Anekdot Sore Ini “Ruko”
Genangan air hasil limpasan hujan masih menggenang di konblok komplek ruko yang memanjang, malas untuk mengalir pergi ketempat lain yang lebih rendah. Ruko-ruko yang disulap menjadi kantor menunjukkan betapa besarnya aliran uang yang mengalir tanpa memandang kondisinya yang biasa-biasa saja, malah terkesan agak kurang terawat. Bisnis yang bersumber dari sini sangat luar biasa cuannya, berapa miliar rupiah yang dihasilkan akibat hebatnya perputaran uang dari dan ke sini. Sekelebat suara burung terdengar, burung camar, burung wallet, burung gereja, suaranya bercampur, apalagi jika sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB.
Suasananya hening, kondusif. Sisa-sisa terkaman COVID-19 masih terasa sangat kuat. Banyak kantor yang tertidur, lusuh tak diurus, parkirannya yang diblok oleh kendaraan-kendaraan dari perusahaan lain. Ada Gedung yang terlihat reyot, namun sebenarnya itu adalah eks Gedung kantor dari firma hukum. Ada juga yang direnovasi, bekas Gedung Kadin yang entah siapa yang lanjut menggunakannya lagi. Kondisi parkiran di sebelah barat kompleks seperti biasa penuh kendaraan parkir, sementara yang tidak dapat parkir akan merapat ke parkir tingkat yang ada di tengah-tengah komplek.
Jika Anda lihat parkiran tingkatnya, rasanya keinginan membredel kendaraan akan menggebu-gebu. Bagaimana tidak, kendaraan yang berdebu ada saja di setiap lantai, bahkan ada yang plat nomornya menunjukkan tahun 2014! Kondisi parkirannya gelap, beberapa tempat ada kotoran burung, serta genangan air yang mengalir entah dari mana. Lantai teratasnya terlihat kosong, agak kotor karena catnya sudah pudar, serta munculnya lumut-lumut di beberapa bagian khusunya pojokan dan juga dekat pintu masuk lewat tangga. Bukan tempat yang nyaman buat jadi lokasi retret jika merasa suntuk seperti yang kita bayangkan di film-film.
Loaksi komplek ruko ada di ring 1, membuatnya sangat sulit dicapai apabila sudah ada demonstrasi. Jangan kaget jika polisi masuk kesini hanya buat numpang makan dan menghindari panas akibat menjaga lingkaran istana yang jarang diisi oleh pak presiden yang sibuk keluar kota. Soal macet jelas, lokasi mana yang tidak macet di Jakarta apalagi jam pulang kerja? Meski seberangnya teduh, hawa panas sangat kentara rasanya jika Anda siang-siang berdiri di trotoar depannya, ibarat rindangnya bagian depan Setneg tertiup panasnya ibukota. Untungnya, tempat ini dekat dengan akses Transjakarta yang bisa mengakses kemana saja, tanpa harus transit lagi dan berdesak-desakan seperti teri.
Hal menyenangkan dari berkantor disini adalah lokasinya yang ada di pusat kota dan cuma 10 menit dari tempatku tinggal. Datang saat mepet jam masuk kantor? Tenang, jika sudah lewat Atrium Senen maka jalan lancar jaya. 10 menit kuhitung jika bawa motor, naik ojek online, bahkan dengan Transjakarta sekalipun. Lokasinya yang strategis juga jadi kelebihan, bayangkan ke Sudirman-Thamrin hanya putar balik dan tinggal lurus saja. Istana negara dengan teropong sudah kelihatan. Monas? hanya selemparan batu dari depan komplek.
Namun, hal yang paling membuat tempat ini berkesan adalah seberapa kerasnya aku bekerja, menjadikan tempat ini patokan jika bepergian. Setiap dinas luar, tempat ini jadi awalannya. Menghitung jarak, ya tempat ini jadi pusatnya. Belum lagi bagaimana aku harus menahan kantuk dan gigitan nyamuk demi sampai kesini, hanya untuk berangkat ke Subang supaya tidak terlambat, oh belum ditambah kondisi berpuasa. Luar biasa sekali perjuanganku bekerja. Kantor ini jelas menjadi saksi bagaimana aku mencari sesuap nasi, belajar soal dunia kerja, bahkan harus menahan nafsu dan membuang kenyamanan demi menyelesaikan pekerjaanku.
Akhirnya, aku harus mengucapkan terima kasih kepada komplek ruko yang telah menjadi saksi perjuanganku menjadi kelas pekerja perdana di Jakarta, saksi bagaimana pikiranku diperas, emosiku dipancing, semangatku disiram air, bahkan impianku dirujak. Jika boleh aku memberi hadiah, maka Gedung-gedung ini adalah yang pertama aku berikan kado, karena jasanya menjadi pengamat jauh lebih besar ketimbang individu lain. Entah sampai kapan komplek ini akan dipakai, tapi yang jelas aku selalu berharap tempat ini akan diperbaiki, diperindah, dan dibuat menjadi tempat yang nyaman di kemudian hari.
Semoga banyak yang sadar akan betapa besarnya jasa tempat ini demi karir, cita-cita, dan masa depan mereka, sehingga mereka selalu bersyukur akan tempat ini.












