehehe). Btw, karena kelompok praktikum fikidas ku mayoritas cewe, jadi kalau dapet asprak yang ganteng dikit aja hebohnya bukan main. Maafkan kami khilaf, kak. Wkwk.
Praktikum kimia juga hampir sejenis sama praktikum fisika. Tapi lebih santai dan gak pake barcode buat absen. Ada tes akhir di setiap praktikumnya. Beda sama fisika, laporan praktikum kimia dikerjakan di rumah, biasanya dikumpulkan 2 minggu setelah praktikum, tapi tetep aja dikerjainnya H-2 atau H-1 praktikum. Deadliner emang.
Tapi entah kenapa aku lebih takut buat praktikum kimia dari pada fisika. Soalnya kalau praktikum kimia banyak barang pecah belah yang berpotensi kesenggol dan pecah. Lucunya, kalau ada gelas kimia yang pecah, satu lab mendadak hening, kepo nyari praktikan yang mecahin dan bareng-bareng ngomong ‘yaaah’ kayak lagi nonton bola aja wkwk.
Selain praktikum kimia dan fisika, ada praktikum PTI. Disana kita ditantang untuk menjawab tantangan dari tuan vin untuk bikin program sederhana dengan bahasa c++. Ada asisten dan teman kiri kanan yang siap membantu kalian kalau kesusahan. Kadang kalau udah hectic dan waktu nya mau habis, disaat kakak-kakak asprak udah lelah ngejawab pertanyaan kita, akhirnya mereka nulisin algoritma nya sambil ngomelin praktikan. Untungnya asprak PTI ruanganku itu kakak nim ku sendiri. Jadi walaupun diomelin gara-gara gak ngerti, tetep aja dibantuin. Makasih banyak kak steven, 16715110! Wkwk.
Ada juga praktikum PRD, rekayasa desain yang ngenalin kita tentang pelajaran-pelajaran jurusan. Kita dikenalkan gimana caranya bikin instrument (alat) akustik, proses produksi, sampai bikin arang (pirolisis). Dari pelajaran dasar teknik fisika, teknik industri, sampai teknik kimia dipelajari di sini. Pernah ngerasain nyerut angklung sendiri, sampe mabok gara-gara nyium asap pirolisis di lab tekkim. Semuanya hanya di PRD. Yey.
Dan yang terakhir dan paling berkesan, praktikum gamtek (gambar teknik). Dari ngerasa bodoh waktu pertama kali praktikum dan disuruh sketching pakai solidworks, diteriakin save-close waktu mau selesai tes akhir, sampai tugas besar yang bikin anak FTI tinggal di perpus sampe malem dan di cap ambis sama satu kampus. Hiks.
Tapi praktikum-praktikum itu bikin hidup TPB beda kayak SMA. Percaya deh.
Siklus Mahasiswa Baru
Kalau kata kating, (dan aku merasakannya sendiri), ada siklus standar yang bakal dilewatin sama anak TPB.
Hari-hari pertama kuliah, masih punya motivasi tinggi, idealisme tinggi setelah ikut Integrasi, SMPE dan SSDK. Lagi ambis-ambisnya, kelas mulai jam 7, jam 6 ruangan udah kayak pasar aja, rame banget. Masih keliatan anak-anak yang pake jamal (walaupun udah diingetin kating gak usah pake). Jalan masih gerombolan kemana-mana, menuhin jalan. Perpus penuh sama anak TPB (khususnya FTI wkwk).
Setelah Ujian Fidas Pertama biasanya maba ngumpul di dinding ratapan, meratapi nasib dan nilai ujian pertama di ITB. Setelah itu mulai ada yang frustasi dan mogok kuliah gara-gara nilainya kecil (biasanya gak pernah dapet nilai di bawah 75 HAHA), ada yang makin ngambis karena ngejar di UTS 2, dan ada yang biasa-biasa aja, datar hidupnya, santai dan bahagia.
Semester 2 awal biasanya udah gak mau dipanggil maba. Udah ngerasain degdegan dapet IP. Udah sedikit realistis buat nentuin jurusan di tingkat 2. Muncul semangat buat naikin IP dan ngambis lagi. Jalan udah gak gerombolan, biasanya udah punya sekre baru selain perpustakaan pusat. Ikut unit dan jaket-jaket unit bertebaran di kelas. Biasanya disaat ini muncul arogansi angkatan karena ada TPB Cup dan baru dibagiin Jakang (jaket angkatan) yang beda-beda tiap fakultas.
Semester 2 akhir biasanya masuk kelas aja bisa diittung jari. selalu memperhitungkan jatah bolos. Sering tidur di kelas karena kecapean main game, streaming atau agenda unit malemnya. Udah ngerasa gede dan bukan maba lagi. Heboh dan bilang “gak kerasa ya udah mau beres TPB nya” padahal dulu nangis-nangis waktu ada tubes, jurnal, laprak dan ujian pada saat yang bersamaan. Wkwk.
Siklus ini gak selamanya terjadi, tapi kebanyakan sih gitu.
Survival Kit
Banyak dede-dede ambis di luar sana yang tanya “Kak, kuliah di ITB itu susah gak?” atau “kak, gimana sih cara survive di itb?” dan masih banyak lagi pertanyaan serupa. Aku sebagai mahasiswa tingkat satu ini memang belum punya pengalaman banyak soal bertahan di kampus ini. Tapi selama hampir setahun aku kuliah disini, aku bisa nyimpulin kalau kunci bertahan di ITB itu sebenernya sederhana, kok.
Yang Pertama: Bahagia
Menurutku, hal paling penting buat bertahan disini adalah bahagia. Kamu harus punya rasa bahagia waktu ngejalanin semua step yang ada. Karena kalau kamu gak betah disini, kamu bakal keteteran walaupun sebenarnya kamu itu pinter.
Pokoknya kalau kamu udah bahagia dan seneng ngejalanin semuanya, pasti rintangan TPB bakal kamu lewatin dengan mudah.
Jadi kamu harus bahagia, ya! Gimana mau bahagiain orang lain kalau kita sendiri gak bahagia, ya gak? *apasih*
Yang Kedua: Sosialisasi
Cari temen itu penting loh, guys! Temen-temen kalian bakal selalu nyemangatin dan ngebantu kalian waktu lagi ada di tahap lelah dan putus asa. Gak bisa dipungkiri lagi kalau manusia itu adalah makhluk sosial. Kita butuh teman buat bertahan disini.
Okelah, waktu sekolah dulu kamu termasuk anak paling pinter di sekolah, kamu bisa belajar sendirian dan kamu biasa dapet nilai besar dengan mudah.
Jujur, dari SD sampai kira-kira SMP atau awal SMA aku terbiasa ngerjain semuanya sendiri, dan aku sempat ngerasa kalau minta bantuan orang lain (apalagi orang yang lebih pintar dari aku) itu nunjukin kalau aku bodoh dan gak bisa apa-apa. Waktu mau nanya temen rasanya gengsi banget. Dulu aku sempet mikir selagi bisa searching, ngapain nanya orang. Tugas kelompok aku kerjain sendiri karena ngerasa kalau ngerjain bareng-bareng itu ribet dan kerjanya bakal lama. Iya, dulu aku individualis banget. Aku ngerasain itu.
Tapi waktu masuk kampus aku sadar kalau aku gak bisa bertahan disini kalau sifatku masih kayak gitu terus. Okelah (kalau seandainya) aku bisa ngejar materi dikelas dengan sangat mudah, okelah kalau seandainya aku kuat ngambis di perpus tiap hari dan mendedikasikan hidup buat belajar dan dapet IP 4. Tapi pasti aku bakal ngerasa kesepian dan bosan. Mungkin aja aku bisa frustasi saking kesepiannya.
Kenyataannya aku tidak se-dewa itu.
Aku butuh teman buat belajar bareng hal-hal yang aku gak ngerti. Aku butuh teman buat saling nyemangatin kalau lagi lelah dan mau menyerah. Aku butuh teman yang bisa ngingetin lagi tujuan kenapa aku memilih masuk kampus ini.
Intinya aku butuh teman.
Dosenku pernah cerita kalau beneran ada loh mahasiswa yang DO bukan karena dia bodoh, tapi karena kecanduan main game online. Dan tahukah kalian kenapa dia lebih milih game online dari pada kuliah? Waktu dosenku tanya, dia bilang, “Abis temen gue cuma ada di situ”. Iya, temennya cuma ada di dunia maya aja.
Ada juga mahasiswa yang stuck waktu ngerjain tugas suatu matkul yang ngeharusin setiap orang buat sharing data padahal mahasiswa ini pinter banget dari tingkat 1 nya. Kalian tahu alasannya kenapa? Dia bilang, “gue gak bisa nyamperin orang lain, soalnya dari kecil biasanya gue yang dimintain tolong sama orang. Gue yang disamperin orang”.
Miris kan?
Masih banyak lagi kasus orang-orang yang sebenarnya cerdas banget tapi kesulitan berkomunikasi dan bersosialisasi.
Menurutku, masa kuliah itu adalah masanya buat nyari teman sebanyak-banyaknya. Aku pernah kenal sama satu anak waktu ikut kepanitiaan AMI. Dia bilang kalau salah satu targetnya selama kuliah di ITB, followers instagramnya nambah 1000. Kocak emang, tapi bagus juga. Alasannya, followers instagram itu bakal berbanding lurus dengan banyaknya kenalan dia di kampus.
“Membangun relasi itu penting, salah satu caranya, ya follow ig gue”, katanya gitu. Haha.
Kalau kata dosenku,
“cari temen sebanyak-banyaknya di kampus. Karena bisa jadi temen kalian sekarang adalah partner kerja kalian di masa depan. atau bisa jadi ketemu partner hidup juga kan?”.
Iya, bapak itu bener banget. Bisa juga jadi partner hidup di masa depan. haha.
Menurutku, masa kuliah itu adalah masa nya melatih soft skill juga. Melatih gimana caranya kerja sama dengan orang lain, melatih cara berpikir dan menyelesaikan masalah, dan masih banyak lagi yang bisa kita dapatkan selain belajar aja di kelas.
Lagi-lagi menurutku, kalau kamu cuma mau pinter dan jago di salah satu bidang, kamu gak perlu cape-cape kuliah. Kamu bisa belajar dimana aja. Lewat internet dengan segala kecanggihannya, lewat buku-buku yang bisa kalian beli di toko buku atau cari pdf nya, atau berguru ke masternya langsung. Tapi aku rasa softskill itu gak bisa dibangun kalau kita cuma belajar sendiri tanpa praktek langsung. Kalau terjun langsung ke lapangan. Ya, dalam hal ini lingkungan kampus. Jadi, saranku, carilah teman sebanyak-banyaknya, ikut unit, ikut diklat dan kepanitiaan terpusat buat melatih soft skill kalian.
Oh iya, satu lagi. Kalau ada teman kalian yang tiba-tiba hilang atau diem sendirian di kelas, jangan diabaikan ya. Bisa jadi mereka punya masalah yang membebani pikirannya, atau mungkin mereka bingung harus bersosialisasi dengan cara apa. Coba kalian ajak dan temenin. Rangkul mereka. Kalian tentunya gak mau kan ada temen kalian sendiri yang pinter banget tapi akhirnya memutuskan untuk berhenti hanya karena ngerasa kesepian dan gak punya temen? Pokoknya temenin, ya!
Dan buat kalian yang ngerasa takut buat mencoba bersosialisasi, coba buka diri kalian sedikit-sedikit. Percaya deh, sebenernya banyak yang mau temenan sama kalian. Dulu aku juga tipe orang yang cenderung menutup diri kok. Tapi setelah melewati banyak hal, berteman dengan banyak orang itu menyenangkan loh, percaya deh.
Yang Terakhir: Belajar!
Coba searching di google “cara dapet nilai gede tanpa harus belajar”, pasti kalian gak akan nemu jawabannya. Atau coba tanya ke mapres atau orang-orang yang (katanya sih) IP nya 4. Pasti jawaban mereka adalah belajar.
Dengan kamu memilih untuk masuk ITB, kamu pasti tahu dong konsekuensinya. Kamu harus belajar yang bener. Kalau kata dosen kimia ku, “jangan membayar kebodohan dengan harga yang mahal. Kalau emang malas dan gak niat belajar, ya gak usah kuliah sekalian.”. sakit sih, tapi bener banget. Itu salah satu kata-kata dosen yang terkenang sampai sekarang, dan salah satu alasan terkuat buat gak bolos dan tidur di kelas walaupun hati dan mata lelah.
Memang sih, katanya di sini ada dua tipe manusia. Yang pinter dari lahir, dan yang harus belajar mati-matian buat dapet nilai bagus. Tapi menurutku (yang gak pinter-pinter banget kayak mapres itu), dua kategori ini gak bisa jadi alasan dan pembenaran kalau nilai kita jauh dibawah nilai si ‘pinter dari lahir’ itu. Aku yakin anak-anak yang katanya pinter dari lahir itu juga belajar keras buat dapat nilai bagus. Bedanya, mungkin mereka udah belajar dari satu bulan atau satu tahun yang lalu, sedangkan kita (aku) baru belajar mati-matian selama satu minggu atau bahkan satu malem aja. Ya jelas lah kalau nilai kita (aku) terjun bebas, sedangkan dia terbang tinggi.
Penutup
Baru sadar kalau tulisan ini udah nyampe 10 halaman, dan rasanya masih banyak hal yang belum diceritain. Kalau masih pada penasaran, coba sendiri aja kuy!
Intinya, dunia kuliah itu gak seindah FTV ya dik adik. Tapi gak usah panik juga, gak susah-susah banget kok, asal belajar yang bener dan bahagia. Kalian masih bisa nongkrong cantik di café atau main bareng temen kok walaupun kuliah disini.
Tapi mainnya setelah selesai ujian ya. Hehe.
P.S. Kalau ada waktu, tulisan ini bakal aku koreksi lagi,
udah malem, faza udah setengah tidur.
Ditengah kewajiban belajar buat UTS 2,
Bandung, 27 April 2017
Faza Lisan Sadida,
16716110 (yang bentar lagi jadi 13316XXX)
See ya!













