Menikah, perempuan apa harus bisa masak?
Akhirnya aku sharing dan membuat sebuah tulisan. Terinspirasi pertanyaan dari mba @iradatira, jawabannya bisa berbeda-beda dari setiap orang. Tergantung bagaimana kondisi dan kebutuhan masing-masing pasangan yang dijalani saat ini, juga melihat dari latarbelakang keluarga keduanya.
Bisa masak sebelum menikah itu nggak harus, karena bukan kewajiban seorang perempuan harus bisa masak. Dalam syariat agama juga enggak kok. Namun percayalah, ketika kita masak untuk suami, ada kepuasan tersendiri dan menciptakan keharmonisan. Eak apasih.
Jujur, aku sebenarnya nggak suka masak. Pokonya nggak suka wkwk. Cuma sekarang berusaha cinta dulu sama masak. Daridulu nggak pernah bantuin mama masak, karena ya mama juga jarang masak. Itu latarbelakang keluargaku, yang tidak begitu masalah soal makanan. Pas mama sibuk dan nggak ada makanan di rumah? Ya tinggal bikin apa kek gitu, sendiri, atau beli. Kami seringnya gitu.
Sampai dua tahun terakhir kuliah, aku tinggal di asrama tahfidz milik dosenku di kampus. Disana aku mulai belajar masak karena bantu ibu masak (istri ustadzku). Bener-bener dari awal yang nggak tau apa-apa. Bumbu dapur, nama sayur mayur, jenis ikan, cara goreng, cara nguleg, motong, dll. Sudah berapa kali kayanya aku dimarahin gara-gara gak becus wkwkwkw. Tapi dari sini, aku mulai bisa basic skill memasak.
Semasa awal pandemi kemarin, aku belajar masak sambil nyontek resep di google atau youtube, meski sering gagal juga hehe. Sampe stress sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk nggak masak lagi wkwkwk karena aku nggak suka, capek wkwk.
Ketika menikah, suamiku juga tidak mempermasalahkan hal ini. Kadang aku juga minta maaf, aku sering nggak bisa ngapa-ngapain. Dia pulang kerja capek, aku kadang nggak bisa nyiapin makanan sesuai seleranya.
Kata dia menghiburku, "mending kamu ga bisa ngapa-ngapain, tapi kamu mau ngapa-ngapain dan berusaha. Daripada bisa ngapa-ngapain, tapi kamu nggak mau ngapa-ngapain."
Kadang suamiku yang masak, justru dia lebih jago masak dibandingkan aku hehe. Tapi, kadang kami juga beli kok kalau males masak.
Berbeda dengan latarbelakang keluarga suamiku. Dia suka makan. Mamanya jago masak pokonya lah. Sering belanja besar untuk stok atau masak keluarga. Semua keluarga besarnya seringkali memuji masakan mama mertuaku. Suamiku yang anak bungsu ini dari kecil terbiasa dimanja dan serba disiapkan. Apalagi umurnya lumayan jauh dengan kedua kakaknya. Dia bener-bener anak mama lah wkwkwk.
Kebiasaan ini tentunya masih melekat dalam diri suamiku. Selalu ingin diperhatikan, dilayani, dan disiapkan. Sangat berbeda jauh denganku yang nggak suka ngerepotin orang, apa-apa sendiri, dan kalo bisa dilakuin sendiri yauda nggak minta tolong orang lain.
Meski terkadang ia memaklumi masakanku, aku paham dia pastinya ingin aku bisa masak sesuai seleranya (karena selera orang kalimantan dan jawa timur berbeda, ini sungguh tantangan). Walaupun aku nggak sejago mamanya, aku selalu berusaha menyenangkan dia, walaupun kadang masakanku aneh wk
Alasan kenapa sekarang aku belajar masak terus adalah..
Yang pertama, berhemat. Hidup di pelosok kalimantan yang jauh dari sumber kebutuhan pokok menjadikan bahan pangan sampai barang disini mahal. Harga bisa dua sampai tiga kali lipat dari jawa, atau selisih sekitar 5-30rb per item dan itu lumayan kalau dikalkulasi. Hemat cerita, kami ingin menabung jangka pendek dan jangka panjang untuk keperluan mendatang.
Yang kedua, ingin menyenangkan suami. Biar dia merasa diperhatikan, ada yang dikangenin di rumah dan pengen pulang terus, yaitu masakan istri wkwkwkkkwkwwk ini belum terwujud sih soalnya masih belajar masak hehe.
Yang ketiga, biar suami nggak sering jajan aneh-aneh di luar. Dia suka banget jajan, ya Allah. Beda sama aku yang ga begitu masalah soal makanan. Btw, terlalu sering makan makanan instan atau jajan di luar juga ngga baik. Pernah dia sampai diare gara-gara abis beli gorengan di luar dan suka minum minuman kemasan.
Yang keempat, kalau sudah punya anak nanti, pengennya mereka selalu kangen masakan mamanya. Mamaku yang ga jago masak aja, aku sering kangen masakan mama hehehe.
Yang kelima, karena masakan di kalimantan banyak yang belum cocok sama lidahku, mau gak mau aku ya masak sendiri meski kadang masakanku failed huhu.
Udah, mungkin segitu sharing soal 'haruskah perempuan bisa masak'. Semuanya kembali pada keinginan dan kondisi masing-masing ya. Semoga apapun yang kita lakukan, diniatkan sebagai sarana ibadah. Karena ibadah setelah menikah itu banyak, nggak harus di atas sajadah mulu kok :)
Kalo belum menikah, coba sebelumnya komunikasikan soal masak memasak ini supaya clear di awal.
Semangat untuk para perempuan yang belum menikah atau sudah menikah!