Tetot-tetot Penjual Siomay
Malam baru saja selesai hujan. Dari sore tadi, yang hujannya hanya gerimis. Suara itu dari samar hingga jelas, mengelilingi komplek. Penjualnya pun tak teriak "siomay", hanya bunyi tetot-tetot terompetnya saja. Satu, dua, tiga.... Sudah Enam putaran! Entah itu penjual yang sama atau bukan. Aku hanya mendengarnya dari balik pintu rumah. Sayangnya belum lapar, masih aku urungkan untuk membeli seporsinya. Jika ketujuh kalinya tetot-tetot itu berbunyi, tandanya ada penjual siomay lewat. Maka perutpun mulai waktunya berdemo meminta asupan makanan. Beruntunglah nanti penjual siomay itu, akan ada yang berniat membuka pintu rumah dan memberhentikan lajunya. Tetot-tetotnya tak sia-sia. Ada seporsi siomay yang akan terjual. Tanpa lelah, tanpa putus asa. Bahwa yang milik pun tentu akan datang menunggu waktu yang tepat. ... Seperti mengejar kekasih idaman bukan? Yang terus-terusnya berbuat, meyakinkan tentu akan mendapatkan yang diinginkannya. Hanya saja, jika berhenti terlalu dini bisa saja orang lain yang baru saja berusaha akan beruntung mendapatkannya. Jangan sampai. Hanya perlu waktu yang tepat untuk membuka hatinya, saat ia butuh sesuatu yang menurutnya kosong. Jangan menyerah hanya karena diabaikan, suatu saat akan ia hiraukan hadirmu.













